BANDUNG, BERNAS.ID – Di Jabar Masalah sampah belum temukan titik terang. Di tengah gempuran produksi sampah harian yang terus meningkat, pemerintah pusat bersama daerah kini andalkan peran aktif masyarakat melalui Duta Pilah Sampah sebagai garda terdepan edukasi dan perubahan perilaku di tingkat akar rumput.
Upaya ini tercermin dalam kegiatan Capacity and Capability Building Duta Pilah Sampah PPAM yang digelar di Hotel Grand Tjokro, Bandung, Rabu (23/7/2025), sebagai bagian dari program ISWMP (Integrated Sustainable Waste Management Program) Kementerian PUPR.
Pelatihan ini dibuka secara resmi oleh Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Jawa Barat yang diwakili oleh Shanty Elizabeth Maretina Hutagalung, ST, MT. Ia menekankan bahwa kampanye edukatif soal pemilahan dan pengelolaan sampah dari hulu harus menjadi prioritas untuk mengubah pola pikir masyarakat.
“Kami tidak hanya bicara soal infrastruktur pengolahan, tapi juga perubahan suprastruktur: manusia dan pola perilakunya,” tegas Shanty.
BACA JUGA : Anak 8 Tahun Ikut Jadi Korban di Pesta Pernikahan Anak Gubernur, KDM Mengeklaim Begini
PR Besar di Hulu, Bukan Sekadar TPS
Pejabat Pembuat Komitmen Balai Penataan Bangunan dan Kawasan Jawa Barat, Hanif Gufron, ST, MT, menilai penyelesaian sampah harus dimulai dari hulu, bukan menunggu saat sampah menumpuk di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) atau TPST.
“Banyak kabupaten/kota yang masih punya PR besar. Permasalahan sampah ini harus ditangani dari sumbernya, dimulai dari rumah tangga,” ujar Hanif.
Menurutnya, Duta Pilah Sampah harus menjadi ujung tombak edukasi masyarakat, mengajarkan cara memilah dan mengelola sampah sejak dari rumah, serta mengenalkan nilai ekonomi dari daur ulang.
BACA JUGA : KDM : Tuan Rumah Persib Mengalah, Final Piala Presiden 2025 Port FC Vs Oxford United
Pemilahan Sampah Kurangi Beban Negara
Sementara itu, Ir. Sandhi Eko Bramono, Ph.D, Ketua CPMU ISWMP Direktorat Sanitasi Kementerian PUPR, menjelaskan bahwa pemilahan sampah di sumber memiliki dampak langsung terhadap efisiensi pengelolaan.
“Dengan memilah di awal, biaya pengelolaan bisa ditekan, mesin TPST juga bekerja lebih optimal. Masyarakat sebagai produsen sampah harus ikut bertanggung jawab, termasuk membayar retribusi,” tegasnya.
BACA JUGA : Jalur Prestasi SPMB 2025 tingkat SMP Bermasalah, Disdik Kota Bandung Disomasi
Membangun Kader Lingkungan dari Desa
Luckyman, Team Leader PPAM Jabar 2, menyampaikan bahwa pelatihan ini juga menanamkan strategi replikasi keberhasilan program hingga ke desa-desa.
“Kami membekali peserta dengan strategi teknis termasuk metode pemicuan perubahan perilaku sanitasi dan pengelolaan sampah,” katanya.
Hal senada disampaikan oleh Muslich Basri, Team Leader PPAM Jabar Wilayah 1. Menurutnya, program ini menitikberatkan pada tiga hal:
Menempatkan kader terbaik desa dan kelurahan sebagai penggerak utama.
Membangun sistem pengelolaan sampah dari sumbernya, bukan dari ujung.
Membangun komitmen jangka panjang dari para Duta Pilah Sampah untuk menularkan ilmunya dan mereplikasi kesuksesan di wilayah masing-masing.
“Mereka bukan sekadar peserta pelatihan, mereka adalah motor penggerak perubahan lingkungan yang lebih bersih dan sehat,” tandas Muslich.
Pelatihan ini menandai bahwa pengelolaan sampah tak lagi cukup hanya mengandalkan infrastruktur, tapi juga kekuatan perubahan perilaku masyarakat. Duta Pilah Sampah diharapkan menjadi garda depan dalam membangun budaya baru: memilah dan mengelola sampah dari sumber sebagai wujud tanggung jawab bersama menyelamatkan lingkungan Jawa Barat.(ARIS)
