Oleh : Herliana Riska, SST.,M.Keb (Dosen Universitas Sebelas Maret Surakarta) dan Nur Khasanah, SST.,M.Kes (Dosen Universitas Respati Yogyakarta)
Menjelang Hari Kartini, pembicaraan tentang emansipasi perempuan sering berhenti pada satu slogan yang dangkal: perempuan sekarang bisa melakukan semuanya. Kalimat itu terdengar memuji, tetapi diam-diam menyimpan jebakan. Ketika perempuan dianggap bisa melakukan semuanya, sebagian laki-laki justru mulai merasa aman untuk tidak melakukan cukup banyak hal.
Mereka merasa tidak perlu lagi menjadi penopang utama keluarga, tidak perlu sigap terhadap beban rumah tangga, dan tidak perlu hadir penuh dalam kerja emosional yang menjaga keluarga tetap waras.
Baca Juga : Sambut Hari Kartini, PAM Jaya dan TP PKK Bagikan 100 Toren Air Gratis untuk Warga Koja
Di titik inilah kita berhadapan dengan persoalan yang lebih dalam daripada sekadar perubahan peran gender. Kita sedang menyaksikan maskulinitas yang terkikis, bukan karena laki-laki berhenti dominan, melainkan karena sebagian dari mereka berhenti merasa bertanggung jawab.
Masalahnya, pergeseran ini sering dibungkus dengan bahasa kemajuan. Seolah-olah karena perempuan kini berpendidikan, bekerja, dan mampu menopang keluarga, maka laki-laki boleh menurunkan kadar tanggung jawabnya.
Padahal, kesetaraan tidak pernah berarti pengunduran diri salah satu pihak dari kewajibannya. Kesetaraan semestinya berarti dua orang dewasa berbagi beban hidup secara adil, bukan satu pihak memikul lebih banyak karena pihak lain merasa dunia modern telah membebaskannya dari tugas lama.
Dalam banyak masyarakat, identitas laki-laki memang sejak lama dilekatkan pada norma male breadwinner, yakni anggapan bahwa laki-laki harus memprioritaskan keberhasilan karier dan menjadi pencari nafkah utama keluarga.
Riset Gonalons-Pons dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa norma ini bukan sekadar pembagian kerja praktis, melainkan bagian dari budaya yang membentuk identitas maskulinitas dan relasi keluarga 1. Dengan kata lain, peran provider bagi laki-laki bukan cuma soal uang, melainkan soal harga diri, legitimasi sosial, dan pengakuan sebagai orang dewasa.
Namun, dari sini kita juga perlu berhati-hati. Mengkritik maskulinitas lama tidak berarti kita harus menertawakan peran provider atau menganggapnya usang. Sebaliknya, menghapus seluruh makna tanggung jawab nafkah dari diri laki-laki justru dapat melahirkan kekeliruan baru.
Sebab, jika dulu maskulinitas rusak karena terlalu bertumpu pada kuasa, hari ini ia dapat rusak dengan cara lain: laki-laki merasa sah untuk tidak menyediakan, tidak mengasuh, dan tidak memikul kerja mental keluarga secara setara. Ia tidak lagi dominan, tetapi juga tidak dewasa.
Jurnal tentang pengalaman ayah dalam relasi kerja dan keluarga membantu kita melihat persoalan ini lebih jernih. Huffman dan koleganya menemukan bahwa keyakinan peran gender yang lebih tradisional berkaitan dengan jam kerja yang lebih panjang, dan jam kerja itu memediasi konflik kerja-ke-keluarga berbasis waktu 2.
Temuan ini penting karena ia menunjukkan bahwa model ayah yang semata-mata diukur dari kerja di ranah publik juga bermasalah. Menjadi provider tanpa menjadi hadir tetap dapat melukai keluarga.
Tetapi pelajaran dari sini bukan bahwa laki-laki lalu boleh menyerah dari tanggung jawab ekonomi. Pelajarannya adalah bahwa nafkah saja tidak cukup, sementara absen dari nafkah juga bukan solusi.
