JAKARTA,BERNAS.ID – Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, akan lengser dari jabatan memasuki masa pensiun pada akhir tahun depan. Jenderal Hadi berasal dari TNI Angkatan Udara, yang resmi dilantik oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 8 Desember 2017 lalu.
Namun, siapa yang layak menduduki orang nomor satu di TNI tersebut ?
Setidaknya ada tiga nama Kepala Staf Angkatan Darat, Marsekal TNI Fadjar Prasetyo, Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Andika Perkasa dan Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Yudo Margono.
Pengamat intelejen Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati, menyatakan, proses pergantian Panglima TNI sejak periode Reformasi selalu menjadi topik yang menarik perhatian banyak kalangan. Suksesi di tubuh TNI selalu menjadi diskursus yang hangat mengingat TNI sebagai salah satu komponen penting Bangsa Indonesia banyak berperan dalam dinamika Bangsa Indonesia.
Berdasarkan pasal 13 ayat 4 UU RI nomor 34 tahun 2004 memang mengamanatkan jabatan Panglima TNI dapat dijabat oleh Pati aktif yang sedang atau pernah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan. Artinya Kasad, Kasal dan Kasau memiliki peluang yang sama untuk menjabat Panglima TNI. Meski harus bergantian namun pada kenyataannya Presiden yang menentukan siapa yang akan menjabat.
“Hak prerogatif presiden tersebut memang tidak dapat diintervensi oleh siapapun,” ungkap Susaningtyas, dalam keterangan yang diterima redaksi, Senin (15/6/2020).
Ada pertimbangan yang patut diperhatikan minimal ada 3 hal penting. Pertama, usia dan prestasi kerja. Sangat penting untuk menentukan proyeksi masa jabatan Panglima TNI minimal 2 tahun ke depan untuk menjaga proses regenerasi. Jika tidak diperhatikan, maka pengalaman menunjukkan beberapa perwira yang cemerlang tidak sempat menjabat karena terhalang seniornya yang belum pensiun.
Padahal untuk jabatan sestrategis Panglima TNI tidak harus menunggu usia pensiun. Apalagi jika dipertimbangkan prestasi kerja selama dinas. Ukuran prestasi kerja yang memang belum standar menyebabkan banyak spekulasi yang hanya berdasarkan rekam jejak pengalaman dinas.
“Kedua, pertimbangan kebutuhan organisasi TNI dalam kurum waktu ke depan sebagai bagian modernisasi Alutsista sehingga dibutuhkan kemampuan manajemen tempur dan diplomasi militer yang handal,” bebernya.
Hal ketiga menurutnya, pertimbangan perkembangan lingkungan strategis pada tataran Global dan Regional. Dibutuhkan sosok Panglima TNI yang memiliki dampak penangkalan bagi petinggi militer internasional.
“Penting sekali jika Panglima TNI disegani dunia internasional,” pungkasnya.(fir)
