YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Dalam rangka hari tari sedunia, Museum Ullen Sentalu Yogyakarta menggelar diskusi terkait penari asal Jawa, Raden Mas Jodjana, yang termasyhur di Eropa di awal abad ke-20. Sejumlah pakar dihadirkan untuk membedah sosok yang dulu sangat berpengaruh namun kini tak terlalu banyak dikenal itu.
Pembicara pertama, sejarawan UGM Dr. Sri Margana memaparkan, Jodjana adalah putra seorang Patih di Kepatihan Jogja. Sementara ibu Jodjana adalah seorang penyelenggara upacara di Keraton Jogja. Atas desakan kepala sekolah dasar, Jodjana bersekolah di sekolah orang Eropa. Ia lalu mengikuti program pelatihan untuk pegawai negeri sipil pribumi di Magelang, hingga lulus tahun 1910.
Jodjana lalu diangkat ke administrasi kolonial Departemen Dalam Negeri Hindia Belanda, dan di Batavia belajar Sekolah Pelatihan Ahli Hukum Pribumi. Di bidang seni, Jodjana pernah menerima pelatihan tari dari Pangeran Soerjodiningrat, saudara Sultan HB VII di akademi tari Krida Bekas Wirama.
Pada tahun 1914, Jodjana berangkat ke Belanda untuk belajar ekonomi bersama RM Soedjadi yang kelak menjadi Sri Sultan HB VIII. Ini yang lalu mengubah jalur hidupnya.
“Dia datang ke Belanda itu disekolahkan di sekolah dagang, tapi kenyataannya akan lain, sekolahnya dilakukan, tapi lebih suka njoged (menari),” katanya dalam acara diskusi, Rabu (29/4/2026).
Perubahan ini dimulai tahun 1916 ketika di Jawa terjadi banjir besar. Di Belanda lalu dilakukan penggalangan dana lewat pentas seni, melibatkan mahasiswa-mahasiswa dari Jawa yang ada di Belanda. Ini adalah pertunjukan seni yang spektakuler, karena ditonton keluarga kerajaan Belanda.
“Spektakuler, walaupun dengan kostum terbatas, dengan alat musik terbatas,” kata Margana.
Waktu itu, Jodjana menari Tari Klono (Kelana), yang penuh kegagahan. Penampilannya menjadi geger di media Belanda, karena diulas salah satu kritikus seni terkenal Belanda. Ini menjadi titik balik dari karier RM Jodjana sebagai penari.
“Setelah itu dia mendapat banyak sekali undangan [tampil menari] di berbagai acara,” ungkapnya.
Situasi ini lalu membuat Jodjana menjadi kreatif untuk membuat kostum sendiri, dengan bahan seadanya, namun tetap meniru pola klasik Jawa. Yang unik, iringan tarinya di Eropa tidak memakai gamelan, namun memakai piano. Karena itu ia lalu bereksperimen menciptakan gaya tarinya sendiri, akarnya Jawa, tapi memakai iringan musik barat. Ia pun mengembangkan tariannya sendiri dengan tema yang lebih abstrak.
“Jadi dia benar-benar bereksperimen,” ujarnya.
Margana meneruskan, Jodjana lalu menjadi terkenal di berbagai negara Eropa. Ia lalu berkawan dengan pelukis kondang Belanda Isaac Israëls, yang banyak melukis Jodjana ketika sedang menari. Perkenalan ini yang membuat Jodjana lalu juga berkembang menjadi seorang pelukis.
Baca juga: Keraton Yogyakarta Pentaskan Dua Tari di Tulungagung
Tahun 1923, RM Jodjana menikah dengan perempuan Belanda, Elizabeth Pop, yang menjadi seperti penerjemah makna tari-tarinya. Setelah itu 1936 ia pindah ke Perancis, karena seni kontemporer lebih banyak berkembang , walaupun kemudian kembali ke Belanda.
“Di Belanda ia mendirikan sekolah bersama isterinya, sekolah tari, sekolah musik,” jelas Margana.
Tahun 1972 Jodjana meninggal. Arsip-arsipnya lalu diserahkan ke Theatermuseum in Amsterdam. Karena museum itu bangkrut, arsip lalu dipindah ke tempat penyimpanan arsip di University of Amsterdam. Total arsipnya sejumlah 15 kontainer, yang berisi dokumen dan foto, termasuk kostum, alat musik, dan alat make-up.
“Saya menemukan arsip suara RM.Jodjana ketika nembang dhandanggula di Universitas Humboldt Berlin,” paparnya.
Pembicara lain Prof Matthew Isaac Cohen menjelaskan, Jodjana adalah sosok sangat menarik, karena unsur estetikanya yang kontemporer, tidak hanya berbasis tari Jawa, tapi juga mengadopsi gaya tari Eropa dan India. Kiprahnya di Eropa sebagai penari Jawa modern dianggap sangat penting dalam sejarah tari dunia. Seiring berkiprah, Jodjana pun lalu menemukan karakter tarinya sendiri yang khas.
“Bukan tari murni, tapi tari teater,” kata Matthew Cohen. (den)
