YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Lebih dari setahun, pandemi Covid-19 melanda dunia. Virus corona itu telah mengubah setiap lini kehidupan, termasuk cara kita berinteraksi dengan manusia lainnya.
Dalam dunia kerja, petinggi perusahaan mulai menyusun pendekatan terhadap kehidupan dan bisnis yang dikombinasikan dengan temuan-temuan sebelum dan selama pandemi.
Untuk beradaptasi dengan situasi, sejumlah perusahaan menerapkan work from home atau bekerja dari rumah. Sebagian lagi menerapkan shift sehingga tiap karyawan secara bergilir bisa bekerja di kantor, dan sebagainya.
Lalu, apakah situasi seperti ini akan bertahan hingga pandemi berakhir?
Perusahaan Konsultan McKinsey & Company menyebut, dari 100 eksekutif yang disurvei, sebanyak 90% di antaranya telah memiliki pandangan terkait sistem kerja di masa depan.
Baca Juga: Survei McKinsey: Di Era Pandemi, Banyak Perusahaan Pilih Reskilling
Beberapa mengaku akan melakukan kombinasi kerja jarak jauh dan di kantor. Tapi, 68% dari mereka belum memiliki rencana terperinci tentang sistem kerja tersebut.
“Para eksekutif yang disurvei dari berbagai industi punya alasan bagus terkait opsi kerja jarak jauh di masa depan,” tulis McKinsey dalam survei yang dirilis pada 19 Mei 2021.
“Sebagian besar menyebut, kerja jarak jauh telah meningkatkan produktivitas dan kepuasan pelanggan,” lanjutnya.
Efisiensi WFH
Pandemi membuat pekerjaan kantor menjadi lebih fleksibel karena bisa dilakukan di rumah. Para karyawan meninggalkan meja kerja mereka dan beralih ke sofa, meja makan, dan bahkan tempat tidur.
Namun, WFH mungkin tidak bisa berjalan untuk pekerjaan-pekerjaan yang masih memerlukan paper works seperti auditor, keuangan, dan lainnya, yang butuh lembar kerja dan belum terdigitalisasi.
Bambang Yapri, Praktisi HR dan Sekjen DPP Perhimpunan Manajemen Sumber Daya Manusia (PMSM) Indonesia, mengatakan pandemi menjadi titik di mana perusahaan bisa menganalisis bagian mana yang sebenarnya tidak perlu dieksekusi di kantor.
“Nantinya akan terurai karena dengan proses digitalisasi dan sistem yang telah dibuat sudah bisa memungkinkan untuk bekerja dari mana saja,” katanya kepada Bernas.id pada Rabu (26/5/2021).
“Akan ada beberapa working arrangement hasil dari situasi yang awalnya terpaksa (adaptasi dengan pandemi) itu, sebagian jadi terbiasa dan melihat itu jauh lebih efisien dan efektif,” imbuhnya.
Dia menyebut, efisiensi WFH terlihat pada situasi di Jakarta dan kota besar lainnya. Misalnya di Ibu Kota, seorang karyawan yang tinggal di daerah penyangga biasa butuh waktu 3-4 jam untuk pergi-pulang kantor.
Menurutnya, waktu tempuh dari rumah menuju kantor itu bisa dikonversikan untuk aktivitas keluarga atau pekerjaan.
“Memang tidak akan kembali seperti saat pandemi, tapi nantinya (pasca pandemi) akan termodifikasi dengan kondisi yang sudah jadi proses pembelajaran untuk karyawan dan perusahaan,” ujar Bambang.
Baca Juga: McKinsey: Ada 3 Cara agar Perusahaan Digital Tidak Ditinggal Konsumen Pasca pandemi
Lebih lanjut, dia memperkirakan kondisi perekonomian akan jauh lebih kondusif lagi dalam dua hingga tiga tahun ke depan.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia sepanjang 2020 terkontraksi minus 2,07%. Pandemi membuat Indonesia terjebak dalam jurang resesi atau kemerosotan.
Meski begitu, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan perekonomian dalam negeri mulai pulih. Dia menyebutkan, tingkat kepercayaan masyarakat telah berada di level optimis.
Dari penjualan retail, terlihat adanya pemulihan konsumsi masyarakat pada Maret dan April 2021. Kemudian, konsumsi listrik tumbuh 6,3% pada April 2021 secara year-year (yoy).
Surplus perdagangan tercatat sebesar US$7,7 miliar sejak Januari-April 2021. Selain itu, belanja negara juga tumbuh 15,9% (yoy) atau mencapai Rp723 triliun hingga akhir April 2021.
