BERNAS.ID – Rangkaian pemilihan Ketua Umum Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) 2021-2024 telah memasuki tahap sosialisasi, dengan tiga orang kandidat. Mereka adalah Achmad Saifudin Mutaqi, Gregorius Budi Yulianto, dan I Ketut Rana Wiarcha.
Dalam kegiatan Visioning Tiga Kandidat Ketua Umum IAI 2021-2024 yang digelar virtual, mereka mencoba untuk menyampaikan pemikiran untuk menjawab tantangan sekaligus tanggung jawab sebagai Ketum IAI di era baru arsitek Indonesia.
Pembahasan awal berkenaan dengan etika arsitek dalam praktik berprofesi. Seperti diketahui, arsitek harus mematuhi hukum dan tunduk pada kode etik dan kaidah tata laku profesi.
Baca Juga: 3 Hal Seputar Pemilihan Bakal Calon Ketua Umum IAI Periode 2021-2024
Namun, masih ada juga yang melanggar, bahkan bertindak ceroboh hingga mencemarkan integritas dan kepentingan profesi.
Menurut Ahmad, etika merupakan norma moral tertinggi dalam praktik berprofesi. Seorang arsitek dapat dikatakan melanggar atau tidak melanggar bisa ditentukan melalui mekanisme yang telah disepakati, yakni melalui Majelis Kehormatan IAI.
“Saya kira itulah kenapa organisasi profesi seperti IAI tentu harus menjaga ini. Kita ke depan mengedepankan praktik ini yang berkeadaban,” ujarnya, dalam acara tersebut pada Sabtu (18/9/2021) yang digelar di Bandung.
Arsitek memang tidak boleh mempromosikan diri, tapi asosiasi bisa menyelenggarakan program-program, seperti sayembara, untuk menunjukkan kemampuan para arsitek.
“Itulah pentingnya organisasi ini hadir di tengah-tengah masyarakat. Saya kira, arsitek itu milik kita semua,” katanya.
Sebagai yang paling muda di antara kandidat lainnya, Gregorius Budi Yulianto menilai perlunya peninjauan kembali buku kode etik arsitek yang telah berumur belasan tahun, apalagi dengan munculnya digitalisasi.
Meski demikian, dia menilai etika menjadi yang tertinggi dalam berprofesi. Gregorius juga menyoroti tentang isu copy paste di kalangan arsitektur.
“Nothing new beneath the sun. Namun saya rasa memang upaya untuk memplagiat itu tidak hanya terhadap karya orang lain, bahkan karya sendiri yang tidak jadi dipakai itu bisa dipakai ulang,” jelasnya.
Baca Juga: Tiga Kandidat Caketum Ditetapkan, IAI Harap Partisipasi Pemilih Meningkat
Ia mengajak kaum milenial sebagai generasi penerus di asosiasi profesi untuk merumuskan kembali tafsiran dari buku kode etik dengan melibat tokoh-tokoh senior.
Sementara itu, kandidat Ketum IAI 2021-2024 I Ketut Rana Wiarcha menuturkan etika merupakan landasan mutlak dari profesi apapun di dunia. Sebagai profesi, dasar kaidah norma adalah beretika.
“Beretika dalam berprofesi adalah keniscayaan,” ucapnya.
Dia masih kerap menjumpai iklan-iklan arsitek yang tersebar di sejumlah kota di Tanah Air. Menurutnya, hal itu merupakan tamparan bagi kesejawatan. Arsitek harus menunjukkan kemampuannya melalui karya terbaik, bukan dengan cara seperti berdagang.
Peran IAI dalam menunjukkan karya terbaik itu bisa dilakukan melakukan berbagai media, seperti menyelenggarakan pameran bersama. Dengan begitu, karya-karya arsitek terhebat dari pelosok hingga kota dapat dikenal oleh masyarakat.
“Menyampaikan karya terbaiknya itu dengan tidak berdagang. Biarkan calon klien atau memberi tugas yang menilai, jadi menggunakan cara elegan dan bijaksana,” katanya.
“Memang betul media sosial merasuki kehidupan. Ini adalah ladang untuk memajang karya. Kita harus mengukur apakah ini masih dalam tatanan berdagang atau informasi sifatnya,” imbuhnya.
Baca Juga: Membangun Rumah Keadaban Praktik Arsitek ala Kandidat Ketum IAI Ahmad Saifudin Mutaqi
Sesudah melewati pemilihan bakal calon Ketum IAI 2021-2024 melalui e-vote tahap 1, kini anggota IAI mulai bersiap untuk menyumbangkan suaranya melalui e-vote 2 pada 25-28 Oktober 2021. E-vote dilakukan melalui nomor WhatsApp IAI Interaktif
Setelah Bandung, kegiatan visioning dari para kandidat akan dilanjutkan di Yogyakarta dan Bali, sesuai dengan daerah asal tiga kandidat.
Nantinya, Ketua IAI 2021-2024 akan ditetapkan pada Munas XVI IAI di Bali yang digelar pada 27-29 Oktober 2021, bertajuk Menuju Paradigma Baru Arsitek Indonesia.
