BERNAS.ID – Ketika Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi kuartal I/2021 pada 5 Mei 2021, yang tercatat minus 0,74%, ternyata masih ada sektor yang tumbuh positif yaitu sektor pertanian.
Data sektor pertanian menunjukkan pertumbuhan positif mencapai 2,95%. Ketahanan pangan di masa pandemi dapat terlihat dari sektor pertanian yang terus tumbuh positif sepanjang 2020.
Seperti diketahui, ada sekitar 30% dari tenaga kerja Indonesia yang bekerja di sektor pertanian.
Statistik tersebut tercermin dari pencapaian yang dihasilkan oleh startup PT Ternaknesia Farm Innovation. Perusahaan platform digital yang berfokus pada bidang peternakan ini juga sempat tersungkur di awal pandemi, terutama business-to-business.
CEO dan Founder Ternaknesia Dalu Nuzlul Kirom mengatakan usaha restoran dan hotel mengalami penurunan drastis selama pandemi, yang pada akhirnya juga berdampak pada bisnisnya.
“Kita sebagai supplier, dampaknya pembayaran kita terhambat, karena rata-rata mereka tempo. Jadi ketika kena pandemi alasan untuk tidak bayar itu ada. Hal itu memukul kita secara nggak langsung,” katanya kepada Bernas.id.
Baca Juga: Ternaknesia: Modal Awal dari Orang Sekitar hingga Cita-cita Mewujudkan Kedaulatan Pangan
Sebagai informasi, Ternaknesia merupakan aplikasi yang membantu peternak menemukan investor melalui skema peer-to-peer lending melalui fitur TernakInvest.
Kemudian, ada fitur SmartQurban untuk memfasilitasi pembelian hewan kurban secara praktis, dan menggandeng peternak lokal di seluruh Indonesia.
Ada juga fitur Ternaknesia yang menawarkan kebutuhan pangan, terutama protein di wilayah Surabaya, Jawa Timur.
Perusahaan yang berdiri pada 2017 ini dirintis sebelum wabah virus corona melanda dunia, sebuah fenomena yang mengejutkan seluruh pelaku bisnis. Untuk bisa bangkit, Dalu memfokuskan lini usaha pada pasar end user atau business-to-customer.
“Pada Maret atau April 2020 malah naik karena fenomena emak-emak mengurangi belanja langsung, jadi lewat online,” ucapnya.
Meski terlihat ada harapan, nyatanya lini bisnis tersebut menemui masalah yakni urusan ongkos kirim. Masih banyak pelanggan yang keberatan dengan biaya tambahan untuk pengiriman.
Kemudian, Ternaknesia menemukan solusi untuk mengatasi hal tersebut dengan community buying, sehingga ongkir kirim bisa menjadi lebih murah.
“Jadi bagaimana mereka belinya itu dari komunitas. Jadi ketua komunitas yang mengkoordinasi pembelian sehingga bisa lebih murah, bahkan ongkir gratis,” tutur Dalu.
“Ide itu sampai sekarang jalan. Jadi penjualan kita berbasis komunitas, kita juga menjalankan offline store,” imbuhnya.
Dari situ, terlihat peningkatan omzet yang sangat besar. Menurut Dalu, kenaikannya bisa mencapai 46 kali dari biasanya.
“Ini dibuktikan data pemerintah, pangan positif per kuartal, yang lain negatif, plus ada digitalisasi,” katanya.
Kedaulatan Pangan
Bisnis ternak dengan menggandeng peternak lokal bukanlah tanpa risiko. Hewan merupakan makhluk hidup yang bisa mati sehingga diperlukan strategi agar tidak terjadi tingkat kematian yang tinggi.
Ternaknesia memiliki sejumlah pedoman untuk memastikan kandang dan ketersediaan pakan ternak sesuai dengan standar. Dengan begitu, muncul patokan jumlah kematian hewan ternak harus di bawah 2% dari total populasi.
“Jadi kalau mau mendirikan peternakan yang harus dilacak dulu adalah pakan di sekitarnya, ketersediaannya Lalu, baru berani bangun kandang,” kata Dalu
Pria lulusan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) ini ke depan ingib menerapkan asuransi untuk peternakan sapi dengan skala besar.
Di balik lahirnya Ternaknesia, ada cita-cita besar yang diharapkan oleh Dalu dan tim bisa tercapai. Dia ingin agar Indonesia menggapai kedaulatan pangan, terutama di sektor protein.
“Kalaupun nggak impor, di dalam negeri misalnya poultry atau peternakan ayam itu dikuasai perusahaan multinasional, dan bukan lokal,” ucapnya.
“Saya berharap masyarakat indonesia bisa terpenuhi proteinnya sehingga mereka sehat oleh hasil dari peternak lokal,” imbuhnya.
