SLEMAN, BERNAS.ID – Tak perlu perlu banyak pertimbangan, saat itu, Felisiana Sri Astuti (48) segera menyanggupi untuk menjadi vaksinator di tengah Pandemi Covid-19. Menurutnya, bisa berperan sebagai vaksinator dalam usaha penanganan pandemi Covid-19 merupakan sebuah bentuk optimisme agar menimbulkan harapan di tengah masyarakat.
Tenaga kesehatan yang sehari-hari berdinas di Puskesmas Pakem Sleman ini tak memungkiri jika ada sedikit perasaan khawatir karena nanti akan bertemu banyak orang jika menjadi vaksinator. Bertemu banyak orang berarti rentan terpapar Covid-19. Namun, kecemasan itu segera disingkirkannya. “Takut sedikit, tapi banyak tidak asal kita patuh dengan protokol kesehatan dan memakai APD dengan benar,” ucapnya, Jumat (11/6/2021).
Ia menegaskan sekali lagi bahwa kesediaannya menjadi vaksinator karena ingin mengambil bagian dalam pelaksanan program Pemerintah untuk penanganan pandemi Covid-19. Sampai saat ini, Felisiana mengaku sudah memvaksin ribuan warga Sleman. Ia menyebut untuk dosis 1 sebanyak 2670 orang dan dosis 2 sebanyak 2338. “Kurang lebih 4 ribuan yang sudah divaksin,” katanya.
Baca Juga Vaksinator Muda Ini Sudah Memvaksin Ribuan Warga Sleman
Dalam perjalanannya, menjalani profesi sebagai vaksinator terkadang menemui beberapa kendala. Salah satunya, jika dalam entri data ada yang tidak sesuai maka data itu tidak bisa dientri ke dalam aplikasi. “Kesulitan yang lain, ada sasaran vaksin yang sudah dijadwal tidak hadir dengan alasan takut divaksin. Sebaliknya, ada yang diskrining tidak lolos, tapi memaksa minta divaksin. Dijumpai juga di lapangan banyak sasaran yang sudah dijadwalkan, tapi tidak datang,” imbuhnya.
Untuk masyarakat yang takut divaksin, ia akan menjelaskannya kepada yang bersangkutan tersebut. “Kita sampaikan resiko jika tidak mendapatkan vaksin apabila terinfeksi virus Covid-19 akan lebih berat gejalanya, bahkan sampai ke kematian. Namun, jika sudah diberikan vaksin apabila terpapar, gejalanya tidak akan terlalu berat dan bisa segera sembuh,” jelasnya.
Dukungan dari keluarga pun semakin memantapkannya untuk melakoni profesi sebagai vaksinator dengan sebaik-baiknya meski harus bekerja di luar jam kerja. “Suami dan anak mendukung dengan memberikan izin di luar jam kerja, misal hari Minggu ada pelayanan massal di tempat umum seperti Mall,” katanya.
“Di sisi lain, menjadi vaksinator itu sebuah kepercayaan yang diberikan oleh pimpinan apalagi didapuk sebagai penanggung jawab program imunisasi sehingga harus banyak belajar agar dapat melaksanakan tanggungjawab dengan baik,” tandasnya.
Ia pun bercerita untuk menjadi vaksinator tak begitu saja langsung memvaksin masyarakat, tapi menjalani pelatihan dulu sebelumnya agar menjadi kompeten. Selama 4 hari, dirinya harus mengikuti pelatihan secara e-learning dari Bapelkes Semarang. “Bekal ilmu setelahnya juga dilaksanakan secara lewat zoom untuk update knowledge dari Dinas Kesehatan dan Kemenkes. Intinya harus terus belajar karena kebijakan berkembang mengikuti kondisi pandemi saat ini,” jelasnya.
Untuk itu, ia pun mengimbau kepada masyarakat agar terus menaati protokol kesehatan agar memutus mata rantai penularan Covid-19. “Penerapan prokes perlu dilakukan secara ketat agar angka kasus positif bisa semakin turun dari hari ke hari, bukan malah naik,” pungkasnya. (jat)
