JAKARTA,BERNAS.ID – Dalam rangka mendukung program nasional percepatan penurunan stunting, tim dosen dan mahasiswa Fakultas Farmasi dari *Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta* melaksanakan kegiatan *Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)* dengan program pendanaan dari penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikbudristek) 2025 atau biasa dikenal juga dengan *Hibah BIMA 2025*.
Program bertajuk: Skrining dan Optimalisasi Penggunaan Vitamin D Pada Ibu Hamil Dalam Pencegahan Stunting”*
ini dilaksanakan di *wilayah RW 06, Kelurahan Kebon Bawang, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara*, dengan pendekatan edukatif dan teknologi tepat guna yang menyasar langsung kelompok rentan: *ibu hamil*.
Baca Juga :Pemkot Jogja Canangkan Pencegahan Stunting di 2 Kelurahan, Serta Rehabilitasi 5 Rumah
Dipimpin oleh *Prof. apt. Diana Laila Ramatillah, M.Farm., Ph.D*, program ini tidak hanya mengedukasi, tetapi juga memperkenalkan *inovasi alat pemanggang kacang kedelai* — sebuah alat sederhana namun berdampak besar, yang *baru pertama kali dibuat dan belum tersedia di pasaran*.
Tiga Tahapan Kegiatan PKM: Edukasi, Inovasi, dan Evaluasi Dampak
Edukasi Kesehatan dan Skrining Dasar
Baca Juga :Cegah Stunting untuk 1000 Balita, PAM Jaya Sabet Padmamitra Award 2024
Kegiatan pertama diawali dengan *penyuluhan tentang bahaya stunting, pentingnya vitamin D bagi ibu hamil, dan cara pencegahannya melalui pola makan sehat*, terutama dari sumber pangan lokal seperti kacang kedelai.
Peserta juga mengikuti *skrining kesehatan dasar* serta *mengisi kuesioner pre-test* untuk mengukur pengetahuan awal mereka terkait gizi dan pencegahan stunting.
Penyerahan dan Demonstrasi Alat Inovatif
Pada pertemuan kedua, para ibu hamil menerima *alat pemanggang kacang kedelai inovatif*, hasil rancangan tim PKM yang dirancang untuk *mempertahankan kandungan nutrisi, khususnya vitamin D*, saat proses pemanggangan.
Demonstrasi langsung diberikan agar peserta dapat mengoperasikan alat ini secara mandiri di rumah.
“Alat ini merupakan karya orisinal kami dan belum ada di pasaran. Kami rancang untuk menjadi solusi sederhana, efektif, dan terjangkau dalam mendukung pemenuhan gizi ibu hamil,” jelas Prof. Diana.
Evaluasi Dampak, Post-Test, dan Feedback
Dua minggu setelah penggunaan alat, tim kembali ke lokasi untuk melakukan *evaluasi dampak dan efektivitas program*.
Pada sesi ini, para peserta diminta *mengisi kuesioner post-test* untuk melihat sejauh mana peningkatan pemahaman mereka setelah mengikuti rangkaian kegiatan.
Selain itu, tim juga melakukan diskusi langsung guna menggali *feedback dan pengalaman para ibu hamil* setelah menggunakan alat tersebut.
Hasilnya sangat positif — mayoritas peserta merasa lebih mudah mengolah kacang kedelai, lebih rutin mengonsumsinya, dan menyadari pentingnya nutrisi selama masa kehamilan.
“Saya jadi lebih semangat makan sehat. Alatnya membantu sekali, dan saya jadi paham kenapa vitamin D penting buat janin,” ujar salah satu ibu peserta program.
Inovasi Bernilai Edukasi, Gizi, dan Sosial Ekonomi
Kegiatan ini menunjukkan sinergi kuat antara *dosen dan mahasiswa Fakultas Farmasi* dalam menerapkan ilmu farmasi di tengah masyarakat.
Dengan metode edukasi dan teknologi tepat guna, program ini diharapkan menjadi model yang dapat direplikasi di wilayah lain dengan risiko stunting tinggi.
“Solusi besar tidak harus mahal atau kompleks. Terkadang, alat sederhana dengan pendekatan tepat sasaran bisa membawa perubahan besar,” pungkas Prof. Diana.*
