YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Jelang Idul Fitri 1442 H saat ini pusat-pusat pembelanjaan mulai dibanjiri pengunjung. Muhammadiyah menganggap hal ini mengkhawatirkan sebab
saat ini pandemi COVID-19 belum juga reda.
Haedar Nashir selaku Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyampaikan, saat ini India mengalami gelombang besar Corona fase kedua yang bahkan menjadi kecemasan dunia, sampai banyak negara menutup kunjungan dari negeri Asia Selatan tersebut. Begitu juga Malaysia, yang mengalami lonjakan COVID-19 yang tinggi. Apalagi dengan informasi munculnya COVID-19 varian baru.
“Kondisi ini perlu menjadi peringatan serius semua pihak, termasuk warga masyarakat di negeri ini,” kata Haidar, Kamis (6/5/2021).
Ia mengingatkan, setahun wabah COVID-19 dampaknya sangat luas, tidak kecuali dampak ekonomi. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data jumlah penduduk miskin setelah setahun pandemi yang berjalan, bertambah 2,76 juta. Untuk mengatasi penambahan jumlah kemiskinan tersebut, tentu menurut Haedar bukan masalah sederhana.
“Betapa berat beban hidup saudara-saudara sebangsa yang mengalami derita hidup serba berkekurangan dan keterbatasan, hanya untuk memperoleh sesuap nasi setiap hari pun sungguh berat, meski mendapat bantuan sosial,” tutur Haedar.
Karena itu ia mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk berempati dan peduli pada saudara-saudara sebangsa yang terpapar COVID-19 dengan kondisi psikologisnya. Terlebih bagi yang meninggal dan keluarga yang kehilangan orang-orang tercinta.
“Demikian pula beban para dokter, tenaga kesehatan, sukarelawan, dan pengelola rumah sakit yang harus bertugas ekstra keras di garda depan sekaligus menjadi benteng terakhir melawan pandemi yang dahsyat ini. Pernahkah terpikir, betapa di antara kita tidak terasa sudah kehilangan orang-orang terdekat yang tidak sapat berjumpa lagi karena menghadap Tuhan terkait wabah COVID-19 ini?” ucap Haedar.
Baca Juga : Muhammadiyah Minta Warga Tak Tolak Jenazah Positif Corona
Ia juga mengimbau bahwa bagi kaum muslim penting menunjukkan suri teladan atau uswah hasanah. Puasa Ramadan bagi setiap muslim dapat dijadikan jalan rohani pengendalian diri, antara lain tetap waspada dengan wabah COVID-19.
“Tetapi jangan berlebihan dengan belanja dan aktivitas lainnya yang melampaui kemestian, apalagi dengan berkerumun. Idul Fitri harus tetap dijalani sebagai satu rangkaian dengan puasa Ramadan. Lebih-lebih situasi pandemi yang belum reda. Kedepankan kesahajaan, jauhi keberlebihan karena Allah tidak menyukai hamba-hamba yang melampaui batas,” katanya.
Ia menambahkan, kegiatan ibadah yang melibatkan kerumunan juga sebaiknya dihindari dan ditempuh cara yang juga dibolehkan syariat Islam di kala darurat.
“Jangan merasa aman dan terbebas dari pandemi. Kaum muslim dapat menjadi uswah hasanah dalam keadaan normal lebih-lebih di kala darurat. Jauhi sikap ananiyah (egois) dan ghuluw (ekstrem) dalam beragama dan menyambut Lebaran. Shalat sunnah Idul Fitri pun perlu super hati-hati, kalau tidak memungkinkan sebaiknya dilakukan sangat terbatas di sekitar lingkungan atau di rumah tanpa melibatkan jamaah yang banyak,” tandasnya. (den)
