HarianBernas.com – Karakter kepemimpinan seseorang tidak muncul dengan tiba-tiba. Karakter itu harus dibangun sedari kecil, berawal dari lingkungan keluarga dan bangku pendidikan.
Haryadi Suyuti adalah putra sulung Zarkowi Soejoeti, seorang mantan rektor IAIN Walisongo Semarang yang kemudian menjabat sebagai Direktur Jendral Departemen Agama serta dipercaya negara sebagai Duta Besar di Saudi Arabia dan Suriah. Sebagai anak seorang tokoh, jiwa kepemimpinan Haryadi pun terbangun sejak kecil dari lingkungan keluarga.
Baca juga: Apa Itu Jurusan Sistem Informasi? Inilah Mata Kuliah dan Prospek Kerjanya
Karakter kepemimpinan Haryadi terbangun tak lepas dari sikapnya yang menjadi imitator sang ayah. “Saya memahami bahwa ayah saya berkerja yang bersingungan dengan pendidikan, umat, politik, negara,” ujar Haryadi saat ditemui di rumahnya.
Sejak kecil Haryadi sudah digembleng dalam kondisi lingkungan keluarga yang menanamkan jiwa kepemimpinan secara mandiri. Zaimah, sang ibu kandung, meninggal dunia sejak Haryadi masih di bangku Sekolah Dasar (SD). Sehingga awalnya kehidupan Haryadi tidak menetap di Yogyakarta, harus mengikuti kemana ayah ditugaskan. Namun kesibukan sang ayah yang bekerja di luar kota dan sering berpindah-pindah justru mengantarkan Haryadi memiliki banyak wawasan kedaerahan.
“Sekolah saya agak berantakan. Dalam arti berantakan tempatnya. SD kelas 1-IV di Jakarta. Lalu saya menyelesaikan sekolahan pindah ke Jogja di SD Percobaan II IKIP,” kata pria yang sepupu dengan bupati Sleman, Sri Purnomo, ini.
Sejak kecil Haryadi sudah mulai belajar memahami karakter suatu daerah. Selain menambah wawasan kedaerahan, Haryadi juga mendapatkan pendidikan Islam. Begitu tamat jenjang pendidikan SD Percobaan II IKIP Yogyakarta, Haryadi kembali diajak ayah ke Jakarta, untuk kemudian masuk di SMP Al-Azhar di Jakarta.
Baca juga: 14 Universitas Jurusan Teknik Informatika Terbaik di Indonesia
Namun, di SMP Al-Azhar tidak sampai selesai dan harus berpindah sekolah lagi SMP Negeri 5 Semarang untuk mengikuti sang ayah, yang ketika itu diangkat sebagai rektor IAIN Semarang.
“Meskipun tidak selesai, namun saya mendapatkan banyak penanaman pendidikan Islam ketika saya sekolah di SMP Al-Azhar. Wawasan tentang agama Islam pun bertambah,” ujarnya.
Haryadi memaklumi tahapan jenjang pendidikan yang ia lalui harus berpindah-pindah demi menyesuaikan ketugasan sang ayah. Ia sendiri sangat hormat kepada kepada sang ayah, dan tidak pernah kepikiran untuk menolak berpindah sekolahan.
“Saya ikuti saja apa yang menjadi perintah bapak. Tidak apa-apa, meskipun saya akhirnya harus kembali beradaptasi dengan lingkungan sekolah yang baru. Justru saya malah mendapatkan banyak teman,” katanya.
Haryadi merupakan sosok yang mudah beradaptasi dengan lingkungan baru. Itulah yang menjadikan dirinya memiliki banyak teman. Bahkan dirinya tidak ingin menaruh kebencian kepada siapapun meskipun orang itu tidak menyuaikinya.
“Saya tidak bisa membenci orang. Kalau nggak suka ya itu hak mereka. Bagi saya yang penting tetap berbuat baik kepada siapapun serta menjaga keharmonisan kepada sesama. Itu pula yang diajarkan bapak,” katanya.
Jiwa kemandirian Haryadi berlanjut saat dirinya masuk SMA Negeri I Yogyakarta, salah satu sekolah favorit di Yogyakarta. Ia kembali ke Yogyakarta tanpa serumah dengan ayahnya. Haryadi dititipkan kepada bude-nya yang tinggal di Sodagaran, Tegalrejo, Yogyakarta.
Baca juga: Jurusan IT: Pengertian, Mata Kuliah, dan Prospek Kerja Terbaru
“Saya jarang ketemu bapak, tapi apa yang dilakukan bapak memberikan banyak inspirasi bagaimana bapak harus bisa mengatur keluarga dan tetap menjalankan kepentingan untuk orang banyak,” katanya.