Hari ini, banyak anak laki-laki tumbuh dengan pemandangan yang rumit di rumah. Mereka melihat ibunya bekerja, mengatur kebutuhan rumah tangga, memikirkan sekolah anak, menjaga hubungan antarkeluarga, menghitung pengeluaran, dan pada saat yang sama tetap menjadi jangkar emosi rumah.
Pengalaman semacam ini dapat menghasilkan dua kemungkinan. Pertama, ia bisa melahirkan generasi laki-laki yang belajar menghormati kerja perempuan dan ingin menjadi pasangan yang setara. Kedua, dan ini yang berbahaya, ia bisa membentuk kebiasaan batin bahwa keluarga akan tetap berjalan sekalipun laki-laki tidak mengambil porsi tanggung jawab yang cukup.
Penelitian Perales dan rekan-rekannya tentang transmisi antargenerasi sikap gender menunjukkan bahwa sikap ayah dan ibu sama-sama memengaruhi pandangan anak tentang peran laki-laki dan perempuan 3. Mereka juga menemukan bahwa ketika salah satu orang tua memegang sikap egaliter, pengaruh sikap tradisional dari orang tua lain dapat melemah 3.
Temuan ini penting untuk konteks kita. Anak tidak belajar terutama dari ceramah moral, melainkan dari pola hidup yang ia saksikan setiap hari. Jika seorang anak laki-laki terus-menerus melihat ibunya memikul banyak hal sementara ayahnya tidak menunjukkan tanggung jawab yang setara, maka ia bisa mewarisi persepsi keliru tentang apa yang normal dalam keluarga.
Di sinilah istilah beban mental atau mental load menjadi relevan. Banyak orang masih mengira pekerjaan rumah tangga hanya soal menyapu, memasak, atau mencuci. Padahal, ada kerja yang lebih senyap: mengingat jadwal, merencanakan kebutuhan, mengantisipasi krisis, mengatur anggaran, memilih prioritas, dan memastikan seluruh sistem keluarga tetap berjalan.
Haupt dan Gelbgiser menjelaskan bahwa kerja kognitif rumah tangga mencakup pengelolaan anggaran, perencanaan aktivitas keluarga, antisipasi kebutuhan, pendelegasian tugas, pengambilan keputusan, dan pemantauan hasil 4. Mereka juga menemukan bahwa porsi kerja kognitif yang tinggi meningkatkan konflik keluarga-kerja pada perempuan, tetapi tidak pada laki-laki 4.
Artinya, ketika seorang ibu memikul beban ekonomi sekaligus beban mental keluarga, yang terjadi bukan sekadar pembagian peran yang fleksibel. Yang terjadi bisa jadi adalah ketimpangan baru yang dibungkus sebagai kemajuan.
Perempuan dipuji sebagai kuat, tangguh, dan bisa diandalkan, tetapi pujian itu sering menutupi fakta bahwa ia sedang dibiarkan bekerja dua atau tiga shift sekaligus.
Dalam suasana seperti itu, sebagian laki-laki merasa aman karena rumah tetap berjalan. Aman karena ada ibu yang sanggup. Aman karena ada istri yang terbiasa menutup kekurangan. Aman karena ketidakhadirannya tidak segera menjatuhkan sistem keluarga. Padahal rasa aman semacam itu adalah ilusi yang dibangun di atas kelelahan perempuan.
Hari Kartini seharusnya tidak dibaca sebagai perayaan perempuan yang sanggup menggantikan semua orang. Kartini tidak memperjuangkan pendidikan perempuan agar laki-laki dapat menjadi penonton yang santai di rumah tangganya sendiri.
Gagasan emansipasi justru menuntut kedewasaan baru dari laki-laki. Jika perempuan bergerak maju di ruang publik, maka laki-laki juga harus bergerak maju di ruang domestik, emosional, dan moral. Ia tetap perlu punya etos menyediakan.
