Close Menu
BERNAS.id
    Berita Terbaru

    Panggung Mini, Langkah Besar: Safin Dance Studio Dorong Regenerasi Penari Muda

    June 13, 2026

    EAACI Menyerukan Masa Depan “Vision Zero” yang Bebas dari Beban Alergi dan Asma

    June 13, 2026

    Ketua Umum Gerakan Cinta Prabowo H. Kurniawan Sebut Presiden Prabowo Bekerja Bangun Bangsa

    June 13, 2026

    Kolaborasi Bank Jakarta dan Bapenda DKI di Jakarta Fair Bisa Bayar Pajak

    June 13, 2026

    Masyarakat Diajak Bergerak untuk Iklim melalui Penanaman Mangrove

    June 12, 2026
    Facebook Instagram Threads X (Twitter) YouTube TikTok LinkedIn RSS
    • Google News BERNAS
    • Tentang BERNAS
    • Redaksi BERNAS
    • Pedoman Media Siber
    Facebook Instagram Threads X (Twitter) YouTube TikTok LinkedIn RSS
    BERNAS.id
    • Home
    • Regional
      • Internasional
      • Nasional
      • Daerah
        • DK Jakarta
        • DI Yogyakarta
        • Jawa Tengah
        • Jawa Timur
    • Finance

      Kolaborasi Bank Jakarta dan Bapenda DKI di Jakarta Fair Bisa Bayar Pajak

      June 13, 2026

      Bank Jakarta Usung Visi Financial Operating System untuk Perkuat Ekosistem Kota

      June 8, 2026

      Bank Jakarta Siapkan Empat Strategi Wujudkan Kota Inklusif

      June 7, 2026

      Belanja Negara di DIY Capai Rp6,2 Triliun hingga Akhir April 2026

      June 2, 2026

      Dorong Tranformasi Digital, Bank Jakarta Raih Penghargaan Digital Brand

      May 24, 2026
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Karir
    • Lifestyle
    • Politik
    • Hukum
    • Other
      • Travel
      • Entertainment
      • Opini
      • Tokoh
      • Budaya
      • Religi
      • Lingkungan
      • Kesehatan
      • Olahraga
      • Desa
      • Beragam
        • Bernas TV
        • Citizen Journalism
        • Editorial
        • Highlight
        • Inspirasi
        • Press Release
        • GlobeNewswire
    • Channel Jakarta
    BERNAS.id
    Home»Budaya»Mengenang RM Jodjana, Tokoh Tari dari Jawa yang Mendunia, Walau Kini Tak Banyak Dikenal
    Budaya

    Mengenang RM Jodjana, Tokoh Tari dari Jawa yang Mendunia, Walau Kini Tak Banyak Dikenal

    Deny HermawanBy Deny HermawanApril 29, 2026No Comments
    Telegram WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Email
    Diskusi tentang maestro tari RM Jodjana - (foto: Deny Hermawan)
    Diskusi tentang maestro tari RM Jodjana - (foto: Deny Hermawan)
    Share
    Telegram WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Email

    YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Dalam rangka hari tari sedunia, Museum Ullen Sentalu Yogyakarta menggelar diskusi terkait penari asal Jawa, Raden Mas Jodjana, yang termasyhur di Eropa di awal abad ke-20. Sejumlah pakar dihadirkan untuk membedah sosok yang dulu sangat berpengaruh namun kini tak terlalu banyak dikenal itu.

    Pembicara pertama, sejarawan UGM Dr. Sri Margana memaparkan, Jodjana adalah putra seorang Patih di Kepatihan Jogja. Sementara ibu Jodjana adalah seorang penyelenggara upacara di Keraton Jogja. Atas desakan kepala sekolah dasar, Jodjana bersekolah di sekolah orang Eropa. Ia lalu mengikuti program pelatihan untuk pegawai negeri sipil pribumi di Magelang, hingga lulus tahun 1910.

    Jodjana lalu diangkat ke administrasi kolonial Departemen Dalam Negeri Hindia Belanda, dan di Batavia belajar Sekolah Pelatihan Ahli Hukum Pribumi. Di bidang seni, Jodjana pernah menerima pelatihan tari dari Pangeran Soerjodiningrat, saudara Sultan HB VII di akademi tari Krida Bekas Wirama.

    Pada tahun 1914, Jodjana berangkat ke Belanda untuk belajar ekonomi bersama RM Soedjadi yang kelak menjadi Sri Sultan HB VIII. Ini yang lalu mengubah jalur hidupnya.

    “Dia datang ke Belanda itu disekolahkan di sekolah dagang, tapi kenyataannya akan lain, sekolahnya dilakukan, tapi lebih suka njoged (menari),” katanya dalam acara diskusi, Rabu (29/4/2026).

    Perubahan ini dimulai tahun 1916 ketika di Jawa terjadi banjir besar. Di Belanda lalu dilakukan penggalangan dana lewat pentas seni, melibatkan mahasiswa-mahasiswa dari Jawa yang ada di Belanda. Ini adalah pertunjukan seni yang spektakuler, karena ditonton keluarga kerajaan Belanda.

    “Spektakuler, walaupun dengan kostum terbatas, dengan alat musik terbatas,” kata Margana.

    Waktu itu, Jodjana menari Tari Klono (Kelana), yang penuh kegagahan. Penampilannya menjadi geger di media Belanda, karena diulas salah satu kritikus seni terkenal Belanda. Ini menjadi titik balik dari karier RM Jodjana sebagai penari.

