BERNAS.ID – Kompetensi Sumber Daya Manusia atau SDM kini semakin dituntut untuk menyesuaikan dengan perubahan yang cepat, apalagi pandemi memicu digitalisasi yang semakin masif.
Fenomena tersebut memicu Gerakan Nasional Indonesia Kompeten (GNIK) untuk menyoroti terjadinya persaingan yang tidak hanya terjadi antar-perusahaan atau lini bisnis, tapi bahkan hingga antar-negara.
Menanggapi hal itu, GNIK akan menggelar Kongres Nasional Indonesia Kompeten (KNIK II) untuk kedua kalinya pada 28-29 Oktober 2021, dengan tema “Akselerasi Sumber Daya Manusia (SDM) Kompeten dalam Penciptaan Lapangan Kerja dan Kewirausahaan Menuju Indonesia Maju”.
Baca Juga: Kongres Nasional Indonesia Kompeten ke II, Bangga Indonesia Kompeten
Dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta dan disiarkan secara virtual, Committe GNIK Yunus Triyonggo mengatakan acara ini merupakan wujud dari kerja sama berbagai pihak untuk mewujudkan percepatan peningkatan kompetensi SDM.
Di sisi lain, Indonesia akan menghadapi bonus demografi pada 2030-2040. Mengutip dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional atau Bappenas, bonus demografi adalah jumlah penduduk usia produktif (berusia 15-64 tahun) lebih besar dibandingkan penduduk usia tidak produktif (berusia di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun).
“Kita akan menghadapi suatu gelombang besar yang disebut bonus demografi. dan dependency ratio nanti akan menempati paling rendah itu 2030 jika kita berleha-leha atau memikirkan diri sendiri,” ujarnya, Selasa (19/10/2021).
Dia meyakini, sektor swasta harus bergerak untuk meningkatkan kompetensi SDM. Yunus mengatakan caranya mudah, yakni dengan membuka pemagangan di perusahaan masing-masing, yang bahkan cukup dua atau tiga orang.
“Setiap sektor industri yang bergerak akan mengakselerasi secara cepat bagaimana angkatan kerja bisa lebih skilfull,” tuturnya.
Menurutnya, penggerak dari program pemagangan adalah manager HRD, apalagi ada sekitar 20.000 orang yang memiliki profesi tersebut. Sebagai gerakan yang mulai tumbuh pada awal 2018, GNIK telah membuka diri untuk bagi siapa saja yang peduli, memiliki passion yang sama, dan mengambil peran serta kontribusi nyata dalam program peningkatan kompetensi SDM di Indonesia.
Sejauh ini, GNIK telah mencetak hampir 1.000 mentor pemagangan di seluruh Indonesia. Bekerja sama dengan Kementerian Ketenagakerjaan, GNIK memberikan masukan pelaksananaan pemagangan.
“Masukan kalau ingin melaksanakan pemagangan, instrumennya atau instrukturnya harus kuat dulu, karena mereka yang harus menggawangi pemagangan di setiap perusahaan,” ujarnya.
“Jangan sampai ada anak magang bingung mau melakukan apa. Mereka harus sudah jelas selama 6 bulan mau melakukan apa,” imbuh Yunus.
Baca Juga: Indonesia Butuh SDM Unggul Energi Baru Terbarukan
Ketua Organizing Committee KNIK II Bambang Yapri mengaku ingin mengakselerasi SDM Indonesia yang kompeten supaya dapat mewujudkan pecinptaan lapangan kerja dan mendukung kewirausahaan.
“Sehingga dengan adanya akselerasi dengan penciptaan lapangan kerja dan kewirausahaan, sehingga usaha bersama untuk mencapai Indonesia maju itu bisa diwujudkan dengan bonus demografis. Itu sesuatu yang harus diusahakan,” jelasnya.
Dia meyakini, bonus demografis merupakan anugrah dan bukanlah musibah sehingga perlu didorong dari sekarang. Sebagai informasi, pada 2030-2040, diperkirakan penduduk usia produktif di Tanah Air mencapai 64% dari total jumlah penduduk yang diproyeksikan sebesar 297 juta jiwa.
KNIK II
Rangkaian acara Kongres Nasional Indonesia Kompeten II atau KNIK II telah dilaksanakan secara virtual sejak 17 Agustus 2021 hingga 16 Oktober 2021 sebagai pengantar menuju puncak acara yang bertepatan dengan Peringatan Sumpah Pemuda.
Pada 28-29 Oktober 2021, bakal digelar 10 talkshow yang melibatkan beberapa pihak dari unsur pemerintahan antara lain Staf Kepresidenan, Kemenko Perekonomian, Kemenaker, KemenDikbud-Ristek, Kemen PAN RB, dan Kementerian BUMN.
Narasumber kunci lainnya yang juga akan hadir antara lain Managing Director Google Indonesia, Randy Jusuf yang akan membahas Future of Work, Head Coach Indonesia National Team U-23, Coach Indra Sjafri dengan testimonial pengembangan talenta olahraga di Indonesia.
Topik-topik yang akan dibahas seputar penciptaan lapangan kerja serta kewirausahaan antara lain peran pemerintah dan industri dalam akelerasi SDM di Indonesia, program pemagangan bersertifikat kompetensi dalam akselerasi SDM di indonesia, future of work, kolaborasi sektor publik dan swasta, life-long learning, kampus merdeka to address education missmatch, strategi menghadapi pandemi, pemberdayaan aparatur negara, sertifikasi profesi & pelatihan vokasi, dan peran BUMN serta kebijakan pemerintah dalam akselerasi SDM Indonesia Unggul.
Acara ini terbuka untuk seluruh kalangan termasuk para praktisi industri dan/ atau profesi, akademisi, institusi pemerintah, dan pihak lainnya yang peduli dengan isu-isu kompetensi SDM, demi mewujudkan kolaborasi dan sinergi antar pihak yang berkepentingan dalam mewujudkan SDM yang kompeten.
