JAKARTA,BERNAS.ID – Reshuffle kabinet 4 menteri dan menambah satu kementerian oleh presiden Prabowo dapat dibaca sebagai respon cepat atas situasi politik sejak tanggal 25 hingga akhir Agustus.
Meskinpun begitu, dasar dan pertimbangan atas beberapa menteri ini tidak seregam. Banyak sebab dan faktor. Jadi tidak tuggal semata karena situasi perkembangan politik terakhir.
Pengamat Politik Lingkar Madani Ray Rangkuti menguraikan, dari Sri Mulyani yang anti klimak.Kabar ibu Sri Mulyani mundur dari kabinet Prabowo telah santer beredar pada tanggal 27 dan 28 kemarin. Paska rumahnya dijarah oleh massa yang membuatnya disebut-sebut sangat kecewa.
Baca Juga :Presiden Prabowo Reshuffle Kabinet, Sri mulyani Lengser
” Tapi, di luar alasan psikologis itu, soal kejenuhan dan mulai mentoknya ide-ide kreatif menangani persoalan ekonomi.
Saya kira juga mempengaruhi keputusan ibu Sri Mulyani di reshuffle. Ditambah beban dan tuntutan kerja yang pada tingkat tertentu, sulit diterima oleh Sri Mulyani. Dan, bisa saja hal itu dilihat Prabowo sebagai faktor mereshufflenya. Jadi ini 2 pandangan yang saling bertemu,” urai Ray, Senin (8/9/2025).
Menurut Ray, baik presiden Prabowo maupun Sri Mulyani mulai saling sulit mendapat ritme kerja yang padu. Tapi, apapun sebabnya, reshuffle Sri Mulyani ini menempatkannya dalam posisi anti klimak. Dari segi momentum, maupun kinerja.
Baca Juga :Masyarakat Batak Yakin Prabowo Akan Bersama Rakyat Hingga 2029
Mungkin akan berbeda cerita jika Sri Mulyani mundur kala terjadi protes publik atas pencalonan Gibran sebagai cawapres. Saat itu telah beredar kabar bahwa Sri Mulyani, dan beberapa anggota kabinet lain, sedang mempertimbangkan untuk mundur dari kabinet Jokowi. Tapi tak terjadi sampai berganti Presiden.
” Jika kala itu Sri Mulyani pergi, mungkin gemuruh tepuk tangan akan menyertainya. Tapi, beliau memilih mundur sekarang. Dan tak ada tepuk tangan salut atas hal itu. Anti klimaks,” tutup Ray. (FIE)
