BERNAS.ID – Tahukah anda, bahwa kemashyuran dan kebesaran Kerajaan Majapahit pada jamannya tak terlepas dari baluran panji-panji GK? Bahkan nama Keraton Majapahit, tempat Maharaja Hayam Wuruk bersemayam, disebut sebagai Keraton GK.
Yah… memang GK, bukan yang lain, GK adalah Gula Kelapa atau warna sang Dwi Warna, Merah-Putih. Panji-panji kebesaran Majapahit adalah Gula Kelapa (umbul-umbul Abang Putih) bendera kerajaan yaitu bendera Gula Kelapa dan Prajurit Majapahit dinamakan Prajurit Gula Kelapa.
Empu Prapanca dalam mahakaryanya Nagarakertagama Pupuh 83: Lwir padma ng durjjana lwir kumuda sahana sang sajjanasih teke twas (Berani laksana tunjung merah, suci bagaikan teratai putih. Merah Putih).
Warna merah-putih adalah warna upacara kebesaran Raja Hayam Wuruk, Kereta pembesar–pembesar yang menghadiri pesta, bangsawan, tamu undangan dan rakyat banyak memakai warna merah-putih (Sukmono, Sejarah Kebudayaan Indonesia 2).
Dalam sejarah perjuangan bangsa, warna GK pun menjadi simbol dalam perjuangan melawan penjajah.
Ketika terjadi perang Diponegoro, tengah-tengah pasukannya yang beribu-ribu, terlihat gagah kibaran bendera Gula Kelapa, demikian juga di lereng-lereng gunung dan desa-desa yang dikuasai Pangeran Diponegoro banyak terlihat kibaran bendera Gula Kelapa.
Tuanku Imam Bonjol pengikut gerakan Paderi di Sumatera Barat banyak yang mengenakan sorban berwarna Merah dengan jubah berwarna Putih, untuk menandai gerakan perlawanan kaum Paderi terhadap Belanda.
Teuku Umar, Tengku Tjik Ditiro dan Tjut Nyak Dien, menggelorakan semangat juang rakyat Aceh dengan menggunakan bendera perang berupa umbul-umbul dengan warna merah dan putih, di bagian belakang diaplikasikan gambar pedang, bulan sabit, matahari, dan bintang serta beberapa ayat suci Al Qur’an.
Simbol GK, Gula Kelapa atau warna merah putih dipakai sebagai simbol kolektif perjuangan, padahal mereka tidak saling mengenal dan hidup di masa yang berbeda. Lalu siapakah yang menginisiasi Merah-Putih sebagai simbol Perjuangan suku-suku bangsa di Nusantara? Apakah ia muncul secara kebetulan dari kesadaran kolektif bangsa yang kemudian menjadi bangsa Indonesia?
Apakah ini muncul secara intuisi dari kearifan suku-suku anak bangsa yang mendiami di kepulauan nusantara?
Kita tidak tahu yang jelas dwi warna Merah Putih adalah Jiwa Indonesia.
Merdeka!!!
Nuwun,
Yogyakarta 17 Agustus 2018
(Penulis: Wahyu Indro Widodo, S.ST., M.Par., Komisaris PT PP Property)
