SLEMAN, BERNAS.ID – Kabupaten Sleman mendapat teguran sebanyak empat kali oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) karena munculnya banyak kluster COVID-19 di tingkat dusun. Saat ini, Sleman dinyatakan sebagai zona merah Covid-19.
Sekretaris Daerah Sleman, Harda Kiswoyo mengatakan teguran Sri Sultan Hamengku Buwana X sebagai teguran bapak kepada anak. Ia menindaklanjuti dengan evaluasi sampai tingkat Kelurahan. “Kemarin kita sudah evaluasi karena memang harus ada yang diperbaiki, utamanya dari Satgas Covid-19 tingkat Kabupaten, tingkat Kapanewon, dan tingkat Kalurahan,” jelasnya di Kompleks Kabupaten, Rabu (2/6/2021).
“Kita perbaiki komunikasinya agar bisa mengimplementasi SOP. Insyaallah, pencegahan Covid-19 semakin baik, terutama disiplin masyarakat. Kita siap ditegur,” imbuhnya.
Untuk kondisi keuangan di Sleman, Harda mengatakan masih ada ketersediaan dana, baik dari kesehatan maupun sosial. Ia menyebut tak perlu khawatir. “Peran kita semua untuk mendidik masyarakat masih sangat kita perlukan karena psikologis masyarakat harus kita bangun dan kuatkan agar menjadi kekuatan imun. Saya juga ingin media menulis berita-berita yang menambah kekuatan psikologi masyarakat,” imbuhnya.
Terkait virus Covid-19, Harda menjawab sejauh ini belum ada penelitian tentang masuknya varian baru tersebut. Ia mengatakan belum ada data empiris varian baru ada di Sleman.
Baca Juga : Sultan Menduga Banyak Klaster di Sleman Karena Ego Warga yang Tinggi
Kepala Dinas Kesehatan Sleman, Joko Hastaryo mengatakan, pihaknya saat ini sedang menangani kejadian klaster-klaster yang muncul di beberapa dusun. “Semua sedang dalam proses penanganan, warga yang positif sudah dilakukan treatment, baik di RS, di shelter Asrama Haji, dan Rusunawa Gewamang,” jelasnya.
Untuk yang isolasi mandiri di rumah, Joko menambahkan sudah dimonitor Puskesmas. “Tracing juga sudah dilakukan secara massal dan reguler dengan satu kasus positif, ada 10 sampai 15 kontak erat,” katanya.
Untuk penyebab klaster karena libur Lebaran, Joko tidak bisa memastikan secara persis. “Kalau yang betul-betul terkait Lebaran hanya di Nglempong Ngemplak. Yang lain jauh sebelum Lebaran, cuma karena tracing massal berbarengan, di Ngaglik baru ada tambahan yang muncul,” katanya.
Joko menyampaikan sampai saat ini, warga Nglempong yang masih berada di shelter Asrama Haji yang terkonfirmasi positif ada 29 pasien. Sedangkan warga dari Ngaglik, Caturharjo yang sudah selesai isolasi ada 28 pasien. (jat)
