YOGYAKARTA, BERNAS.ID- Himpunan Mahasiswa Farmasi, Universitas Alma Ata Yogyakarta menggelar seminar nasional The 4th PHARMACOPENA 2024 di Kampus setempat, Sabtu (5/10). Seminar ini digelar dalam rangka memperingati Hari Apoteker Dunia yang jatuh pada 25 September lalu.
Sebagai narasumber seminar, yaitu apt. Hendy Ristiono, S.Farm., MPH selaku apoteker, dosen, dan Ketua Pengda Ikatan Apoteker Indonesia DIY dan apt. Retno Muliawati, S.Si. M.Sc selaku (Kepala Instalasi Farmasi RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.
Baca Juga Sri Sultan Terima 120 Manuskrip Jawa Kuno Digital Dari Inggris
Adapun tujuan dilaksanakan seminar nasional, yaitu menyebarluaskan pengetahuan dan wawasan tentang integritas, potensi, dan kualitas seorang farmasis dalam praktik dunia kesehatan. Menyediakan platform diskusi bagi para ahli, peneliti, dan profesional, serta memperkuat jaringan profesional antar peserta. Selain itu, membangun jaringan kolaborasi antara akademisi, praktisi, industri farmasi, dan pembuat kebijakan. Meningkatkan sistem kesehatan yang berkelanjutan, dengan fokus pada
integritas, potensi, dan kualitas dalam praktik kefarmasian. Terakhir, berkontribusi dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.
Ruwet Rusiyono, M.Pd, selaku Wakil Rektor 3 Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Keagamaan mengapresiasi kegiatan seminar nasional karena akan dapat memberikan wawasan, inspirasi, dan solusi untuk meningkatkan sistem pelayanan kesehatan yang lebih baik dan berkelanjutan.
“Dengan seminar ini, harapannya akan tercipta farmasi yang berintegritas dengan pengembangan kesehatan berkelanjutan melalui potensi dan mutu sehingga menyehatkan seluruh masyarakat Indonesia,” ucap Ruwet dalam sambutanya.
Ia juga mengapresiasi kegiatan lomba desain kemasan obat-obat dan lomba edukasi kesehatan untuk memeriahkan Hari Apoteker Dunia. “Gerakan ini perlu terus dilanjutkan sehingga mahasiswa mempunyai potensi lain di luar kemampuan akademik. Saya harap mahasiswa akan bisa menyerap dan mengambil intisari untuk diterapkan di kehidupan sehari-hari,” katanya.
Hendy Ristiono selaku narasumber mengatakan ke depan, tuntutan dan perkembangan dunia apoteker semakin berkembang sehingga harus memiliki kompetensi.
“Membaca fenomena di sekitar kita, harus menyiapkan sejak sekarang. Tidak mungkin pola-pola lama akan bisa terus digunakan di masa akan datang,” kata Hendy.
Ia pun menceritakan fenomena di dunia apoteker ketika melalukan kunjungan kerja di sebuah daerah, yaitu masyarakat di sana hanya 1 minggu sekali datang ke apoteker. Fenomena ini menunjukkan kedekatan masyarakat dengab apoteker masih kurang.
“Menurutnya, apoteker harus melakukan pendekatan baru agar bisa berbagi tentang pengetahuan obat. Kedekatan apoteker diperlukan di masyarakat agar bisa terlibat dalam pengobatan yang rasional,” ujar Hendy.
Ia menyebut seorang pasien harus mendapatkan obat sesuai kebutuhan klinis. Obat-obat yang diresepkan adalah obat yang rasional. “Hal ini bertujuan membantu masyarakat atau pasien mendapatkan obat terbaik,” katanya.
Diketahui, Hari Apoteker Dunia atau International Pharmaceuticals Federation (FIP) menjadi momen untuk mendorong apoteker menyelenggarakan kegiatan yang mempromosikan dan mengadvokasi peran apoteker dalam meningkatkan kesehatandi seluruh dunia. (jat)
