YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Sebuah gebrakan luar biasa kembali ditorehkan Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo (STIPRAM) Yogyakarta.
Melalui seminar bertajuk “Inovasi dan Adaptasi terhadap Perilaku Wisatawan Baru sebagai Strategi Peningkatan Daya Saing Pariwisata”, STIPRAM sukses menghadirkan forum akademik yang membakar semangat kolaborasi dan inovasi di tengah tantangan pariwisata global yang terus berubah.
Diselenggarakan pada Sabtu (6/12/2025) di Royal Darmo Malioboro Hotel Yogyakarta, seminar ini menjadi panggung kolaborasi lintas jenjang pendidikan D3, S1, dan S2 dengan Program Studi S2 Pariwisata sebagai tuan rumah.
Tak kurang dari 95 peserta, terdiri dari 73 peserta luring dan 24 daring, turut ambil bagian dalam forum prestisius ini.
Kurikulum OBE Jadi Pondasi, Mahasiswa Ditempa Jadi Inovator Pariwisata
Dr. Amin Kuswantoro, M.Par., Ketua Program Studi S2 Pariwisata STIPRAM, menegaskan bahwa seminar ini bukan sekadar kegiatan akademik biasa.
“Ini adalah bagian dari capaian pembelajaran mata kuliah Tourism Behavior, Innovation and Tourism Competitiveness, serta Travel Management. Kami menerapkan kurikulum Outcome-Based Education (OBE), yang menekankan pada hasil nyata, bukan sekadar output,” terangnya.
Amin menambahkan, dengan pendekatan OBE, mahasiswa tidak hanya dibekali teori, tetapi juga ditantang untuk menganalisis tren perilaku wisatawan dan merumuskan strategi inovatif yang mampu meningkatkan daya saing destinasi wisata, baik di tingkat nasional maupun global.
Menyambut “Pariwisata Naik Kelas”: Marine & Wellness Tourism Jadi Sorotan
Isu-isu strategis turut dibedah dalam seminar ini, termasuk program unggulan pemerintah “Pariwisata Naik Kelas” yang menitikberatkan pada pengembangan marine tourism dan wellness tourism.
“Pemahaman terhadap perilaku wisatawan menjadi kunci agar kita bisa menyelaraskan program pemerintah dengan kebutuhan pasar. Kita harus bisa nge-blend,” ujar Amin.
Mahasiswa: Siap Jadi Agen Perubahan Pariwisata
Koordinator Acara, Nanda Rhestu Octaviani, S.Par., menyampaikan, bahwa seminar ini juga menjadi ajang refleksi dan proyeksi masa depan bagi para mahasiswa.
“Kami berdiskusi tentang bagaimana ilmu pariwisata bisa diterapkan di dunia kerja. Harapannya, kami bisa menjadi insan pariwisata yang berkualitas dan intelektual,” ujarnya.
Ia menambahkan, meskipun program S2 Pariwisata STIPRAM bersifat umum, setiap mahasiswa memiliki konsentrasi bidang masing-masing, mulai dari marketing, tourism behavior, hingga engineering, mencerminkan luasnya spektrum industri pariwisata.
Jogja Kota Budaya yang Siap Menyongsong Transformasi Pariwisata
Salah satu pembica, Joko Paromo, S.Par., menyampaikan kebanggaannya atas terselenggaranya seminar ini.
“Tren pariwisata global berubah drastis. Kita harus adaptif dan inovatif dalam menghadapi perilaku wisatawan yang dinamis. Jogja sebagai kota budaya punya potensi luar biasa, tapi harus dikelola secara keroyokan, guyub rukun, dan bersinergi melalui pendekatan pentahelix,” ungkap GM Royal Darmo Malioboro Hotel Yogyakarta ini.
Semangat Kolaborasi, Kunci Masa Depan Pariwisata
Seminar ini menjadi bukti nyata bahwa STIPRAM Yogyakarta tidak hanya mencetak lulusan, tetapi juga mempersiapkan pemimpin masa depan pariwisata yang siap berinovasi, beradaptasi, dan berkolaborasi.
Dengan semangat keroyokan, STIPRAM mengajak seluruh elemen untuk bersama-sama membangun pariwisata Indonesia yang tangguh, berdaya saing, dan mendunia. (cdr)
