JAKARTA, BERNAS.ID – Bulan Ramadan bukan hanya tentang ibadah dan kebersamaan, tetapi juga momen di mana pengelolaan keuangan menjadi tantangan tersendiri. Kenaikan harga kebutuhan pokok, pengeluaran ekstra untuk buka puasa bersama, hingga biaya mudik menjadi faktor yang perlu diantisipasi.
Cooky T. Adhikara, Founder dan CEO CERVO ID, membagikan tujuh aspek penting dalam perencanaan keuangan selama Ramadan 1446 H (2025 M), agar pengeluaran tetap terkendali dan ibadah dapat dijalani dengan lebih tenang.
1. Antisipasi Kenaikan Harga Komoditas
Inflasi tahunan Indonesia dalam lima tahun terakhir berkisar antara 1,68%–5,51%, sementara kenaikan harga pangan selama Ramadan rata-rata mencapai 5–7%. Untuk mengantisipasi hal ini, masyarakat disarankan untuk membeli kebutuhan pokok lebih awal.
Baca Juga : Contoh Laporan Keuangan Perusahaan Dagang
“Kalau memungkinkan, belilah beras, gula, minyak goreng, dan kebutuhan lainnya dalam jumlah besar sebelum Ramadan dimulai. Ini bisa membantu mengurangi dampak lonjakan harga di pertengahan bulan puasa,” ujar Cooky.
2. Menjadi Tuan Rumah Buka Puasa
Mengadakan buka puasa bersama tentu menyenangkan, tetapi juga bisa menjadi beban finansial jika tidak dikelola dengan baik. Harga bahan pokok seperti beras, gula, dan minyak goreng diperkirakan naik antara 4% hingga 10% pada Ramadan 2025.
“Salah satu cara untuk menekan biaya adalah dengan mengadakan acara berbasis potluck, di mana setiap orang membawa makanan sendiri. Selain itu, manfaatkan promo e-commerce untuk membeli bahan makanan dalam jumlah besar,” tambah Cooky.
3. Pengeluaran Tambahan Selama Libur Sekolah
Libur sekolah di bulan Ramadan sering kali berujung pada peningkatan pengeluaran keluarga untuk hiburan anak-anak. Agar tetap hemat, orang tua bisa memilih aktivitas seperti beribadah bersama, mengunjungi perpustakaan atau taman edukasi gratis, serta melakukan kegiatan kreatif di rumah.
Baca Juga : Pengaruh Manajemen Kualitas Terhadap Kepuasan Pelanggan
“Libur sekolah tidak harus selalu identik dengan biaya tinggi. Anak-anak bisa diajak berkegiatan yang mendidik dan murah, seperti eksperimen sains sederhana atau menjelajahi situs sejarah lokal,” jelasnya.
4. Persiapan Lebaran: Baju hingga Sajian Khas
Belanja baju baru dan menyiapkan makanan khas Lebaran adalah tradisi yang sulit dihindari. Namun, tanpa perencanaan, pengeluaran bisa membengkak.
“Belanja baju saat ada diskon besar bisa menghemat hingga 15%. Untuk makanan, sebaiknya siapkan secara bertahap dan beli bahan dalam jumlah besar agar lebih hemat,” kata Cooky.
5. Mengatur Biaya Transportasi Saat Mudik
Harga tiket mudik, baik pesawat maupun kereta api, diperkirakan naik 10–15% dan 8–12% masing-masing pada 2025.
“Pesan tiket lebih awal atau manfaatkan promo aplikasi perjalanan untuk mendapatkan harga lebih murah. Alternatif lain adalah mudik lebih awal untuk menghindari puncak kenaikan harga,” sarannya.
6. Evaluasi Keuangan Pasca-Ramadan
Banyak orang mengalami defisit keuangan setelah Lebaran akibat pengeluaran yang tidak terkendali. Oleh karena itu, penting untuk menyiapkan anggaran yang realistis dan mencatat setiap pengeluaran selama Ramadan.
“Kalau ada kelebihan pengeluaran selama Ramadan, segera tutup dengan penghasilan di bulan berikutnya agar tidak berlarut-larut,” ujarnya.
7. Manfaatkan Bonus dan THR Secara Bijak
Tunjangan Hari Raya (THR) sering kali habis dalam waktu singkat untuk kebutuhan konsumtif. Padahal, jika dikelola dengan baik, THR bisa menjadi alat untuk memperbaiki kondisi keuangan.
“Setidaknya alokasikan 30% untuk tabungan darurat dan 20% untuk investasi. Jangan habiskan seluruhnya hanya untuk belanja,” pesan Cooky.
Meskipun kenaikan harga selama Ramadan sudah menjadi pola tahunan, masih banyak masyarakat yang belum terbiasa mengantisipasinya sejak dini. Dengan perencanaan keuangan yang matang, bulan suci bisa dijalani dengan lebih tenang dan penuh makna. Selamat berpuasa! (DID)
