Muda dan nekat adalah hal tepat untuk menggambarkan sosoknya. Muhammad Farras, pemuda asal Bantul yang dapat dibanggakan. Siapa sangka, Farras yang masih berusia sangat muda ternyata co-founder dari sebuah startup asal Korea yaitu DamoGO.
Berawal dari SMA 2 Bantul menuju Korea University tentu tidak berjalan mulus seperti yang dibayangkan. Farras, awalnya bercita-cita masuk Institut Teknologi Bandung, sayangnya laki-laki berkulit sawo matang ini tidak berhasil lolos.
Tak berhenti disitu, Ia mencoba beberapa Universitas negeri lainnya. Ia diterima pada salah satu universitas Jawa Tengah. Namun, untuk memenuhi hasrat ingin berkembang lebih, Farras mencari beasiswa lewat internet. Hal tersebut membuahkan hasil, universitas dari beberapa negara menerimanya sebagai mahasiswa. Pada waktu itu, Farras menetapkan pilihannya pada Korea University. Farras masuk jurusan gabungan sipil dan arsitektur lingkungan.
Berawal dari pengalamannya yang sering melihat sekitar membuang dan kelebihan makanan. Farras mencoba berkeliling untuk melihat restoran di Seoul. Ternyata masalahnya sama. Banyak restoran yang belum bisa menyalurkan kelebihan makanan tersebut. Berakhir dengan membuangnya. “Saya rasa dari keresahan tersebut, masalah ini harus diselamatkan, pikir saya saat itu” tandasnya. Berkat pengalaman ini, Farras mencetuskan ide menjadi startup pengelolaan limbah makanan yaitu DamoGO.
Farras, akhirnya memperluas misinya ke Indonesia. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki populasi terbanyak dunia. Semakin banyak populasi maka semakin besar pula sampah makanan yang diciptakan. Indonesia bertanggung jawab atas kurang lebih 350 kg sampah makanan setiap harinya. Tak seperti tempat usaha makanan Korea yang mulai sadar akan sampah makanan, menurutnya di Indonesia ada banyak tantangan menularkan kesadaran tersebut. “Tantangannya paling sulit adalah kultur. Kita tidak biasa memikirkan jumlah konsumsi makanan sehari-hari” tandasnya.
Hal tersebut terjadi bukan hanya pada individu tetapi juga pemilik usaha makanan. “Kita sih akan terus mengedukasi baik individu dan pemilik usaha makanan agar dapat menyalurkan makanan berlebihnya dengan tepat” tambahnya kepada tim Bernas.id
Ajak Kita Habiskan Makanan
Farras sebagai co-founder DamoGO tidak hanya ingin menjalankan bisnis dan mengambil keuntungan. Ia juga bertujuan mengajak masyarakat untuk sadar dengan makanan yang dikonsumsi. Farras berharap masyarakat habiskan makanan setiap harinya. Agar makanan berlebih tak dibuang percuma.
Farras membuat beberapa gerakan untuk mendukung usahanya dalam memerangi limbah makanan. Ia mengajak beberapa komunitas lokal terutama di Yogyakarta, menyuarakan habiskan makanan dan anti food waste. Bekerja sama dengan dapur dalam bentuk charity membagikan makan bagi buruh gendong di pasar tradisional, juga dilakukan. “Memang gerakan kita saat ini lebih sering berkolaborasi dengan komunitas lokal di Yogyakarta yang punya visi sama terhadap keberlanjutan pangan” tandasnya.
Kegiatan lainnya adalah menyuarakan kampanye lewat media sosial untuk mengedukasi dan mengajak teman-teman muda habiskan makanan. “Kita juga membuat campaign lewat sosial media dengan tagar #dihabisin #makananbaik” tandasnya.

Selain untuk mengajak masyarakat sadar akan habiskan makanan. Lewat kampanye tersebut, Farras ingin mengedukasi masyarakat bahwa makanan baik itu tak harus terlihat cantik. “Saya ingin menyadarkan masyarakat, jika ada makanan yang mungkin tidak menarik atau terlihat kurang menggugah selera bukan berarti harus dibuang. Selagi masih belum busuk, makanan itu masih memiliki nutrisi dan gizi yang sama manfaatnya bagi tubuh” tambahnya. Farras juga membangun kesadaran tentang habiskan makanan dan isu pangan lewat beberapa media lokal. Laki-laki asal Bantul ini berharap lewat startup yang dikembangkan, semakin banyak individu dan pengusaha makanan yang sadar akan limbah makanan dan keberlangsungan pangan kedepannya.
