SLEMAN, BERNAS.ID- UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menggelar syawalan lintas iman di Gedung Prof. H.M. Amin Abdullah (Multipurpose), Kampus UIN Sunan Kalijaga, Selasa (16/4). Kegiatan silaturahmi akademik lintas iman tersebut mengangkat tema “Mensyukuri Nikmat Perdamaian dalam Perbedaan”.
Baca Juga Sri Sultan Terima 120 Manuskrip Jawa Kuno Digital Dari Inggris
Tamu undangan yang hadir, yaitu jajaran pimpinan rektorat, dekanat, kabiro, para pimpinan unit, lembaga dan pusat studi, para tamu undangan dari perguruan tinggi di wilayah DIY. Selain itu, undangan dari berbagai dinas/ instansi, Polda DIY, Kodim, Korem, Angkatan Udara, dan Angkatan Laut di Wilayah DIY, serta para tokoh agama lintas Iman, serta sivitas Akademika UIN Sunan Kalijaga.
Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof Al Makin dalam sambutannya mengatakan
halal bi halal atau syawalan merupakan penemuan, bid’ah, atau inovasi tradisi asli nusantara. Menurutnya, Idul Fitri di Timur Tengah tidak seperti di Nusantara.
“Sebaliknya, di Timur Tengah, Idul Adha dengan penyembelihan hewan qurban identik dengan berdoa dan berpesta yang ada sejak ribuan tahun lalu di berbagai situs temuan manusia di sekitar Turki, Iraq, atau Mesir. Hingga kini, di Timur Tengah seperti itu, Idul Adha lebih meriah, plus musim haji. Sementara di Nusantara ada bid’ah yang menyenangkan, Idul Fitri dengan syawalan atau halal bihalal. Sesuatu yang tidak ada di kitab suci, tetapi kita adakan,” terang Prof Al Makin.
Lanjut tambahnya, kekhasan tradisi minta maaf lahir batin pada momen Idul Fitri Nusantara melahirkan berbagai istilah dalam barbagai bahasa daerah. Dalam bahasa Sunda: Wilujeng wengi kasadayana dina Idul Firtri. Anjeunna sareng kalaur sareng wilujeng deui ngaranna. Dalam bahasa Batak: Asa lam denggan ngolu madongan pasu-pasu Na. Ni natahon ma maaf lahir batin tu hita sudena. Dalam bahasa Bugis: Warangparang kaminang makessing iyanaritu assabarakeng. Pakkasuiyyang paling matane’e ri jama iyanaritu millaudampeng. Dalam bahasa Banjar: Sudah parak Harai Raya Idul Fitri 2024. Ulun minta maaf, minta ridha. Salamat berhari raya lebaran 1445 H. Dalam bahasa Sasak Lombok: Selamet Idul Fitri tunas ampun lahir dan batin.
Menurut Prof. Al Makin, meminta maaf menunjukkan kekuatan, bukan kelemahan karena meminta maaf perlu nyali, keberanian, kejantanan, dan menahan malu. Sedangkan memaafkan adalah tanda kebahagiaan. “Orang yang kuat adalah yang minta maaf, orang bahagia adalah yang memaafkan. Tidak perlu dendam, saling menyerang, saling mengancam, saling menjatuhkan. Itu tanda kelemahan,” ujarnya.
Pepatah kuno China mengatakan sebelum kau pergi untuk balas dendam, galilah dua kuburan. Satu untuk lawan, satu untuk diri sendiri. “Melaksanakan dendam kesumat, saat ini tidak harus membunuh, tapi banyak cara. Kata pepatah kita, kalah jadi arang, menang jadi abu. Menang atau kalah dalam perang, konflik, atau perselisihan semuanya rugi, bahkan hancur akibat konflik,” katanya.
“Damai memang sepertinya bukan prestasi. Damai itu kompromi, tidak menghasilkan kegagahan, tidak menghasilkan kegarangan, dan orang mengalah itu orang tidak bernyali, sepertinya. Tapi damai adalah prestasi bersama-sama. Kalau nikmat damai itu sudah tidak ada, baru kita menyesal. Semua jadi medan perang, seperti saat ini di Timur Tengah. Orang-orangnya pergi ke luar negeri tidak pulang, menjadi suaka politik di berbagai negara Eropa dan Amerika. Afghanistan atau Pakistan juga sama. Jadi damai, lewat memaafkan dan minta maaf sangat penting. Idul Fitri mempunyai makna ini,” tukas Prof Al Makin.
Sedangkan, para tokoh lintas iman memberikan refleksi Idul Fitri. Rektor Universitas Sanata Dharma, Romo Albertus Bagus Laksana SJ mewakili umat Katolik menyampaikan halal bihalal lintas iman itu mensyukuri kebersamaan karena menciptakan gelombang kebaikan dengan saling mengunjungi.
“Dengan saling menghormati, kita dapat bercermin siapa kita. Saudara kita adalah cermin kita, pahami satu sama lain. Menerima orang lain dengan lapang adalah cara untuk mendapatkan nikmat kebersamaan dan perdamaian Seperti yang dilakukan UIN Sunan kalijaga kali ini,” kata Romo Albertus.
Dr. Sulaiman mewakili umat Budha menyampaikan refleksi untuk mendapatkan pencerahan memerlukan kesabaran. Sebab, semakin orang tidak sabar untuk mendapatkan pencerahan, maka akan semakin lama orang mendapatkan pencerahan.
“Muslim berpuasa Ramadhan dengan kesabaran. Itulah pencerahan yang didapat umat Muslim. Pihaknya bersyukur dapat menghadiri hari kemenangan umat Muslim di kampus UIN Sunan Kalijaga. Tak ada kebahagiaan tertinggi yang sebanding dengan kedamaian dalam kebersamaan kali ini,” ungkap Dr Sulaiman.
Baca Juga Sri Sultan Ikut Panen Di Lumbung Mataraman Gunungkidul
Prof Machasin mewakili umat Islam mengutip pernyataan dari penulis novel Kanada asal Libanon, Hajwa Jaliani yang harus terusir dari negaranya karena perang. Dikatakannya, penulis novel ini pernah menulis, yaitu aku memutuskan memaafkan hari ini, bukan karena permintaan maaf, namun karena jiwaku memerlukan perdamaian.
“Jadi sikap memaafkan pertimbangannya adalah karena jiwa yang ingin merdeka, tidak terpenjara karena mengingat perbuatan jahat orang lain,” tutup Prof Machasin. (Jat)
