SLEMAN, BERNAS.ID – Di usianya yang masih muda, siapa sangka, dari kedua tangannya sudah memvaksin ribuan warga Sleman di masa pandemi Covid-19. Namanya, Faradila Putri Permatahati (25), vaksinator dari Puskesmas Sleman.
Dila, sapaan akrabnya, mengatakan kemauannya untuk menjadi vaksinator karena ingin menyukseskan program Pemerintah untuk penanganan Covid-19. “Ini sudah merupakan amanah, tugas negara. Bidang kesehatan menjadi tanggungjawab bersama, tapi tenaga medis garda terdepan di era pandemi ini,” jelasnya kepada Bernas.id, Sabtu (23/5/2021).
Sebelum ditugaskan menjadi vaksinator, ia menjalani pelatihan selama 3 hari (15-17 Februari 2021) tentang tata laksana vaksinasi Covid-19 bagi vaksinator di fasilitas kesehatan secara e-learning oleh Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Semarang. “Setelah pelatihan itu, ya langsung terjun ke lapangan untuk pelaksanaannya, learning by doing,” katanya.
“Sampai sekarng masih belajar dan terus belajar karena petunjuk teknisnya berubah-ubah,” imbuhnya.
Dila mengatakan untuk menjadi vaksinator tidak memerlukan persyaratan khusus yang penting dilakukan tenaga kesehatan. “Kemarin yang dikirim pelatihan hanya beberapa saja, tetapi karena kami kerja secara tim, kami nakes yang dilatih menyampaikan materi pelatihan kepada teman-teman petugas suntik lain,” ucapnya.
Baca Juga : Kemantren Gondomanan beri Vaksinasi Covid-19 bagi Lansia dan Tokoh Kampung
Persiapan yang dilakukan sebelum melakukan vaksinasi, ia menyebut sarapan terlebih dahulu agar stamina lebih prima dan pikiran fokus. “Yang lain mempersiapkan Alat Pelindung Diri (APD), mempersiapkan kesiapan tim, tempat vaksin, peralatan dan perlengkapan vaksin yang tentunya sudah dipersiapkan bersama dengan tim yang bertugas saat itu,” bebernya.
Kadangkala, ia pun menjumpai warga yang takut divaksin. “Ya pernah, tapi pertama, kita tanyakan dulu apa alasannya takut divaksin. Kami luruskan apa yang menjadi keragu-raguan pasien dan menjelaskan apa sih manfaat vaksinasi Covid ini, buat apa tujuannya, dan efek samping. Kadang masyarakat takut karena kurang pemahaman dari berita,” jelasnya.
Untuk kendala vaksinasi, Dila pernah mengalami alat suntik atau spuit yang rusak. “Lalu, karena pelaksanaan vaksinasi ini administrasinya berbasis aplikasi kadang terkendala sistem aplikasi yang error atau sinyal yang jelek sehingga menghambat pelayanan, lalu antrian mengular,” paparnya.
Ia pun bersyukur selama menjadi vaksinator pihak keluarga mendukung. “Orangtua juga tenaga kesehatan sehingga sangat paham dengan tugas dan tanggungjawab yang sedang dijalani sekarang,” katanya.
Muncul perasaan takut menjadi vaksinator vaksin Covid-19, ia mengatakan tidak ada karena menurutnya, yang penting menjalankan tugas sesuai SOP, proteksi diri menggunakan APD dengan benar, disiplin prokes, dan cuci tangan.
“Untuk suka dukanya menjadi vaksinator, senang karena diberi amanah bertanggung jawab di program vaksinasi Covid-19 dan dukanya, merasa sedih kalau sasaran yang diundang dengan sasaran yang bersedia datang divaksin tidak sebanding, misal yang diundang 200 orang yang datang 100 orang,” tuturnya.
Dila pun berharap agar masyarakat semakin menyadari tentang pentingnya vaksinasi Covid-19 sehingga semakin banyak masyarakat yang bersedia melakukan vaksinasi. “Mari sukseskan vaksinasi Covid-19,” tutupnya. (jat)
