Perkembangan gaya arsitektur perumahan di Indonesia kian hari kian berkembang. Mulai dari tren rumah minimalis, bergaya industrial, skandinavia hingga bergaya mezzanine. Perubahan tren gaya rumah terus berubah?ubah mengikuti selera dan juga perkembangan jaman saat ini.
Tak hanya dijadikan sebagai tempat berteduh dari panas maupun hujan, rumah juga merupakan representasi dari kepribadian sang pemilik. Sehingga memiliki rumah dengan konsep yang unik dan menarik menjadi impian dari setiap orang. Untuk memiliki rumah yang unik, tidak perlu berpaku kepada konsep rumah yang telah ada.
Sembari berkreatifitas, pemilik rumah dapat mengkombinasikan dengan berbagai gaya rumah adat yang menarik di tanah air.
Salah satunya rumah Adat Honai dari Papua, memiliki bentuk yang unik menyerupai jamur rumah adat ini dapat dijadikan sebagai salah satu referensi. Tak berbeda dengan rumah pada umumnya, rumah adat Honai juga difungsikan sebagai tempat tinggal. Sebelum mengaplikasikan kedalam desain rumah anda, yuk kenali dulu bentuk, keunikan dan makna rumah adat Honai.
Bentuk Rumah Adat Honai
Rumah adat Honai berbentuk lingkaran, dengan struktur yang tidak terlalu tinggi. Rumah adat ini terbuat dari kayu. Sengaja tidak memiliki jendela, seluruh dindingnya terbuat dari anyaman kayu yang memiliki sirkulasi udara yang sangat baik.
Meski terlihat kecil, rumah adat Honai mampu menampung lebih dari 10 orang dikarenakan interior dalamnya tidak bersekat serta beratap kerucut.
Keunikan Rumah Adat Honai
Bukan hanya bentuknya saja yang unik, rumah adat Honai juga memiliki keunikan lainnya. Meskipun berstatus suami istri, rumah Honai tidak boleh dimasuki oleh perempuan. Para perempuan diijinkan tinggal dirumah yang disebut dengan Ebe`ai. Berbeda dengan rumah adat Honai, rumah Ebe?ai berbentuk persegi panjang.
Tak hanya sebagai tempat untuk beristirahat, dalam rumah juga digunakan untuk menyimpan hasil ladang, peralatan berburu serta perapian. Meski terbuat dari kayu, rumah ini mampu menahan terpaan dingin, hujan dan angina kencang.
Makna Rumah Adat Honai
Di era serba modern, keberadaan rumah adat Honai sampai dengan saat ini masih dipertahankan. Hal ini dikarenakan suku Dani mempercayai bahwa rumah Honai merupakan simbol kepribadian dan harga diri yang harus dijaga oleh keturunan dan anak cucu mereka.
Pemisahan tempat tinggal antara pria dan wanita juga memiliki makna tersendiri yaitu rumah Honai yang ditempati kaum pria dijadikan sebagai sara pendidikan dimana seorang pria harus menjadi pribadi yang kuat sehingga mampu melindungi sukunya.
Sementara itu, rumah Ebe?ai yang ditempati perempuan juga sebagai sara pendidikan agar kelak anak-anak perempuan dapat menjadi istri yang berbakti kepada suami dan juga keluarga.
Banyak hal positif yang dapat diambil dari rumah adat Honai yang terletak di Lembah Baliem, Kabupaten Jayawijaya ini. Kebiasaan berkumpul dalam satu rumah menjadikan terbentuknya rasa persaudaraan yang tinggi, perasaaan sehati , satu pikiran dan satu tujuan.
Mereka terbiasa melakukan pekerjaan dan menyelesaikan masalah bersama-sama sehingga membentuk rasa persatuan dan gotong royong yang tinggi.
Selain itu, rumah adat Honai yang terbuat dari bahan baku yang berasal dari alam mengajarkan kita untuk tetap mengunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan dan bisa diperbarui sehingga tidak merusak ekosistem yang ada.
Ditambah lagi dengan atap rumah berbentuk kerucut tertutup mulai dari atas hingga bawah dapat memberikan inspirasi mnegenai desain atap yang berfungsi untuk menahan hujan dan hawa dingin ekstrim dari luar.
