YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Di tengah gejolak kenaikan harga Pertamax dan kelangkaan Pertalite yang melanda berbagai daerah, termasuk DIY, sektor transportasi daring menghadapi ujian berat.
Namun, JogjaKita, aplikasi ojek daring asli Yogyakarta, justru tampil dengan strategi spektakuler yaitu efisiensi operasional dan penguatan ekonomi lokal.
Tantangan BBM, Suara Pengemudi Menggema
Krisis BBM membuat banyak pengemudi ojek daring menuntut kenaikan tarif. Tekanan biaya operasional semakin terasa, dan keresahan pun merebak.
Baca Juga : Pemerintah Harusnya Beri Insentif ke Ojol, Bukan Batasi Pemakaian BBM Subsidi
Namun, Direktur JogjaKita, Suroto, mengambil langkah berbeda. Ia menegaskan bahwa JogjaKita tidak akan terburu-buru menaikkan tarif.
“Prioritas kami adalah efisiensi kerja dan memperbanyak pesanan untuk mitra pengemudi, bukan sekadar menaikkan harga,” ujarnya, Kamis (11/6/2026).
Fokus Efisiensi & Dukungan Lokal
JogjaKita mengusung strategi jitu:
– Efisiensi distribusi pesanan agar jarak tempuh lebih singkat dan hemat BBM.
– Kampanye “Pesan Lokal, Bantu Lokal” yang mendorong masyarakat memilih layanan JogjaKita demi mendukung UMKM dan perputaran ekonomi daerah.
– Peluang pesanan lebih banyak untuk menjaga pendapatan pengemudi tetap stabil.
Suroto juga mengimbau pengemudi untuk tetap mengutamakan keselamatan dan pelayanan prima. Setiap transaksi di JogjaKita bukan hanya menguntungkan pengemudi, tetapi juga memperkuat UMKM.
Baca Juga : Komunitas UMKM di DIY Tanggapi Revisi UU P2SK: Ada Harapan, Tapi Butuh Bukti Nyata di Lapangan
“Dengan memilih layanan lokal, masyarakat ikut menjaga roda ekonomi Yogyakarta tetap berputar,” kata Suroto penuh optimisme.
Harapan untuk Pemerintah
Di akhir pernyataannya, Suroto menyerukan agar pemerintah segera menuntaskan masalah distribusi BBM.
“Transportasi adalah tulang punggung aktivitas ekonomi. Kami berharap pasokan segera pulih dan tepat sasaran,” pungkasnya.
Dengan langkah berani ini, JogjaKita bukan sekadar aplikasi transportasi daring, melainkan simbol ketahanan ekonomi lokal di tengah badai krisis energi. (cdr)
