Sigi, Bernas.id — Anggota DPRD Sulawesi Tengah dari Daerah Pemilihan Sigi-Donggala sekaligus Ketua Badan Kehormatan DPRD Sulawesi Tengah Fraksi Golkar, H. Musliman, mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman gempa bumi yang sewaktu-waktu dapat terjadi di wilayah Sulawesi Tengah, Kabupaten Sigi, Kota Palu, Donggala dan sekitarnya.
Menurut Musliman, posisi geografis Sulteng yang berada di kawasan pertemuan tiga lempeng tektonik besar dunia membuat wilayah tersebut memiliki risiko gempa yang tinggi dan harus disikapi dengan kesiapan yang matang.
“Kalau kita memilih tinggal di Sulteng berarti kita harus siap menerima risiko gempa setiap saat. Yang terpenting adalah bagaimana kita mengurangi dampak dan korban melalui kesiapsiagaan,” kata Musliman, Kamis (19/6).
Ia menjelaskan, gempa yang terjadi di Sigi, Palu merupakan gempa tektonik yang dipicu oleh pergerakan dan gesekan lempeng Eurasia, Pasifik, dan Australia di bawah permukaan bumi. Aktivitas tersebut terus berlangsung dan menjadi penyebab gempa berulang di Sulawesi Tengah.
Karena itu, Musliman menilai pembangunan rumah dan fasilitas publik yang tahan gempa harus menjadi perhatian utama masyarakat maupun pemerintah. Ia mendorong penggunaan konstruksi bangunan yang lebih fleksibel agar mampu meredam guncangan saat gempa terjadi.
Selain memperkuat bangunan, masyarakat juga diminta memahami langkah-langkah penyelamatan diri ketika gempa terjadi. Salah satunya dengan memastikan akses keluar rumah mudah dijangkau dan segera menuju lokasi yang lebih aman setelah guncangan terjadi.
“Kunci rumah sebaiknya ditempatkan di lokasi yang mudah ditemukan. Saat gempa terjadi, jangan sampai waktu terbuang hanya untuk mencari kunci ketika ingin menyelamatkan diri,” ujarnya.
Musliman juga mengingatkan warga agar menghindari area berisiko seperti dekat tiang listrik, tembok tinggi, maupun pohon besar saat berada di luar ruangan. Menurutnya, benda-benda tersebut berpotensi roboh dan membahayakan keselamatan warga ketika terjadi gempa.
Ia menambahkan, pendidikan mitigasi bencana perlu diberikan sejak usia dini sebagaimana yang diterapkan di Jepang. Anak-anak harus dibiasakan memahami prosedur penyelamatan diri, termasuk berlindung di bawah meja yang kokoh apabila tidak sempat keluar dari bangunan.
“Keselamatan kepala menjadi prioritas. Jika tidak sempat keluar rumah, berlindunglah di bawah meja yang kuat agar terhindar dari benda yang jatuh,” katanya.
Di sisi lain, Musliman meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Tengah untuk tidak hanya fokus pada penanganan pascabencana, tetapi juga memperkuat edukasi mitigasi kepada masyarakat.
Ia mendorong BPBD bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam menyusun peta evakuasi dan jalur penyelamatan yang mudah dipahami masyarakat.
“Perlu ada peta evakuasi yang jelas dan disosialisasikan secara masif. Masyarakat harus tahu ke mana harus menyelamatkan diri ketika terjadi gempa maupun potensi bencana ikutan seperti likuefaksi,” ujarnya.
Musliman menegaskan bahwa kesiapsiagaan merupakan kunci utama untuk mengurangi risiko korban jiwa dan kerugian akibat bencana gempa di Sulawesi Tengah yang berada di wilayah aktif secara tektonik.
