Belum lama berselang, tepatnya Sabtu malam (7/10/2023), Ketua DPRD Sleman Haris Sugiharta meresmikan salah satu balai RT 08/RW 05 di Padukuhan Manukan, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok. Dananya dibangun dengan dana swadaya warga ditambah dana bantuan keuangan khusus (BKK) Sleman, dengan total mencapai Rp470 juta.
Balai RT yang diberi nama Omah Rajawali tersebut dibangun melalui proses cukup lama, dimulai sejak April 2019 dan baru diresmikan pada Oktober 2023. Waktu panjang dan serapan anggaran yang besar tentu bukanlah sebuah proses mudah. Soliditas antarwarga akan sangat menentukan keberhasilannya. Tidak sedikit cerita sarana publik mulai dari jalan, gedung pemerintah, hingga balai pertemuan warga yang berakhir mangkrak.

Lebih dari itu, tidak semua wilayah satuan lingkungan terkecil di masyarakat memiliki balai pertemuan. Berdasarkan publikasi Badan Pusat Statistik tahun 2021, bangunan milik desa saja baru mencapai 388 unit dari total 438 wilayah desa di Provinsi DIY. Artinya, tidak semua desa memiliki bangunan milik desa. Itu pun tidak semuanya berwujud balai desa karena bangunan milik desa yang terdata bisa mencakup juga lapangan olah raga atau pun bangunan publik lain yang dimiliki desa.
Pada satuan lingkungan terkecil seperti Rukun Tetangga (RT), sebagian besar aktivitas warga masih dilakukan bergiliran di rumah-rumah warga atau pos ronda. Sejauh ini memang belum ada data pasti jumlah balai RT di Sleman dari penelusuran berbagai sumber. Namun, penelusuran dari Google maps menunjukkan hanya ada 10-15 balai RT yang terpetakan di Kabupaten Sleman.

Data dari sumber lain, yakni dari laman Geoportal Kabupaten Sleman, juga menggambarkan bahwa tidak semua RT memiliki balai pertemuan / kegiatan warga. Definsi balai warga menurut laman tersebut adalah fasilitas sosial yang digunakan oleh masyarakat setempat untuk melakukan berbagai aktivitas sosial. Contohnya, tempat untuk penyelenggaraan posyandu, tempat vaksinasi, rapat warga, pengajian, hajatan kampung dan fungsi lain.
Laman Geoportal Kabupaten Sleman mendata hanya ada 32 bangunan balai warga di tahun 2019. Padahal, satuan lingkungan setingkat RT di Kabupaten Sleman mencapai jumlah ribuan. Persisnya, Dinas Satuan Polisi Pamong Praja Sleman mencatat wilayah Kabupaten Sleman terbagi atas 7.414 RT.
Baca juga: Gubernur DIY Meresmikan Balai Budaya Girikerto Turi Sleman
Sementara, balai pertemuan warga sebenarnya dapat difungsikan untuk berbagai manfaat strategis. Salah satu contoh adalah Balai RT 08/RW 05 Omah Rajawali. Sejak selesai dibangun pada Februari 2023, Balai RT tersebut langsung digunakan warga untuk rapat rutin warga, kegiatan olahraga tenis meja dan senam, pelaksanaan Idul Kurban dan perayaan malam tirakatan peringatan HUT RI.
Bangunan balai warga yang dibangun dengan kualitas dan perencanaan yang baik juga menjanjikan pemanfaatan lebih luas bagi masyarakat di luar wilayahnya. “Ke depan, kami juga membuka kemungkinan Omah Rajawali disewa oleh masyarakat umum untuk berbagai keperluan, misalnya pelatihan atau kegiatan lainnya. Uang sewa itu bisa dipakai untuk perawatan bangunan”, ujar Lasiman, salah satu penasehat pembangunan Omah Rajawali.
Keberadaan bangunan untuk keperluan rapat warga ini juga bermanfaat sebagai sarana memperkuat sosialisasi antarwarga. Hal ini menjadi krusial manakala kekuatan sosialisasi warga tersebut dikaitkan dengan potensi gangguan keamanan, mulai dari kriminalitas umum hingga yang bersifat khusus seperti terorisme. Sarana pertemuan warga bisa mendukung aktifnya sistem keamanan di level RT seperti siskamling atau kelompok-kelompok jaga warga.
Baca juga: Jaga Warga Sleman Juga Ikut Memantau Tindak Terorisme
Pada akhirnya, keberadaan ruang publik seperti balai RT juga berperan strategis untuk tempat pelaksanaan berbagai program pemerintah seperti bantuan sosial, pelayanan kesehatan, hingga wadah koordinasi kesiapan menghadapi berbagai ancaman bencana alam. Potensi berbagai manfaat keberadaan sebuah balai RT yang sudah dipaparkan tentu menjawab pentingnya keberadaan sarana fisik tersebut bagi masyarakat di satuan lingkungan terbawah. Pertanyaan berikutnya, sejauh manakah warga mampu memanfaatkan optimal balai RT tersebut? (Bim)
