Bernas.id – Dinas Kesehatan Kota Jogja mengingatkan para remaja putri untuk mewaspadai berbagai gejala anemia. Sebab penyakit tersebut dapat mempengaruhi kondisi kesehatan reproduksi di masa yang akan datang.
“Ada beberapa tanda anemia yang bisa dilihat, di antaranya kelopak mata bagian dalam pucat dan biasanya terlihat lesu, lemah, letih, lelah dan lalai atau 5L,” terang Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Yudiria Amelia, Kamis (26/7).
Salah satu bahaya anemia menurutnya adalah mempengaruhi kehamilan saat remaja putri tersebut menjadi ibu hamil karena bisa meningkatkan risiko kematian ibu yang disebabkan perdarahan, terutama saat kondisi anemia berat.
Di samping itu, anemia juga bisa mengganggu pertumbuhan janin dalam kandungan sehingga meningkatkan risiko bayi lahir prematur atau bayi lahir dengan berat badan rendah.
Ia meneruskan, pencegahan anemia dapat dilakukan dengan mengonsumsi makanan bergizi, khususnya makanan yang banyak mengandung zat besi misalnya daging merah, hati ayam, ikan, telur, tempe, tahu, selada, bayam, sawi, brokoli dan kangkung.
Dinas Kesehatan Kota Jogja menurutnya rutin memberikan tablet penambah darah ke siswi SMP dan SMA atau sederajat sejak 2014. Tablet penambah daerah tersebut diberikan satu pekan sekali.
“Hanya saja, pemberian tablet penambah daerah tersebut sifatnya bukan untuk terapi, tetapi diberikan sebagai upaya pencegahan saja. Siswi yang mengalami anemia atau tidak, semuanya memperoleh tablet dengan dosis yang sama,” ungkapnya.
Dirinya menambahkan, apabila ditemukan siswi dengan tanda-tanda klinis mengalami anemia, maka sekolah dapat merujuk siswi tersebut untuk memperoleh pengobatan di puskesmas terdekat.
Sebaiknya, sejak siswi tersebut diterima sebagai siswa baru di sekolah, maka sekolah bisa melakukan pengecekan dan jika ditemukan dapat langsung dirujuk ke puskesmas terdekat untuk ditangani, katanya.
Yudiria menyebut, siswi yang dirujuk ke puskesmas karena mengalami anemia sampai saat ini tidak terlalu banyak.
“Jika anemia baru diketahui saat perempuan hamil, maka penenuhan kekurangan sel darah merah tidak bisa serta merta dikebut dalam kondisi hamil. Harus sejak dini dipenuhi sehingga sosialisasi mengenai anemia ini penting dilakukan ke remaja putri,” pungkasnya. (Den)
