JOGJA, BERNAS.ID- Di era digital, para pelaku bisnis muda kini semakin mudah untuk menumbuhkan bisnisnya tanpa perlu takut terkendala modal. Para pebisnis milenial kini bisa memanfaatkan berbagai financial technology (fintech) yang tersedia bila tidak tidak terakomodasi bank konvensional.
Liauw Tarsisius Fredy, Direktur iKredo mengatakan pihaknya melalui fintech iKredo sangat mendukung usaha para kawula muda agar semakin berkembang. “Kita menawarkan solusi keuangan untuk pelaku usaha mikro dengan proses yang cepat dan fleksibel,” ujarnya di acara Ngoping (Ngopi and Sharing) Grow Your Bussines with Fintech di Koping Creative Space, Sabtu 2 November 2019.
Liauw mengatakan iKredo bisa menawarkan pinjaman yang bank konvensional tidak bisa melayani seperti pinjaman sebesar 5 juta rupiah untuk diangsur selama 6 bulan. “Kita akan mencari teman-teman yang punya kelebihan dana untuk dihimpun. Kita juga tidak menghimpun dana kalau tidak ada peminjam,” ujarnya.
“Cicilan dari peminjam nanti akan dikembalikan yang punya dana. Pendana pun akan diuntungkan, misal dari 1 juta yang dipinjamkan akan mendapatkan keuntungan sebesar 20 persen, 5 kali lipat lebih tinggi dari bank. Artinya, teman-teman yang punya duit sedikit juga akan bisa mempunyai investasi dengan imbalan yang lebih besar,” imbuhnya.
Ia mengatakan peminjam pun diuntungkan karena para pelaku bisnis muda yang punya usaha akan bisa memperoleh modal yang dibutuhkan bila selama ini masih terkendala aturan bank konvensional. “Namun, kita juga tidak mudah begitu saja meminjamkan karena kami tetap akan memeriksa dahulu data dari peminjam dan ada klausul pertanyaan untuk melihat kemampuan peminjam mengembalikan pinjamannya,” ucapnya.
Ia pun menyebut fintech sangat membantu UMKM karena menemukan peminjam yang membutuhkan modal dengan pendana yang punya duit sehingga ujungnya membantu masyarakat yang punya usaha.
Kiki Nurulita, Head of Marketing dari Fintech Kredito mengatakan saat ini tidak ada alasan lagi terkendala untuk mendapatkan modal karena banyak sekali pilihan di perusahaan fintech. “Banyak sekali peluang yang bisa dimanfaatkan untuk masa depan, tapi 30 persen masyarakat masih ketakutan untuk meminjam lewat fintech,” katanya.
Untuk itu, Kiki menyarankan agar masyarakat lebih pintar dalam pemilihan fintech karena adanya fintech ilegal. Ia pun menyarankan fintech yang sudah terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
“Dari analisa data kami, dari tahun 2019, ada kebutuhan uang senilai 1600 triliun rupiah di Indonesia, tapi hanya 660 triliun rupiah saja yang bisa dilayani bank konvensional. Artinya, ada gap sebesar 940 triliun rupiah. Untuk itu, fintech mengisi kebutuhan gap tersebut,”imbuhnya.
Ia menyebut saat ini terdapat 12 juta orang menggunakan fintech dan terkonsentrasi 60 persennya di Pulau Jawa. “Di fintech Kredito, akan melayani mahasiswa, karyawan, atau pengusaha dengan syarat WNI, punya e-KTP, dan punya rekening bank,” ucapnya.
Sementara itu, Tony Jackson dari fintech UKU yang memiliki tagline Solusi Keuanganku mengatakan fintech miliknya itu melayani untuk sektor konsumtif, misalnya untuk dana darurat. “Kalau sedang sakit, padahal gaji belum dibayar, kami bisa melayani itu atau mahasiswa belum bayar kos karena belum ada kiriman, kami bisa melayani itu tentunya dengan syarat seperti foto slip gaji orangtua,” ujarnya.
Tony pun tak memungkiri industri fintech di Indonesia sangat tumbuh drastis saat ini karena ada kebutuhan 940 trilyun yang tidak bisa terlayani bank konvensional. Ia menyebut jenis fintech di Indonesia, misal fintech untuk payment seperti Gopay atau OVO, lalu fintech peminjaman uang, fintech insurance, fintech agregator, fintech investasi, fintech penggalangan dana (crowd founding).
Terakhir, Anggia Anggraeni, Head of Marketing dari fintech Empat Kali menawarkan payment gateway yang membuka cicilan, misal pembelian untuk produk fashion atau lifestyle merek lokal. “Kita kasih cicilan tanpa bunga dengan awalnya ditarik biaya administrasi dan pendaftaran masing-masing sebesar 10 ribu rupiah. Untuk membeli produk di Empat Kali harus membayar DP 25 persen, lalu dicicil 4 kali tanpa bunga,” tuturnya.
Anggia pun meyakini fintech Empat Kali akan bisa membantu para kaum muda dalam mengelola keuangannya karena bisa membeli barang dengan mencicil tanpa bunga. Selain itu, fintech Empat Kali akan sangat membantu para pengusaha UMKM yang menghasilkan produk fashion atau sepatu merek lokal.(jat)
