Bernas.id – Setiap warga negara Indonesia menyadari bahayanya sikap intoleran karena bisa memecah belah bangsa. Sehingga setiap keluarga dianjurkan bisa mengajarkan kepada anak sejak dini untuk bisa menerima perbedaan dan bersikap toleran. Namun, seberapa efektif penanaman sikap toleran yang dilakukan dalam keluarga dan lingkungan pada anak?
Sebuah skala toleransi yang termasuk dalam inventori kedewasaan psikososial yang dipublikasikan oleh Ellen Greenberger bisa dipakai untuk mengukur sejauh mana anak bisa toleran dan menerima perbedaan. Skala tersebut memfokuskan pada 3 hal dasar yang bisa didiskusikan dengan anak.
Satu pertanyaan yang diajukan dalam skala toleransi Greenberger adalah apakah anak mau bermain atau mengerjakan tugas sekolah bersama dengan anak lain yang kulitnya berbeda atau dari suku yang berbeda. Sering kali dijumpai anak-anak yang saling mengejek teman-teman mereka hanya karena memiliki kulit yang lebih gelap, atau rambut yang lebih keriting. Belum lagi bila ejekan tersebut dilontarkan di media sosial sehingga teman mereka malu. Body shaming atau mempermalukan bentuk badan orang lain juga salah satu bentuk sikap intoleran anak yang harus diwaspadai.
Pertanyaan kedua yang diajukan dalam skala Greenberger yaitu apakah anak berkenan berteman dengan anak lain dalam kondisi cacat atau berkebutuhan khusus. Anak yang eksklusif, yang tidak bisa menerima perbedaan temannya, akan berpotensi intoleran di masa depannya. Belum lama ini, ada seorang netizen yang mendapat teguran keras karena mengunggah status yang menghina anak autis. Unggahan tersebut menjadi contoh bagaimana pribadi yang tidak pernah mengenal dan berkomunikasi dengan orang yang berbeda dengan dirinya. Sehingga sikap eksklusivitas seperti ini yang bisa menimbulkan intoleransi dan perpecahan dalam masyarakat.
Skala Greenberger tersebut juga melihat kesediaan anak untuk bisa berbaur dengan orang-orang dari berbagai latar belakang dalam sebuah pesta. Setiap anak tentu senang mengadakan pesta dan bisa mengundang teman-temanny. Bisa ditanyakan pada anak siapa saja teman-teman yang akan diundangnya. Apakah teman-teman yang berbeda suku dan agama akan diundangnya? Apakah teman-teman yang memiliki cacat fisik dan berkebutuhan khusus ikut diundang juga? Saat anak bisa dengan nyaman bersosialisasi dengan semua teman termasuk menerima perbedaannya, maka anak sudah memiliki sikap toleran yang baik.
Sebagai bagian dari sebuah bangsa yang besar, sepatutnya toleransi antar pribadi tidak hanya menjadi slogan di baliho-baliho saja. Bisa dimulai dengan memperbaiki kualitas toleransi anak di rumah. Karena mereka yang akan membawa bangsa Indonesia ke arah kehancuran atau kejayaan.
