Saat ini, istilah entrepreneur tentu sudah tidak asing lagi di telinga Anda. Kita mudah menemukan istilah tersebut disebutkan dalam beragam acara dan berbagai kesempatan.
Seiring perkembangan zaman, berkembang pula bentuk entrepreneur. Seperti sociopreneur, technopreneur, ecopreneur, serta intrapreneur.
Di dunia bisnis yang dinamis, kemampuan mengelola sumber daya manusia menjadi kunci kesuksesan. Dengan mengikuti Sertifikasi Manajer SDM, Anda akan memahami strategi rekrutmen, pengembangan karyawan, dan manajemen organisasi secara profesional.
Nah, untuk mengulas pertanyaan tersebut, tim Bernas.id sudah merangkum penjelasan dari para ahli serta menelisik perbedaan entrepreneur dan intrapreneur serta technopreneur.
Perbedaan Intrapreneur dan Entrepreneur

Perbedaan intrapreneur dan entrepreneur (foto: Entrepreneur Handbook)
Pendiri dan CEO Academy for Corporate Entrepreneurship (AfCE) menyatakan bahwa entreprenur adalah seseorang yang mencoba menawarkan solusi dengan cara terjangkau untuk memecahkan masalah. Sedangkan intrapreneur juga ingin mewujudkan hal tersebut, tapi melalui organisasi yang sudah ada.
Sementara itu, Dario Okrent, Genera Manager Wibe, mengungkapkan bahwa perbedaan antara intrapreneur dan entrepreneur terletak pada risikonya. Sebagai intrapreneur, Anda bisa memiliki jaringan yang mendukung, tapi Anda bukanlah pemilik perusahaan.
Sedangkan entrepreneur, masih menurut Dario, adalah seseorang yang memulai sesuatu tanpa network. Jika gagal, bisa mengakibatkan entrepreneur kehilangan segalanya. Namun, jika berhaisl, seorang entrepreneur bisa melesat karir maupun keuntungannya.
Oleh karena itu, kita senantiasa menemukan intrapreneurs berada dalam satu perusahaan tertentu. Tugasnya selalu menawarkan eksperimen, toleran terhadap kegagalan, ingin mencapai kesuksesan dan bersedia membagi keuntungan.
Baca juga: Mengenali Perbedaan Bisnis dan Dagang, Jangan Sampai Ikut Salah Kaprah
Lalu, Bagaimana dengan Technopreneur, Ecopreneur, dan Sociopreneur?

Ilustrasi wirausahawan (foto: You Matter)
Pada dasarnya, ketiga istilah di atas mewakili konsep yang sama. Sama-sama menekankan sebuah sikap untuk terus berproses dan berkembang. Hanya saja, masing-masing dibedakan berdasarkan produk serta model kerjanya. Lebih jelas, berikut penjelasan dari masing-masing istilah tersebut.
Technopreneur
Secara umum, technopreneur adalah sosok wirausaha yang membangun bisnis berbasis teknologi. Saat ini, kita sudah bisa menemukan sosok technopreneurship dengan mudah. Contoh paling nyata dan bisa kita lihat seperti Mark Zuckerberg, Elon Musk, atau Bill Gates.
Masing-masing menawarkan produk berbasis teknologi dan mampu berpengaruh besar melalui produk bikinannya. Maka, jika Anda memiliki tawaran bisnis atau produk tapi memanfaatkan teknologi, maka Anda sah untuk disebut sebagai salah satu technopreneur.
Dalam era technopreneur, kemampuan mengoptimasi website menjadi aset berharga. Dengan Sertifikasi SEO Specialist, Anda akan menguasai strategi SEO berbasis data, meningkatkan visibilitas bisnis, dan memahami algoritma pencarian terbaru. Raih peluang karier lebih luas di dunia digital sekarang juga!
Baca juga: Peluang Bisnis Berbasis Teknologi untuk Entrepreneur Muda
Ecopreneur
Masih dalam lingkup sikap wirausaha. Tapi, fokus dari seorang ecopreneur adalah lingkungan. Menurut Reset, ecopreneurship merupakan kombinasi dari dua kata. Yakni eco dan entrepreneurship. Artinya, bisnis berbasis lingkungan.
Dari pengertian tersebut, bisa disimpulkan bahwa ecopreneur adalah sosok wirausahawan yang fkus bisnisnya ingin mengurangi dampak terhadap lingkungan. Pengertian serupa juga bisa kita peroleh dari Business Dictionary.
Menurut kamus para pebisnis tersebut, ecopreneur adalah wirausahawan yang menciptakan dan menjual produk atau jasa ramah lingkungan serta menggunakan prinsip ekonomi lingkungan dan ekologi sebagai landasan.
Sociopreneur
Sama seperti ketiga konsep lain. Sociopreneur juga menawarkan bisnis baru. Tapi, alih-alih memperkaya diri sendiri, seorang sociopreneur juga menawarkan bisnis yang bisa mensejahterakan banyak orang. Misal masyarakat marginal, difabel, anak-anak yatim, hingga keluarga yang kurang mampu.
Contoh usaha socipreneur selalu menekankan pada pemberdayaan masyarakat. Misal, seperti usaha kerajinan tangan, bisnis pertanian, bisnis kesehatan seperti Klinik Asuransi Sampah, dan masih banyak lagi.
Baca juga: Irma Syafitri, Bisnis Kebaya Vintage Sambil Mendukung Slow Fashion
Pilih Program Studi yang Tepat untuk Masa Depan Anda
Bagi Anda yang ingin sukses sebagai technopreneur, mengambil kuliah di S1 Informatika bisa menjadi langkah terbaik. Salah satu program studi di Universitas Mahakarya Asia (UNMAHA) ini membekali mahasiswa dengan keterampilan pemrograman, pengolahan data, dan inovasi teknologi yang relevan dengan dunia bisnis digital.
Jangan tunda lagi! Segera bergabung dengan universitas yang mendukung jiwa entrepreneur dan technopreneur. Kunjungi PMB UNMAHA untuk informasi lengkap atau hubungi langsung melalui WhatsApp PMB UNMAHA. Waktunya wujudkan impian akademik dan karier Anda!
Maksimalkan Peluang Bisnis dengan Produk Berkualitas
Penyimpanan bahan makanan yang tepat adalah kunci menjaga kualitasnya. Begitu pula dengan bisnis, pemilihan produk yang tepat akan menentukan keberhasilan Anda. Adolo menawarkan berbagai produk unggulan, termasuk laptop berkualitas tinggi untuk mendukung bisnis dan produktivitas Anda.
Sebagai reseller Adolo, Anda bisa mendapatkan keuntungan dari berbagai produk berkualitas dengan harga kompetitif. Daftar sekarang dan mulai perjalanan bisnis Anda dengan produk yang terjamin kualitasnya!***4
