SLEMAN, BERNAS.ID – Uni Eropa dan Indonesia saat ini sedang membicarakan kesepakatan kerjasama dalam berbagai bidang. Kerjasama yang disasar seperti perdagangan, ekonomi, investasi, dan pendidikan.
Uni Eropa melalui duta besarnya di Indonesia telah bertemu sejumlah kepala daerah dan perwakilan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) untuk mendengarkan kisah mereka di tengah Pandemi Covid-19 dan membahas iklim bisnis.
Duta Besar Uni Eropa, Vincent Piket sangat berharap pembicaraan kesepakatan segera mencapai kata sepakat karena akan memberi dampak yang menguntungkan antara kedua belah pihak. “Uni Eropa ingin segera menyelesaikan kesepakatan itu secepat mungkin dengan Indonesia karena dampaknya akan menghasilkan pemasukan yang besar antara kedua pihak,” katanya, Senin (19/4/2021).
Berdasarkan kajian dampak, Vincent menyampaikan, dari kerjasama tersebut akan memberikan pemasukan yang sangat besar ke kedua belah pihak. Namun, akan lebih besar dirasakan Indonesia karena akan mendapat pemasukan sebesar 2 milyar US Dollar (29 triliun rupiah) per tahunnya. “Dengan adanya pemasukan, akan ada lapangan pekerjaan yang lebih banyak,” ucapnya.
“Kesepakatan ini akan banyak membantu Indonesia dan Uni Eropa untuk pulih dari Pandemi Covid-19,” imbuhnya.
Vincent mengatakan, pemulihan ekonomi setelah pandemi harus dilakukan dengan pemulihan ekonomi hijau atau ramah lingkungan sehingga kerjasama dengan Indonesia harus memiliki agenda kerjasama ekonomi hijau yang menargetkan pada iklim dan energi terbarukan. “Memastikan kita bekerja untuk perubahan iklim yang baik secara global,” katanya.
Jika kesepakatan tercapai, Vincent menyebut barang-barang dan jasa dari Indonesia akan bisa dipasarkan di pasar Uni Eropa dengan tarif nol. Tarif nol akan membuat Indonesia lebih kompetitif daripada negara-negara yang tidak memiliki perjanjian perdagangan bebas dengan Uni Eropa. Kemudian, liberalisasi di bidang keuangan, medis, dan pendidikan. Bahkan, bidang layanan digital di Indonesia akan tumbuh secara cepat sehingga akan menjadi solusi yang sangat ampuh untuk kedua belah pihak berdasarkan kajian dampak.
Dampaknya, akan membantu Indonesia untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi dengan memperoleh income besar karena Indonesia merupakan negara berkembang yang ekonominya tumbuh cepat. “Kesepakatan ini akan memberikan peraturan yang stabil dalam perdagangan dan investasi jangka panjang sehingga dalam 10-20 tahun mendatang, kita bisa mengandalkan peraturan tersebut, baik perusahaan yang berinvestasi di Indonesia atau sebaliknya,” bebernya.
Vincent menyampaikan saat ini, ada 1.100 perusahaan dari Uni Eropa di Indonesia dengan 1,5 juta karyawan dari Indonesia. Perusahaan ini akan menetap dalam waktu lama, bukan 1 proyek lalu selesai. “Tahun 2030-2045, perusahaan tersebut akan bisa memberi kontribusi yang besar buat Indonesia. Sebab, di Uni Eropa yang mampu beradaptasi secara cepat dengan perubahan adalah perusahaan kecil dan menengah. Menariknya, perusahaan-perusahaan tersebut yang berada di Indonesia sekarang ini,” paparnya.
“Perusahaan kecil dan menengah akan sangat cocok untuk melakukan transfer pengetahuan, skill, dan teknologi sebagai bentuk investasi,” imbuhnya.
Selain itu, akan ada kemudahan terhadap akses modal atau pendanaan untuk investasi melalui suatu project dengan perusahaan di Indonesia. “Akan ada transfer teknologi dan kemampuan (skill). Kami sangat berkomitmen agar kesepakatan bisa disepakati secepatnya,” katanya.
Dalam kunjungan ke Yogyakarta, Duta Besar Uni Eropa telah bertemu dengan perwakilan dan Rektor UGM pada hari Senin (19/4/2021). Setelah itu, Selasa (20/4/2021) akan bertemu dengan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, Wakil DPRD DIY, dan Kadin DIY. (jat)
