JAKARTA, BERNAS.ID – TNI AL menyatakan benda mirip rudal itu bukan rudal yang diduga banyak pihak. Namun, alat itu adalah Side Scan Sonar (SSS) yang berfungsi untuk mencari data di bawah air laut. Sebelumnya, seorang nelayan menemukan benda diduga rudal Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, pada hari Rabu (9/2/2022).
Laksamana TNI Yudo Margono, Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) mengatakan, TNI AL akan meneliti lebih komprehensif dan menganalisa mendalam terhadap benda asing mirip rudal.
“Kita akan meneliti benda tersebut dengan melibatkan Pushidrosal TNI Angkatan Laut dan Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI Angkatan Laut ataupun tenaga ahli dari perguruan tinggi terhadap benda asing mirip rudal,” kata Yudo dalam keterangan tertulis, Sabtu (19/2/2022).
Baca Juga Panglima TNI Sebut IKN Nusantara Membutuhkan 50 Ribu Personel Baru
Sebelumnya, berdasarkan keterangan resmi Dinas Penerangan AL, disampaikan pada Jumat (17/2/2022), Danposmat TNI AL Selayar, Letda Laut (E) Siswandoyo bersama sejumlah pihak melakukan peninjauan terhadap benda itu.
Benda asing tersebut kemudian dibawa ke Pelabuhan Jampea dan dinaikkan speed untuk diantar ke KRI Fatahillah 361.
Dari peninjauan sementara, Danlantamanl VI Laksamana Pertama TNI Benny Sukandarai mengatakan benda tersebut bukanlah sebuah rudal. Namun, alat itu adalah Side Scan Sonar (SSS) yang berfungsi untuk mencari data di bawah air laut. “Ini bukan rudal, ini alat sensor untuk mencari data. Saya yakinkan ini bukan rudal,” kata Benny Sukandari, Sabtu (19/2/2022).
Baca Juga Energi Luar Biasa Marsekal TNI Hadi Tjahjanto Dituangkan dalam Sebuah Buku
Alat ini kata Benny, bisa saja bagian dari kelengkapan persenjataan militer bila akan menggunakan untuk kegiatan taktikal. “Jadi ada kalanya militer mau menggunakan senjata, tertentu memanfaatkan alat seperti ini untuk mengambil data, untuk kedalaman laut,” jelasnya.
Benny menyebutkan, alat sonar buatan Amerika Serikat ini diperuntukkan untuk menjual belikan data pada hasil rekaman dari Side Scan Sonar tersebut untuk umum.
“Peruntukannya ini kelihatannya bisa diperjualbelikan atau bisa konsumennya untuk umum, karena spesifikasi militer ada sendiri. Tapi, saya tidak berani mengatakan untuk militer atau nir militer. Yang pasti alat ini digunakan untuk mencari data di bawa garis laut,” ungkapnya.
Pihaknya kata Benny sebelumnya juga mengamankan benda yang sama seperti ditemukan nelayan di Kabupaten Kepulauan Selayar ini. Sehingga benda-benda seperti sonar ini harus dapat diantisipasi, karena jalur laut kepulauan Indonesia (ALKI) II yang berada di Selat Sulawesi sangat ramai dilintasi kapal baik di atas permukaan laut maupun di bawah permukaan laut.
“Jadi ini nanti akan diteliti ulang, mudah-mudahan ada manfaatnya. Tentunya juga kita antisipasi dengan dua alat ini ditemukan. Satu yang ditemukan kemarin dan satu kita temukan 10 tahun lalu, Sea Glader yang lokasi penemuannya juga di Kepulauan Selayar. Sehingga banyak kepentingan memanfaatkan area di sekitar perairan laut Selayar. Tentunya kita harus prediksi bahwa kita sudah terbuka oleh kepentingan umum dan militer,” tukasnya. (jat)
