JAKARTA, BERNAS.ID – Batik Marunda karya ’emak-emak’ eks warga relokasi kampung kumuh di utara kota Jakarta, mampu memukau khalayak. Buktinya, dalam Fashion Show yang digelar di Main Atrium, Senayan City pada Senin (23/9/2024) kemarin, Batik Marunda mendapat apresiasi pengunjung.
Batik Marunda lahir dari tangan tangan terampil para ibu-ibu rumah tangga di Rusunawa Marunda, Jakarta Utara. Batik Marunda ini menjadi indentitas baru khas Jakarta Utara.
Batik Marunda memiliki keunikan dan ciri khasnya tersendiri, yakni penggabungan motif yang tak biasa, dan kekinian. Motif-motif tersebut diambil dari keadaan atau kondisi yang berada di Jakarta. Salah satunya motif wedelia seruni atau seruni rambat di Taman Ayodya.
Baca Juga : 3 Desainer Australia Berkreasi dengan Batik di Jogja Fashion Week 2024
Pembina Batik Marunda Irma G Simurat mengatakan, motif batik Marunda berbeda batik Betawi. Jika batik Betawi kebanyakan mengangkat ikon-ikon Jakarta seperti Monas dan ondel-ondel, batik Marunda mengangkat flora dan fauna yang ada di ibu kota.
“Motif batik dibuat lebih besar ketimbang motif batik yang banyak beredar di Jawa, dengan gaya yang lebih kekinian,” kata Irma, Senin (23/9/2024).
Dirinya pun mencontohkan motif teratai dari Lebak Bulus yang terdiri dari bunga teratai dan kura-kura atau bulus. Ada pula motif bunga bandotan di Taman Menteng yang terinspirasi dari bunga liar yang tumbuh dengan warna-warni di pinggir jalan.
“Begitu juga motif perkampungan, yang menggambarkan kondisi perkampungan di kawasan Kampung Rorotan,” ujar dia usai kegiatan Fashion Show.
Dikisahkan Irma, cerita Batik Marunda berawal di tahun 2014 atas inisiatif Ibu Iriana Joko Widodo, yang ketika itu sebagai istri Gubernur DKI Jakarta. Iriana menugaskan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) DKI dalam mengelola Batik Marunda.
“Ibu Iriana menugaskan Dekranasda DKI Jakarta yang diketuai lbu Veronica Tan untuk memberikan program pemberdayaan anggota keluarga yang direlokasi dari kawasan kumuh ke rumah susun Marunda di Jakarta Utara,” jelasnya.
Dekranasda DKI kemudian memberi pelatihan membatik tulis di rumah susun Marunda dan Dharma Wanita Persatuan Provinsi DKI Jakarta. Tak cuma itu, kata Irma, Dekranasda DKI juga menjadi pendamping ibu-ibu rusun Marunda pada tahap mereka memulai dan memasarkan produksinya.
Baca Juga : Legenda Candi Prambanan dalam Karya Batik
Dekranasda DKI menugaskan untuk membuat pemberdayaan perempuan di rusun dan mencari CSR. Pada batch pertama pelatihan ada sekitar 100 orang yang ikut, namun yang bertahan hanya dua orang.
“Sekarang hanya terdapat 12 orang pebatik di Batik Marunda, hanya 10 persen dari tiga kali pelatihan. Buka lagi di Rusun Rawa Bebek ada 8 sampe 9 orang. Di Pesakih melatih sulam karena buat sulam saja susah dijual,” ungkap Irma.
Proses pengerjaan Batik Marunda pun tersebar di tiga rusun tersebut. Batuk ini menghadirkan motif yang khas dengan tahapan satu rusun mencanting, pencelupan di Marunda, dan tahap finishing dilakukan di Pesakih.
Di Rusun Marunda sendiri terdapat 30 kepala keluarga dengan 11 ribu orang. Rusun bagian atas sebagai tempat tinggal dan di bawah untuk kegiatan pemberdayaan kegiatan termasuk membatik.
Pendistribusian Batik Marunda pun dilakukan lewat beberapa cara mulai dari Alun-Alun Indonesia, Kunstkring. Batik Marunda juga punya galeri kecil di Lebak Bulus, Taman SPBU. Batik Marunda juga ikut serta dalam ragam pameran dan dijual secara online di akun Instagram dan website Batik Marunda.
“Batik (Marunda) ini sering dipamerkan dalam ajang fashion show di tingkat Provinsi DKI Jakarta maupun tingkat nasional,” pungkasnya. (DID)
