BANTUL, BERNAS.ID – Desa Temuwuh merupakan desa yang terletak di Kapanewon Dlingo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Desa ini terletak di atas pegunungan, butuh waktu lebih dari setengah jam untuk ke kota.
Maka tak heran Temuwuh terhampar di atas perbukitan dengan tanah berbatu yang tidak bisa diandalkan untuk pertanian. Bertahun-tahun lamanya bencana kekeringan menghantui Temuwuh setiap musim kemarau datang.
Begitu jauh dan terpencilnya Desa Temuwuh ini membuat warganya dijuluki 'Wong Gunung', yang terkadang membuat minder. Namun jangan salah, walaupun desa ini jauh dari kota dan terpencil identik dengan kemiskinan dan tertinggal jaman, desa ini meruntuhkan anggapan Anda. Kok bisa? Yuk simak ceritanya!
Sebagian besar warga Desa Temuwuh adalah tukang kayu. Mereka membuat aneka jenis furniture seperti meja, kursi, almari dan aneka jenis perkakas yang dibutuhkan semua orang. Tapi produk yang paling khas warga desa ini adalah daun pintu.
Baca Juga : Mebel Bisa Jadi Instrumen Investasi
Menjadi tukang kayu terpaksa mereka lakukan karena tanah mereka tidak bisa diharapkan hasilnya dari bertani. Selain itu, kawasan pegunungan ini memang rimbun oleh hutan-hutan.
Selama puluhan tahun warga harus membawa produk buatan mereka dengan mencarter kendaraan, lalu menyewa tempat sederhana untuk tinggal beberapa hari dan keliling kampung-kampung di kota menjajakan dagangan mereka.
Seringkali jika dagangan tidak laku, mereka lalu banting harga sebab jika terlalu lama berkeliling kampung, mereka akan kehilangan waktu untuk berproduksi lagi.
Kini dengan adanya internet yang memunculkan platform-platform media sosial dan marketplace, membuat warga Temuwuh gembira.
Melalui medsos dan Marketplace ini mereka tidak perlu lagi kehilangan waktu produksi karena keliling kampung di kota, tak perlu pula kehilangan biaya menginap, biaya makan, biaya transport dan lain sebagainya.
Dengan kecanggihan teknologi dan internet, warga desa tinggal memotret furniture buatannya, memasangnya di Instagram, Facebook dan chating dengan calon pembelinya melalui pesan WhatsApp. Semuanya dilakukan melalui kotak ajaib bernama Smartphone.
Dengan adanya medsos dan Marketplace inilah yang merubah wajah Temuwuh seketika. Penjualan melalui aneka platform medsos membuat urusan pemasaran mebel menjadi jauh lebih mudah, singkat dan murah. Cara ini juga memotong sebagian besar biaya pemasaran yang selama ini harus mereka keluarkan.
Nasib Temuwuh kini berubah. Volume penjualan yang meningkat segera dibarengi produksi yang juga melesat. Alat-alat pertukangan listrik digunakan, kualitas produksi menjadi perhatian. Temuwuh mengukuhkan diri sebagai desa pusat industri mebel rumahan.
Semua orang di desa ini memasuki industri ini dan terus membesar. Jumlah anak muda tenaga kerja desa ini bahkan tidak cukup lagi menjawab kebutuhan produksi yang terus meningkat. Alhasil, rumah-rumah produksi mulai merekrut warga desa sebelah dan sebelahnya lagi, juga mulai melebarkan tempat produksi ke desa tetangga.
Jadi, jika desa-desa lain lekat dengan cerita anak muda yang terpaksa pergi ke kota untuk mencari kerja. Di Temuwuh, itu tidak berlaku. Para pemuda di desa ini saja tak cukup menjawab peluang usaha yang ada. Kata urbanisasi telah lama tak terdengar di sini.
Para pemuda Temuwuh juga dikenal punya kreativitas tinggi. Mereka membentuk Forum Republik Kayu (FRK) yang beranggotakan anak-anak muda tukang kayu, dengan gagasan-gagasan unik mulai dari desain hingga cara memasarkan produknya.
Salah satu cara mereka untuk memasarkan misalnya, menggelar Pameran Mebel di Pinggir Jalan alias Temuwuh Expo on The Street pada 1 Januari 2022 lalu. Cara unik ini langsung menjadi viral di media sosial dunia persilatan tukang kayu di Bantul.
Anggi Oktavian, salah satu pengurus Forum Republik Kayu mengatakan, untuk bisa melahirkan berbagai gagasan kreatif itu FRK menggandeng Desahub Newsantara, Desahub adalah lembaga pengembang potensi desa yang unik. Lembaga ini menggunakan jalur digital sebagai basis pemasaran potensi desa, serta tentu saja bekerjasama dengan Pemerintah Kalurahan.
Baca Juga : Terbaru! Jenis Kursi Kayu Minimalis untuk Furniture Rumah Kesayangan
“Jadi, bagi kami sebenarnya tidak masalah kalaupun tidak banyak orang datang melihat produk yang kami pamerkan. Yang terpenting adalah viral dan foto-foto pameran tersebar ke berbagai penjuru melalui media sosial, itu target awalnya,” kata Anggi kepada Bernas.id, Kamis (10/3/2022).
Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) Tuwuh Temuwuh juga melahirkan toko online produk desa bernama Kotakayucom. Ini adalah toko online tempat warga bisa menjual aneka produk mebelnya.
“Perkembangan ini membuat kami berani memutuskan untuk menggelar pameran setiap bulan dengan didukung pula Kotakayucom,” katanya.
Uniknya, acara pameran ini bukan hanya ajang berjualan produk mebel saja melainkan juga menjadi semacam pesta warga, karena para ibu juga bisa menggelar pasar kuliner dan aneka produk lainnya.
Maka jika Anda datang ke desa ini, Anda akan menemui mobil-mobil terparkir di depan rumah warga. Jalanan desa juga sangat ramai lalu-lalang orang. Di desa ini Anda juga bisa menemukan beberapa supermarket besar, supermarket elektronik, dealer motor bekas, puluhan warung makan aneka rupa menu, toko pakaian dan aneka jenis usaha lainnya. (adj)
