JAKARTA, BERNAS.ID – Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program kepemimpinan Presiden Parabowo Subianto sekarang ini, bisa menjadi sektor yang dapat menumbuhkan perekonomian Indonesia. Hal tersebut disampaikan oleh Profesor Tumiran selaku Pengamat Energi Universitas Gajah Mada (UGM) ketika diketemui awak media pada Kamis (22/05/2025) di Jakarta.
“Kita harus bantu presiden (Prabowo) yang punya pemikiran untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia, dan salah satu yang sedang dikerjakan adalah program MBG atau Makan Bergizi Gratis. Selain mencerdaskan anak-anak Indonesia untuk kedepannya, program MBG ini juga harus menggerakan ekonomi baru,” kata Tumiran.
Baca Juga : Program MBG di Sleman, PPJI DIY Siapkan 2600 Paket Menu dari Dapur Higienis
Ekonomi baru yang dimaksud adalah terbukanya lapangan kerja. Pasalnya, untuk memenuhi kebutuhan MBG, selain kebutuhan beras, daging, telur, adalah sarana untuk masak, sarana untuk menyediakan yang sekarang ini belum tersedia semua dengan baik. Oleh karena itu, hal tersebut akan menjadi angin segar disaat terjadinya badai PHK belakangan ini.
Namun mirisnya, disaat terjadi PHK dimanan-mana, Kementrian Perdagangan dan Perindustrian justru berwacana akan ‘membuka keran’ APBN sebesar 6 triliun untuk impor kebutuhan sekitar 140 juta food tray dari China.Tentunya hal tersebut berlawanan dengan tujuan Presiden Prabowo menjalan program MBG. Dimana salah satu tujuanya adalah dapat menggerakan ekonomi Dalam Negeri.
“Kenapa gak kita disiapin? Apa kerja Menteri terkait? Menteri Perindustrian misalnya, ya dikerjain, industri-nya tumbuh dong. Menteri Tenaga Kerja, gimana mendorong tenaga kerja terampil untuk bisa mencetak peralatan-peralatan itu? Sekarang lapangan kerja susah, gimana? Masa pemerintah ngasih makan, kemudian bapaknya gak dikasih kerjaan,” ucap Tumiran.
Baca Juga : Prof Laksanto Sarankan MBG di Wilayah Papua Pertimbangkan Kearifan Lokal Sagu Sebagai Makanan Pokok
Melalui program MBG, Tumiran pun optimistis apabila seluruh kebutuhannya diserahkan kepada industri Dalam Negeri, maka perekonomian Indonesia bisa tumbuh pesat. Pasalnya, jika seluruh kebutuhan pokok serta kebutuhan sarana MBG diambil dari Dalam Negeri maka akan menjadi pemasukan bagi negara.
“Melalui pengembangan MBG tadi, ya rupanya petani bisa tumbuh, industri yang memenyiapkan peralatan makannya tumbuh, industri karton dalam negeri juga tumbuh, industri plastik dalam negeri tumbuh, tisu dalam negeri tumbuh, industri sendok dalam negeri juga tumbuh semua. Jadi kenapa harus kita kasih ke orang lain?” ujar Tumiran. (DID)
