SLEMAN, BERNAS.ID – Forum Direktur Perkebunan Kelapa sawit (FDPKS) 2023 memiliki agenda untuk memberikan rekomendasi membangun integrasi sinergi hulu hilir terkait produksi sawit. Namun, sejak beberapa tahun terakhir ini, produksi sawit Indonesia justru mengalami kelambatan, bahkan stagnan.
Baca Juga Festival Lereng Merapi Tanamkan Pendidikan Karakter
Direktur Pusat Studi Sains Kelapa Sawit Instiper Yogyakarta, Dr. Purwadi menyebut adanya keterlambatan pengembangan téknologi, digitalisasi, dan mekanisasi dalam pengembangan produksi sawit. Menurutnya, pertumbuhan para penanam-penanam kelapa sawit (planter) juga terkesan mandeg.
“Transformasi belum berjalan dengan baik dengan generasi sekarang,” tuturnya di hadapan peserta Forum Direktur Perkebunan Kelapa sawit (FDPKS) 2023, di kampus Instiper Yogyakarta, Rabu (22/11/2023).
Purwadi juga menyebut faktor yang mempengaruhi produksi kelapa sawit karena iklim dijadikan kambing hitam. Menurutnya, iklim sudah dapat diprediksi sekarang ini sehingga tidak bisa dijadikan alasan panen kelapa sawit gagal.
“Selain itu, sekarang ini belum menuju pola pikir industri biomas karena ada upaya domestifikasi penanaman kelapa sawit, misalnya di dekat rumah. “Kalau mau jadi industri, kita harus siapkan, framenya harus jelas,” ucapnya.
Purwadi pun mengatakan isu iklim akan diselesaikan dengan pokja iklim yang bekerja bersama BMKG untuk Perkebunan Kelapa Sawit. Selain itu, akan membuat Indonesia Palm Oil Club untuk akselerasi.
Menurut Purwadi, salah satu penyebab terjadinya pelambatan penambahan produksi karena masalah efektivitas manajemen. Untuk itu, perlu terus mencari praktik-praktik terbaik (best practices) dalam upaya peningkatan produksi yang memanfaatkan teknologi baru baik mekanisasi maupun digitalisasi.
“PDPKS 2023 unttuk menjawab tantangan isu-isu perubahan iklim dan lingkungan, tantangan riset dan inovasi terapan di perkebunan kelapa sawit, serta pengembangan kemitraan bisnis bersama petani dan kemitraan sosial bersama masyarakat sekitar kebun, serta kemitraan ketaatan regulasi dengan pemerintah,” ujar Purwadi.
Lebih lanjut Purwadi mengungkapkan, dalam forum yang digelar di Yogyakarta ini menghadirkan tokoh-tokoh di balik kesuksesan perusahaan besar perkebunan sawit, antara lain Daud Dharsono, Maruli Gultom dan Roebianto tentu bisa saling berbagi.
Maruli Gultom mengatakan dalam membangun industri, harus mengikuti perkembangan teknologi terkini. Selain itu, ada banyak temuan di kawasan perkebunan sawit, sehingga produktivitas tidak semakin meningkat. Misalnya, di lapangan atau di perkebunan, ditemukan banyak jalanan yang tidak layak sehingga untuk mengangkut hasil panen sawit ke pabrik memerlukan waktu yang lebih lama.
Selain itu, jarak tanam yang tidak sesuai dengan ketentuan, sehingga produksi per hektarenya tidak tinggi dan segudang permasalahan lainnya yang harus segera ditangani.
Dengan tegas ia mengatakan, pengelolaan kelapa sawit harus ditata dengan sebaik mungkin, agar tak berakhir layaknya hasil pertanian yang lain.
”Jangan sampai industri kelapa sawit seperti karet yang berantakan dan habis. Bagaimana menggunakan teknologi untuk memaksimalkan produksi ini penting untuk dilakukan. Output orang ditingkatkan dengan teknologi,” ujarnya.
Ia mencontohkan, setiap tiga bulan melakukan seleksi bibit menggunakan drone yang nantinya bisa memudahkan pekerja untuk memaksimalkan eksekusi treatment di lapangan.
“Misalnya untuk seleksi bibit di lapangan pakai drone, ditandai mana abnormal dan normal. Orang turun bekerja lebih baik dan tepat. Tiap tiga bulan sensus pakai drone,” ujarnya.
”Pupuk optimal, jenis, waktu dan cara dengan mekanisasi. Output orang per hektare bisa naik. Kemudian aplikasi pupuk juga tepat sasaran. Ini yang harapannya bisa dilakukan,” katanya.
Baca Juga Dharma Wanita Sleman Salurkan Bantuan Air Bersih Di Tangisan
Board of Director PT Bumitama Gunajaya Agro Roebianto menceritakan perusahaannya terus bergerak maju, bahkan laba bersih mereka di tahun 2023 ini diprediksi menyentuh angka Rp3 triliun.
“Ya, laba bersih kami tahun ini Rp3 triliun lebih sedikitlah. Saat ini kami punya 17 pabrik kelapa sawit,” ujar Roebianto.
Roebianto juga mengungkap bahwa keberhasilan dalam membangun perusahaan di bidang industri kelapa sawit terletak pada kapabilitas Sumber Daya Manusia (SDM).
Ia menilai, bahwa manusia adalah aset yang menentukan kemajuan perusahaan.”Saya lebih senang menyebut dengan human capital, karena menurut saya manusia adalah aset,” katanya.
”Bagaimana bisnis ini tak bisa terpisah dari people strategic. Kami rekrut orang-orang berkompeten. Di sisi lain kami melakukan kaderisasi, menurunkan ilmu, diteruskan ke generasi selanjutnya,” tukasnya. (jat)
