YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Menurut Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, tingginya kasus kematian pasien COVID-19 di wilayah setempat bisa diakibatkan oleh kondisi tubuh pasien yang berbeda-beda saat menghadapi virus. Selain itu, keterbatasan fasilitas kesehatan rupanya juga menjadi pemicu meninggalnya pasien COVID-19 yang dirawat.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Emma Rahmi Aryani mengatakan, sampai saat ini total telah ada 421 pasien COVID-19 yang telah meninggal dunia di Kota Jogja. Dari jumlah itu, Kemantren Umbulharjo menjadi lokasi terbanyak dengan jumlah 64 pasien meninggal dunia.
“Ketahanan tubuh manusia yang berbeda-beda kadang kala menjadi salah satu penyebab kematian saat terpapar COVID-19,” kata Emma, Sabtu (9/7/2021).
Emma mengakui, hal lain yang menjadi penyebab pasien COVID-19 meninggal dunia adalah ketersediaan fasilitas kesehatan yang kurang memadai. Pasokan oksigen yang melebihi kebutuhan di masa normal membuat rumah sakit kewalahan hingga berimbas pada pasien COVID-19.
“DIY kan juga tidak punya pabrik oksigen. Padahal kebutuhannya itu meningkat tiga sampai lima kali lipat sementara pasokan hanya 30 persen saja. Makanya di masa PPKM Darurat ini kamu berupaya untuk menekan laju mobilitas warga agar bisa mencegah melonjaknya jumlah kasus. Itu yang paling penting,” kata dia.
Sebelumnya PIC Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Kota Yogyakarta, Yudiria Amelia menjelaskan, tingkat kematian kumulatif pasien COVID-19 di wilayah setempat lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi nasional. Angka persentase kematian kumulatif pasien COVID-19 di Kota Jogja mencapai angka 4,64 persen sementara nasional hanya di angka 2,5 persen.
Baca juga: Pekan Depan Kasus COVID-19 di Kota Jogja Melonjak?
Pada Januari 2021 dalam sepekan jumlah pasien COVID-19 yang meninggal bisa mencapai 20 pasien. Sementara kini jumlah pasien COVID-19 yang meninggal rata-rata di angka 3-5 pasien per pekan.
“Januari memang cukup tinggi dan sekarang sudah agak menurun karena vaksinasi untuk lansia dan yang lain kan juga sudah jalan,” ungkapnya.
Dia mengungkapkan, secara umum pasien COVID-19 yang meninggal itu didominasi oleh mereka yang punya penyakit penyerta dan juga para lansia. Jumlahnya sekitar 54,6 persen. Tetapi dia mengklaim bahwa angka kematian kumulatif pasien COVID-19 telah menurun dibanding pekan sebelumnya yakni sebesar 0,19 persen.
“Artinya kematian bukan murni disebabkan oleh COVID-19. Pasien lebih dulu penyakit dan semakin parah setelah terkena COVID-19 dan rata-rata usianya 50 tahun ke atas,” tandas dia. (den)