Ia tetap perlu merasa terpanggil menjadi sandaran. Tetapi sandaran hari ini tidak boleh dimaknai sempit sebagai mesin uang. Ia harus hadir sebagai penanggung jawab yang utuh.
Dalam literatur tentang caring masculinity, Hunter, Riggs, dan Augoustinos menunjukkan bahwa maskulinitas yang merawat muncul sebagai respons atas model maskulinitas hegemonik, meski relasinya dengan model lama tetap kompleks 5.
Baca Juga : Kakansar Palu Sampaikan Ucapan Hari Kartini 2026
Bagi saya, ini menawarkan jalan yang lebih sehat. Laki-laki tidak perlu memilih antara menjadi provider atau menjadi pengasuh. Dikotomi itu sudah usang. Yang dibutuhkan keluarga justru laki-laki yang mau bekerja, mau hadir, mau mengasuh, mau memikirkan, dan mau menanggung.
Bukan lelaki yang hanya membawa uang lalu absen dari kehidupan batin keluarganya, dan bukan pula lelaki yang merasa modern karena tak lagi malu hidup dari jerih payah perempuan tanpa memberi timbal balik yang setara.
Karena itu, kritik terhadap maskulinitas yang terkikis bukanlah kerinduan pada patriarki. Ini justru kritik terhadap kegagalan laki-laki memasuki bentuk kedewasaan yang baru. Kita tidak sedang meminta laki-laki kembali menjadi penguasa rumah tangga. Kita sedang meminta mereka berhenti menjadi penumpang dalam rumah tangga yang mereka bangun sendiri.
Dalam semangat Hari Kartini, perempuan memang layak berdiri setara. Tetapi justru karena perempuan setara, laki-laki dituntut untuk hadir dengan mutu tanggung jawab yang lebih tinggi, bukan lebih rendah.
Jika ada satu kalimat yang patut kita bawa ke Hari Kartini tahun ini, mungkin bunyinya begini: emansipasi perempuan tidak pernah dimaksudkan untuk mengurangi kewajiban laki-laki, melainkan untuk memurnikan kembali arti tanggung jawab dalam keluarga. Laki-laki tidak harus selalu menjadi satu-satunya provider.
Tetapi ia tidak boleh merasa aman ketika ia gagal menyediakan, gagal hadir, dan gagal memikul beban hidup bersama. Sebab keluarga yang sehat tidak dibangun oleh siapa yang paling berkuasa, melainkan oleh siapa yang paling bersedia bertanggung jawab.
Referensi
1. Gonalons-Pons, P., Gangl, M., & Van Bavel, J. (2021). Marriage and Masculinity: Male-Breadwinner Culture, Unemployment, and Separations. American Sociological Review. https://doi.org/10.1177/00031224211012442
2. Huffman, A. H., Olson, K. J., O’Gara Jr., T. C., & King, E. B. (2014). Gender role beliefs and fathers’ work-family conflict. Journal of Managerial Psychology, 29(7), 774–793. https://doi.org/10.1108/JMP-11-2012-0372
3. Perales, F., Hoffmann, H., King, T., Vidal, S., & Baxter, J. (2021). Mothers, fathers and the intergenerational transmission of gender ideology. Social Science Research, 99, 102597. Ringkasan awal tersedia di https://lifecoursecentre.org.au/working-papers/mothers-fathers-and-the-intergenerational-transmission-of-gender-role-attitudes-2/ dan versi terbit di https://doi.org/10.1016/j.ssresearch.2021.102597
4. Haupt, A., & Gelbgiser, D. (2024). The gendered division of cognitive household labor, mental load, and family–work conflict in European countries. European Societies, 26(3), 828–854. https://doi.org/10.1080/14616696.2023.2271963
5. Hunter, S. C., Riggs, D. W., & Augoustinos, M. (2017). Hegemonic masculinity versus a caring masculinity: Implications for understanding primary caregiving fathers. Social and Personality Psychology Compass, 11(3), e12307. https://doi.org/10.1111/spc3.12307
