JAKARTA,BERNAS.ID – “No one nation can or should try to dominate another nation” Barack Obama (Pidato di Kairo, Juni 2009)
Operasi penghancuran situs nuklir Iran oleh Israel telah dimulai. Serangan pada dini hari, Jumat 13 Juni 2025, menghantam fasilitas sensitif milik Republik Islam Iran dan menewaskan tokoh-tokoh penting: Panglima IRGC Jenderal Hossein Salami serta dua ilmuwan nuklir, Feredoon Abbasi-Davani dan Mohammad Mehdi Tehranchi. Dunia pun terhenyak.
Direktur Eksekutif Indonesia Democracy Bridge Research Institute (Ind-Bri), Bernard Haloho, dalam analisanya Gdung Putih dengan cepat merilis pernyataan bahwa Amerika Serikat tidak terlibat. Namun dalam kalkulasi politik Iran, pernyataan itu tak lebih dari retorika. Apalagi serangan terjadi hanya dua hari sebelum putaran kelima perundingan nuklir Iran–AS yang rencananya digelar pada 15 Juni 2025. Harapan kesepakatan kini buyar, tergantikan oleh bara kemarahan dan ancaman pembalasan.
Baca Juga :Budi Gunawan Jadi Jembatan Prabowo-Megawati: Politik Cair, Komunikasi Jalan
Menurut Bernard, relasi Iran dan Israel tidak selalu penuh kebencian. Pada masa kekuasaan Shah Mohammad Reza Pahlavi, Iran bahkan menjalin kerja sama intelijen dan militer diam-diam dengan Israel. Namun sejak Revolusi Islam 1979, garis ideologis terbelah tajam. Bagi Iran, Israel adalah simbol penjajahan dan perusak tatanan moral dunia Islam; bagi Israel, Iran adalah ancaman eksistensial yang membalut ambisi nuklirnya dalam retorika anti-Zionis.
Konflik ini bukan sekadar geopolitik biasa—ini adalah benturan dua proyek ideologis: Zionisme versus Revolusi Islam, dominasi versus resistensi, kontrol versus kemerdekaan. Inilah yang membuat konflik ini sulit diselesaikan hanya dengan diplomasi rasional; ia ditopang oleh keyakinan dan dendam historis.
Sejarah panjang Persia menunjukkan satu hal: bangsa ini selalu bangkit dari reruntuhan. Mental kolektif rakyat Iran telah terasah dari perang delapan tahun melawan Irak, dekade-dekade sanksi ekonomi, hingga keterasingan diplomatik global. Walaupun dihantam serangan mematikan, publik Iran tidak runtuh, justru mengeras.
Baca Juga :Kritik dan Penolakan RUU TNI Dianggap Dinamika Politik
Para ilmuwan mereka tidak hanya terlatih, tetapi ter-ideologisasi. Teknokrat dan militer Iran hidup dalam kesadaran bahwa mereka adalah benteng terakhir melawan dominasi asing. Karena itu, kematian dua ilmuwan nuklir hanya akan mempercepat militansi mereka, bukan menguranginya.
Lemahnya Proxy Iran di Kawasan?
Namun, satu aspek krusial perlu dicermati: apakah Iran masih punya daya pengaruh nyata di Timur Tengah? Houthi di Yaman makin terkepung, Hizbullah di Lebanon ditekan, Hamas di Gaza dihancurkan, dan rezim Assad di Suriah jatuh. Proxy Iran memang ada, tapi kekuatan mereka tengah mengalami erosi.
Israel membaca ini sebagai kesempatan emas. Dengan melemahkan pusat nuklir dan menewaskan figur penting, mereka berharap memukul jantung kekuatan Iran secara langsung, karena serangan tak bisa lagi dibendung hanya dengan perang proksi. Tapi inilah yang berbahaya: jika Iran merasa cornered, maka respons bisa melampaui kalkulasi konvensional.
Apakah Perang Akan Intens dan Lama?
Dunia bertanya-tanya: apakah ini awal dari perang terbuka? Iran bukan Irak era Saddam atau Libya era Gaddafi. Iran punya misil, punya pengaruh regional, dan punya rakyat yang siap berkorban. Tapi Iran juga bukan negara yang gegabah. Mereka menyadari bahwa Israel berharap memancing respons berlebihan, yang akan melegitimasi serangan berikutnya atau bahkan intervensi lebih besar.
“Perang panjang sangat mungkin dicegah. Namun perang singkat yang menghancurkan sebagian infrastruktur sipil dan militer bisa saja terjadi. Justru inilah yang mengkhawatirkan: benturan terbatas yang menghancurkan harga minyak, mengguncang pasar finansial, dan membuka celah bagi kekuatan ekstrem lain untuk bangkit dari kekosongan, ” ujarnya.
Iran punya dua kartu. Pertama, bertahan dengan mengonsolidasikan rakyat, mengamankan situs nuklir yang tersisa, dan memperkuat simpati internasional dengan menahan diri. Kedua, menyerang balasan langsung dengan pernyataan deklarasi perang.
Sepertinya Iran tidak akan menghindari respons frontal langsung yang berbeda saat serangan Iran ke Israel 13-14 April 2024 dan Operation True Promise 2 pada 1 Oktober 2024. Mereka akan mengerahkan total kekuatannya karena tidak ada pilihan di saat Israel memiliki target lain untuk menjatuhkan rezim berkuasa. Perang yang akan dilakukan dengan cara cerdas dan tidak konvensional.
Serangan siber, sabotase diam-diam, atau tekanan asimetris terhadap Israel melalui proxy yang masih tersedia bukanlah mustahil.
Lanjutjya, ketika bifurkasi politik kawasan terjadi di tengah dua pusat konflik—Ukraina dan Timur Tengah—bernyala bersamaan, dunia yang sudah rapuh secara ekonomi dan politik kini menghadapi risiko triple shock: krisis energi, instabilitas keuangan dan ekonomi,, dan polarisasi global. Harga minyak mentah melonjak di bursa Asia. Bursa Eropa dibuka dalam kepanikan. Bahkan kripto pun terpukul.
Di balik semua itu, krisis ini mempertegas satu hal: dunia belum siap menghadapi babak baru konflik di Timur Tengah. Lembaga multilateral lemah. AS terfragmentasi konflik internal dan komitmen luar negeri yang ambigu. Eropa dilema. Rusia stagnan. Cina rumit di internal elitnya. Maka dunia sekali lagi terperangkap dalam kekacauan yang diciptakannya sendiri.
Dunia terlalu sering menunggu hingga semuanya terlambat. Saat ini, bukan hanya Iran atau Israel yang berkonflik. Ini adalah potensi badai global yang bisa menyeret semua pihak. Perlu keberanian politik dan visi strategis dari kekuatan-kekuatan besar untuk menahan diri, membuka ruang diplomasi, dan menghindari logika saling menghancurkan.
I”ndonesia dan negara-negara di Global South tidak boleh hanya menonton. Netralitas bukan berarti diam. Dalam dunia yang makin dipenuhi api, suara dari tengah bisa jadi satu-satunya harapan untuk perdamaian yang rasional, ” harapnya.
Kini saatnya dunia mulai benar-benar khawatir dan bertindak sebelum semuanya terlambat. (FIE)