    “Setelah itu dia mendapat banyak sekali undangan [tampil menari] di berbagai acara,” ungkapnya.

    Situasi ini lalu membuat Jodjana menjadi kreatif untuk membuat kostum sendiri, dengan bahan seadanya, namun tetap meniru pola klasik Jawa. Yang unik, iringan tarinya di Eropa tidak memakai gamelan, namun memakai piano. Karena itu ia lalu bereksperimen menciptakan gaya tarinya sendiri, akarnya Jawa, tapi memakai iringan musik barat. Ia pun mengembangkan tariannya sendiri dengan tema yang lebih abstrak.

    “Jadi dia benar-benar bereksperimen,” ujarnya.

    Margana meneruskan, Jodjana lalu menjadi terkenal di berbagai negara Eropa. Ia lalu berkawan dengan pelukis kondang Belanda Isaac Israëls, yang banyak melukis Jodjana ketika sedang menari. Perkenalan ini yang membuat Jodjana lalu juga berkembang menjadi seorang pelukis.

    Baca juga: Keraton Yogyakarta Pentaskan Dua Tari di Tulungagung

    Tahun 1923, RM Jodjana menikah dengan perempuan Belanda, Elizabeth Pop, yang menjadi seperti penerjemah makna tari-tarinya. Setelah itu 1936 ia pindah ke Perancis, karena seni kontemporer lebih banyak berkembang , walaupun kemudian kembali ke Belanda.

    “Di Belanda ia mendirikan sekolah bersama isterinya, sekolah tari, sekolah musik,” jelas Margana.

    Tahun 1972 Jodjana meninggal. Arsip-arsipnya lalu diserahkan ke Theatermuseum in Amsterdam. Karena museum itu bangkrut, arsip lalu dipindah ke tempat penyimpanan arsip di University of Amsterdam. Total arsipnya sejumlah 15 kontainer, yang berisi dokumen dan foto, termasuk kostum, alat musik, dan alat make-up.

    “Saya menemukan arsip suara RM.Jodjana ketika nembang dhandanggula di Universitas Humboldt Berlin,” paparnya.

    Pembicara lain Prof Matthew Isaac Cohen menjelaskan, Jodjana adalah sosok sangat menarik, karena unsur estetikanya yang kontemporer, tidak hanya berbasis tari Jawa, tapi juga mengadopsi gaya tari Eropa dan India. Kiprahnya di Eropa sebagai penari Jawa modern dianggap sangat penting dalam sejarah tari dunia. Seiring berkiprah, Jodjana pun lalu menemukan karakter tarinya sendiri yang khas.

    “Bukan tari murni, tapi tari teater,” kata Matthew Cohen. (den)

     

     

     

     

     

    Share. Telegram WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email
    Deny Hermawan

    Related Posts

    Ribuan Orang Antusias Saksikan Kirab Budaya Tresna Pancasila

    June 7, 2026

    Polda DIY Selidiki Dugaan Kasus Pembubaran Kegiatan Ibadah di Bantul

    May 27, 2026

    Rujak Pare Sambal Kecombrang, Upaya Melawan Lupa Tragedi Mei 1998

    May 23, 2026

    Pameran Seni “Art is All Around” Kembali Digelar Ketiga Kalinya

    May 8, 2026

    Siswi SMA 2 Palu Wakili Indonesia di Ajang Miss Teen Culture International 2026 

    May 6, 2026

    Kakansar Palu Sampaikan Ucapan Hari Kartini 2026

    April 21, 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Internasional Terbaru

    EAACI Menyerukan Masa Depan “Vision Zero” yang Bebas dari Beban Alergi dan Asma

    June 13, 2026

    NetBox Labs Mengumumkan Platform Kecerdasan Infrastruktur dengan Kemampuan Baru yang Mencakup Seluruh Siklus Proses Jaringan dan Infrastruktur

    June 12, 2026
    Berita Nasional Terbaru

    Putri Alya Sidik, Penulis Cilik di Tengah Rendahnya Tingkat Literasi Masyarakat

    June 10, 2026

    28 Tahun Reformasi, Aktivis UJB Luncurkan Buku Sejarah Gerakan Mahasiswa

    May 21, 2026
    Berita Daerah Terbaru

    Panggung Mini, Langkah Besar: Safin Dance Studio Dorong Regenerasi Penari Muda

    June 13, 2026

    Masyarakat Diajak Bergerak untuk Iklim melalui Penanaman Mangrove

    June 12, 2026
    BERNAS.id

    Office Address :
    Jakarta
    Menara Cakrawala 12th Floor Unit 05A
    Jl. MH Tamrin Kav. 9 Menteng, Jakarta Pusat, 10340

    Yogyakarta
    Kawasan Kampus Universitas Mahakarya Asia,
    Jl. Magelang KM 8, Sendangadi, Mlati, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, 55281

    Email :
    info@bernas.id
    redaksi@bernas.id

    Advertisement & Placement :
    +62 812-1523-4545

    Link
    • Google News BERNAS.id
    • Tentang BERNAS
    • Redaksi BERNAS
    • Pedoman Media Siber
    • Kode Etik
    • Verifikasi Dewan Pers BERNAS.id
    BERNAS.id
    Facebook Instagram Threads X (Twitter) YouTube TikTok LinkedIn RSS
    • Google News BERNAS
    • Tentang BERNAS
    • Redaksi BERNAS
    • Pedoman Media Siber
    © 2015 - 2026 BERNAS.id All Rights Reserved.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.