JAKARTA, BERNAS.ID – Profesi terapis olahraga semakin diakui sebagai unsur penting dalam pembinaan atlet. Ketua Umum Persatuan Terapis Olahraga Indonesia (PTOI) Jakarta, Drs. Firmansyah, M.Pd, menegaskan bahwa terapi olahraga bukan jasa pijat biasa, melainkan disiplin berbasis ilmu olahraga yang berperan menjaga performa dan mencegah cedera.
“Terapi olahraga ini bagian dari satu kesatuan proses menuju prestasi. Dari latihan sampai kompetisi, kami terlibat langsung,” kata Firmansyah.
Baca Juga : Mahasiswa Instiper Yogyakarta Selenggarakan ASEAN Palm Oil Student Association Forum 2024
Firmansyah menjelaskan, terapis olahraga berperan besar dalam pemulihan atlet setelah latihan intensif. Penanganan dilakukan dengan pendekatan ilmiah agar performa tetap terjaga.
“Untuk mencapai performa maksimal dan terlindungi, perlu penanganan terkait faal dan anatomi, terutama yang berkaitan dengan cedera,” ujarnya. Ia menambahkan, karakter cedera olahraga berbeda dengan cedera umum sehingga penanganannya tidak bisa sembarangan.
Melalui pemahaman anatomi dan mekanisme gerak, terapis olahraga membantu meminimalkan risiko cedera sekaligus menjaga kondisi tubuh atlet sebelum kembali bertanding.
Firmansyah menekankan perbedaan antara terapi olahraga dan pijat tradisional. Terapis olahraga umumnya memiliki latar belakang pendidikan sarjana olahraga serta memahami teknik gerak dan jenis cedera yang muncul akibat aktivitas fisik.
“Minimal mereka sarjana olahraga, memahami mekanisme tubuh, teknik olahraga, dan tahu bagaimana menangani cedera akibat kesalahan gerak,” katanya.
Baca Juga : Pemprov DKI Tolak Alih Fungsi Lapangan Kedoya, Fokus untuk Olahraga Warga
PTOI mencatat minat terhadap profesi ini meningkat, terutama dari mahasiswa olahraga yang tidak mengambil jalur kepelatihan. Menurut Firmansyah, setiap cabang olahraga membutuhkan tenaga terapis untuk mendukung performa atlet.
Layanan terapi olahraga juga tidak terbatas bagi atlet. “Cedera olahraga bisa dialami siapa saja. Masyarakat umum yang aktif berolahraga juga bisa memanfaatkannya,” ujar Firmansyah.
Untuk menjamin kualitas layanan, PTOI menyiapkan program sertifikasi dan uji kompetensi berjenjang. Proses ini akan dilakukan oleh praktisi senior.
“Uji kompetensinya dilakukan ber-level, dari dasar hingga lanjutan. Tujuannya agar profesi ini lebih profesional dan memiliki standar jelas,” kata Firmansyah.
Ia berharap sertifikasi dapat memperkuat legitimasi profesi terapis olahraga, sekaligus memastikan kompetensi para praktisinya.
Firmansyah menyebut meningkatnya tuntutan kompetisi olahraga menempatkan terapis olahraga sebagai profesi strategis dalam menjaga kebugaran dan masa depan karir atlet.
“Kami ada untuk merawat para pelaku olahraga supaya bisa mendapatkan prestasi maksimal,” tegasnya. (DID)