Meski berada jauh dari orang tua, Haryadi mampu menjaga tanggung jawab sebagai anak beprestasi. Tamat SMA I Negeri Yogyakarta, melanjutkan ke jurusan Administrasi Negara Fisipol UGM.
“Sebetulnya pingin saya masuk fakultas geologi, mengingat era saat itu kerja di perusahaan minyak akan bisa lebih mandiri. Tapi saya diterima di AN, dan uniknya pada saat saya masuk di AN itu, fakultas itu adalah fakultas paling favorit. Dengan rasio pendaftar sebanyak 1.250 orang yang diterima kalau nggak salah 51 atau 56 orang,” katanya.
Di bangku kuliah itulah Haryadi mulai diuji modal kepemimpinan yang telah terbangun sejak kecil. Saat mahasiswa, dirinya terpilih sebagai Ketua Keluarga Mahasiswa Administrasi Negara, UGM. “Sekitar tahun 1985/1986 saya mendapat amanah menjadi Ketua Keluarga Mahasiswa Administrasi Negara. Walaupun hanya setahun namun banyak hal yang membekas bagaimana mengasah kepemimpinan secara baik,” ujarnya.
Salah satu pelajaran yang didapat adalah bagaimana seorang pemimpin mampu berkomunikasi, berinteraksi dengan orang lain. “Kita boleh berpendapat, tapi juga harus bisa mendengarkan pendapat orang lain. Itu fitrah manusia. Kita diberi satu mulut dua telinga. Artinya, kemampuan mendengar kita harusnya dua kali lebih besar atau lebih baik dari kemampuan berbicara kita,” katanya.
Baca juga: 10 Universitas Jurusan Perhotelan Terbaik dan Unggul di Indonesia
Meski sibuk berorganisasi, namun Haryadi juga dituntut untuk segera menyelesaikan kuliah. Dia mengaku sempat deg-degan saat adiknya yang angkatan 1984 Fakultas Tehnik Sipil akan wisuda pada bulan Oktober 1989.
“Dia wisudanya kalau nggak salah September/Oktober. Nah, saya janji pada diri saya sendiri bisa memberikan kepada orang tua saya, tidak lama setelah adik saya wisuda saya juga harus lulus. Saya nggak bisa ngejar wisuda November. Wisuda saya baru bulan Februari 1990. Namun di Fisipol termasuk yang skrisinya paling cepet,” katanya.
Selepas kuliah, jenjang karier Haryadi termasuk moncer. Terakhir ia menjabat sebagai direktur salah satu anak perusahaan Sampoerna di Jakarta. “Selama 16 tahun bekerja banyak pengalaman bagaimana melakukan manajemen kepemimpinan secara baik,” ungkapnya.
Berkat kerja keras dan jiwa kemandirian yang tinggi itulah, saat Haryadi baru berusia 33 tahun sudah mampu memiliki rumah yang cukup megah di Jalan Merpati Nomor 05, Demangan. Hinga pada akhirnya pada tahun 2006 ia dipinang menjadi Wakil Walikota Yogyakarta mendampingi Walikota Yogyakarta, Herry Zudianto.
Baca juga: 10 Universitas Negeri dan Swasta di Bandung serta Jurusannya
“Saya sebelumnya juga sudah kenal baik dengan Pak Herry. Saya banyak belajar dari beliau bagaimana memimpin karena saya sebelumnya belum pernah bekerja di instansi birokrasi tapi saya juga bukan orang yang nganggur terus jadi wakil walikota,” katanya.
Jiwa kepemimpinan Haryadi saat mendampingi Herry selama lima tahun (2006-20011) mulai diuji. Dia menyadari posisinya sebagai Wakil untuk memperkuat kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan Walikota. “Ikuti saja selama itu baik. Saya memahami batas-batas kewenangan sebagai Wakil. Tidak pernah kepikiran untuk mengganggu atau menggembosi kebijakan yang dikeluarkan. Saya selalu mendukung yang terbaik,” katanya.
Salah satu yang ia kenang saat mendampingi Herry adalah saat meluncurkan program Sego Segawe. Komunitas pecinta sepeda kayuh itu bermula dari komunitas “bike to work” yang ia naungi.
“Saya ajak teman-teman itu, lalu kemudian mereka beraudiensi dengan pak Wali, jadilah Sego Segawe. Harusnya Sepeda Dinggo Opo Wae. Tapi tidak apalah,” kata Haryadi yang juga hobby bersepeda ini.
Menurutnya, banyak kebijakan yang akhirnya diterima oleh masyarakat karena bermula dari kekompakan pasangan Walikota dan Wakil Walikota.
Baca juga: Inilah 10 Sekolah Penerbangan Terbaik yang Ada di Indonesia
Namun ia mengakui kondisi itu terbalik saat dirinya menjabat Walikota Yogyakarta periode 2011-2016.
