Bernas.id – Membangkitkan perekonomian di masa pandemi harus diawali dengan mulai menggali potensi desa. Hal ini dijabarkan secara terperinci oleh Ferro Ferrizka Aryananda, Rektor Universitas Mahakarya Asia dalam Simposium Virtual Republik ke-10 yang diadakan oleh DPN ABDSI dengan tema Bagaimana Membangun Bangsa yang Makmur Sejahtera Melalui Wirausaha Desa.
Berasal dari sebuah desa di Pekalongan, Ferro melihat potensi perekonomian desa dari dulu sudah sangat besar, dari pariwisata, pertanian, perikanan, perkebunan, dan sebagainya. Namun pada zaman sebelum teknologi berkembang, potensi perekonomian tersebut tidak bisa terekspos karena keterbatasan yang hampir semua kegiatannya harus dilakukan secara fisik. Jika ingin melakukan perputaran ekonomi, maka orang harus datang ke wilayah tersebut untuk membeli dan bertransaksi secara langsung dengan rakyat desa.
Dengan perkembangan teknologi 4.0, batasan fisik tersebut melebur. Pembeli bisa mengakses komoditas yang dihasilkan petani melalui aplikasi atau alat komunikasi, transaksi bisa melalui transfer bank atau alat pembayaran digital lainnya. Sehingga menurut Ferro, yang terpenting tetap bagaimana desa mengetahui potensi desa yang bisa dioptimalkan, kemudian mengemas potensi tersebut dengan konten dan narasi sekaligus integrasi teknologi telekomunikasi hingga bisa diketahui khalayak yang lebih luas.
Ciri khas dalam mengemas potensi desa terletak pada kemampuan membangun sebuah narasi atau cerita. Misal mempromosikan produk hewan peternakan seperti kambing, bukan hanya sekadar membuat brosur yang memajang foto-foto kambing saja. Namun, harus ada cerita yang menggugah pembaca sehingga mereka akan tergerak untuk melihat dan bertransaksi. Narasi bisa dari bagaimana peternak memastikan kualitas hewan kambing yang dijualnya, proses menyiapkan makanan, sampai kepada protokol kesehatan yang diberikan kepada hewan tersebut.
Ferro mencontohkan produk daging sapi Kobe dari Jepang, yang bisa terkenal dari seluruh dunia akibat narasi yang dikembangkan di media. Dari bagaimana sapi Kobe dirawat, diberi asupan bergizi, tempat perawatannya yang sangat luas sampai ada sesi pemijatan. Semua untuk memastikan daging Kobe memiliki kualitas yang bagus dengan tekstur daging yang lembut.
Potensi desa harus dilihat sebagai sesuatu kekuatan yang membuat pembeda sebuah desa, bukan hanya sebagai komoditas. Lalu, penting sekali untuk bisa menyesuaikan potensi tersebut dengan konten apa yang pemirsa ingin lihat, dengar, dan rasakan di media sosial. Pentingnya mengenalkan keunggulan potensi desa dengan memasarkan melalui media sosial dan platform lainnya, karena hampir 80% orang saat ini mengakses segala hal melalui gawainya.
Dengan memajukan potensi desa menggunakan fasilitas teknologi, untuk publikasi, memasarkan, dan mengembangkan pasar, Ferro mengharapkan pemuda desa tidak perlu lagi harus pindah ke kota untuk mencari penghidupan lebih baik. Desa bisa memanfaatkan jaringan teknologi, untuk membangun bangsa yang makmur sejahtera melalui wirausaha desa.
