SLEMAN, BERNAS.ID – Fayyad Aunilbar dari Program Studi Teknik Informatika, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menjadi satu-satunya wisudawan penyandang difabel tunarungu dari 684 wisudawan dalam prosesi wisuda periode IV tahun akademik 2021/2022, Rabu (10/8). Fayyad pun menyandang predikat cumlaude dengan IPK 3,65 setelah 3,5 tahun berkuliah.
Di Gedung Prof Amin Abdullah, dengan dipandu pendamping dari Pusat Layanan Difabel UIN Suka, Fayyad menyampaikan kecintaannya kepada dunia informatika yang dimulai dari cita-citanya sebagai pilot. Menurutnya, bidang IT sebagai longlife dan inventable passion.
Baca Juga Sri Sultan Ikut Beri Masukan Jogja Planning Gallery
Fayyad menempuh pendidikan secara homeschooling sejak tingkat SD. Untuk mendapatkan pendidikan inklusif yang setara, kedua orangtua Fayyad sempat mengajaknya untuk tinggal di Jerman selama 8 tahun. Selama tinggal Jerman, minatnya terhadap dunia IT terbangun selain karena terinspirasi dari ayahnya yang seorang software engineer.
Selama berkuliah, Fayyad mengaku sangat terbantu dengan pendampingan juru bahasa isyarat dari Pusat Layanan Difabel (PLD) UIN Suka. Ia pun mampu menyelesaikan seluruh proses akademik dan mampu menorehkan karya nyata di luar kampus.
Prestasi Fayyad juga telah membuat bangga UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan kejuaraannya meraih Award Certificate of the Best Campuspada ARUBALYMPICS 2020, menempatkan Yogyakarta pada posisi 3 nasional setelah Jawa Tengah dan Sumatera Selatan. Saat itu Fayyad bersama tim berhasil memenangkan 2 emas, 1 perak, dan 4 perunggu sehingga menjadikan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menjadi 25 kampus dengan perolehan medali terbanyak se-Indonesia
Fayyad juga pernah mengikuti program Bangkit 2021 yang digagas oleh Google sebagai program pengembangan karir yang dirancang melalui kemitraan dengan Dirjen Dikti Kemendikbud, Gojek, Tokopedia, dan Traveloka. Tahun ini, Bangkit masuk dalam salah satu program Kampus Merdeka Kemendikbud dan diikuti oleh 3000 mahasiswa dari seluruh perguruan tinggi di Indonesia, salah satunya adalah Fayyad.
Dalam ranah Internasional, Fayyad mampu menyabet predikat Creative Category pada Hackathon 2021, sebuah ajang kompetisi Hackathon Online 48 Jam by Si Cepat untuk para pemuda penggiat teknologi dalam menciptakan teknologi terkait sebagai sebuah ide, produk, dan solusi.
Fayyad telah membuktikan kekurangan fisik bukanlah halangan untuk berprestasi. “Jangan pernah merasa ragu mengikuti kesempatan apapun. Karena pengalaman adalah sangat berharga dalam rangka menempa hidup. Walaupun gagal dari lomba pertama, bukan berarti sudah gagal sepenuhnya. Kegagalan adalah salah satu langkah menuju kesuksesan. Perbanyak pengalaman agar dapat memanfaatkan pengalaman tersebut untuk lomba berikutnya,” tutur Fayyad melalui bahasa isyarat dengan penuh semangat.
Baca Juga Penembakan Dan Ledakan Bom Mewarnai Pilpres Filipina
Rektor UIN Suka, Prof Al Makin menceritakan seorang milyuner Inggris, Richard Branson, kisah sukses Elon Musk dan perjuangan hidup Nabi Muhammad SAW. Menurutnya, dalam menjalani kehidupan, kita harus berani membayangkan hal-hal besar.
“Kita harus berani membayangkan yang besar-besar, Musk dan Branson sudah mengirim orang ke luar angkasa dengan modal swasta. Jangan bercita-cita kecil dan minder, mari bermimpi dan melaksanakan mimpi itu,” tuturnya.
“Jika kita mempunyai kesulitan dari kecil mungkin itu tantangan pertama untuk sukses,” imbuhnya.
Lanjut tambahnya, ada empat poin nasehat, yaitu Just Do It, percayalah pada insting bahwa bisa melakukannya. “Jika mempunyai pikiran, gagasan atau ide, lakukanlah jangan tunda. Jangan mendengar orang lain mengatakan tidak, atau tidak mungkin. Hajar saja,” ujarnya.
Kedua, Have Fun, yaitu menikmati dan bergembira dalam melakukan sesuatu menjadi kunci mencintai pekerjaan hingga akhirnya membawa karir dan menghasilkan uang jika itu bisnis. “Bergembira dan menikmati yang kita lakukan adalah kunci kesuksesan,” ucap Prof Al Makin.
Ketiga, Be Bold, jangan menyesal kala kalah atau tidak berhasil dan jangan pernah menengok ke belakang, teruslah maju ke masa depan. “Kita tidak bisa mengubah masa lalu, tapi kita bisa belajar dari masa lalu. Jika bermimpi tentang sesuatu, lakukanlah segera. Jangan ragu,” kata Prof Al Makin.
Keempat, Challenge Yourself, jika menantang diri sendiri, kita akan berkembang dan hidup akan berubah. “Tidak mudah mencapai tujuan, tetapi tidak ada alasan untuk berhenti. Katakan pada diri sendiri, Saya bisa melakukannya, I can do it. Ada dua cara untuk menantang diri sendiri, yaitu kerjakan terbaik di rumah atau di tempat kerja. Yang kedua adalah berpetualang,” tukas Prof Al Makin.
Dalam wisuda kali ini, terdiri dari 549 orang lulus Sarjana (S1), 133 orang lulus Program Magister (S2), dan 2 orang lulus Program Doktor (S3), salah satunya Dr Ali Sodiq yang merampungkan studi doktoralnya selama 3 tahun 5 bulan 14 hari dengan predikat Cumlaude. (jat)
