Palu, Bernas.id — Perum Bulog Wilayah Sulawesi Tengah (Sulteng) menargetkan penyerapan pangan pada 2026 sebanyak 11.000 ton beras dan 3.200 ton jagung. Target ini meningkat dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya yang tercatat sekitar 8.000 ton setara beras.
Pimpinan Wilayah Bulog Sulteng, Jusri Pakke, menyampaikan bahwa target ini merupakan penugasan dari pemerintah pusat sebagai bagian dari upaya memperkuat cadangan pangan pemerintah dan menjaga ketahanan pangan daerah.
“Untuk tahun ini, kami menargetkan penyerapan 11.000 ton beras dan 3.200 ton jagung. Kami akan memaksimalkan penyerapan saat panen raya, yang diperkirakan mulai Maret,” ujar Jusri Pakke, di Palu, Kamis (19/2).
Bulog Sulteng telah memetakan sejumlah daerah sentra produksi di wilayah pantai barat dan pantai timur, seperti Parigi, Morowali, dan Luwuk. Beberapa daerah seperti Ampana, Tolitoli, dan Sigi telah mulai memasok jagung ke gudang Bulog.
Untuk mempermudah proses penyerapan, Bulog membagi target ke cabang-cabang Bulog di setiap kabupaten/kota. Langkah ini diambil guna memastikan distribusi beban kerja yang merata serta mempercepat realisasi pengadaan.
Selain beras, Bulog juga mendorong pembelian gabah dari petani. Menurut Bulog, pembelian gabah dinilai lebih menguntungkan bagi petani karena harga yang lebih baik. Namun, tantangan utama adalah sosialisasi kepada petani yang selama ini terbiasa menjual dalam bentuk beras.
“Secara harga, menjual gabah sebenarnya lebih menguntungkan. Namun, banyak petani yang masih merasa lebih jelas hasilnya jika menjual beras. Sosialisasi terkait hal ini terus kami lakukan,” ujarnya.
Bulog juga terus memperkuat koordinasi dengan dinas pertanian dan penyuluh pertanian untuk memastikan informasi harga serta mekanisme pembelian yang lebih transparan. Langkah ini bertujuan mendukung kebijakan pangan nasional yang disampaikan oleh Menteri Pertanian.
Dengan terbatasnya pasokan beras dari luar daerah, Bulog optimis penyerapan hasil panen lokal dapat memenuhi kebutuhan stok pemerintah sekaligus menjaga kestabilan harga di tingkat petani.
