BERNAS.ID – Pandemi telah membuat sebagian bisnis harus menghadapi kenyataan pahit, termasuk bisnis konsultan, yang hampir 100% mengalami penurunan pendapatan.
Ketua Umum Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (Inkindo) Peter Frans dalam tulisannya tentang Outlook Inkindo 2021 yang dirilis pada akhir tahun lalu menyebutkan, sekitar 99% dari sekitar 6.000 anggota Inkindo yang mengalami penurunan revenue.
Hasil survei yang dilakukan pada Juni-Juli 2020 itu juga mengungkap, hampir 27% anggota harus mati suri karena adanya refocusing dan realokasi anggaran.
Belum lagi, terjadinya pemutusan hubungan kerja atau PHK sekitar 35% terhadap karyawan yang ada, dan sekitar 80% anggota kesulitan dalam permodalan.
Baca Juga: Jangan Jadi Generasi Mager, Anak Muda Perlu Belajar Bisnis yang Tepat
Melihat fenomena ini, lalu bagaimana agar bisnis konsultan di masa pandemi dapat bertahan? Langkah apa yang harus diambil ketika nanti pandemi berakhir?
Dosen/Peneliti Laboratorium Komunikasi dan Bisnis Arsitektur Universitas Islam Indonesia (UII) Ahmad Saifudin mengatakan teknologi berperan penting dalam transformasi bisnis konsultan di masa depan.
Dalam paparannya pada webinar Bisnis Konsultan di Masa Pandemi & Penandatanganan MoU FTSP UII dengan Inkindo pada Sabtu (24/7/2021), dia menyebutkan perlu adanya pembiasaan baru yang berkaitan dengan penggunaan teknologi.
“Keterbatasan literasi dan kemampuan teknologi informasi ini jadi poin penting. Pandemi menjadikan kita harus belajar lagi, berbuat sesuatu. Ini bukan fakta yang hanya sekejap, kita tidak tahu kapan ini akan berakhir,” katanya.
Dalam bidang konstruksi, Ahmad menjelaskan mengenai Building Information Modelling atau BIM yang bisa diterapkan untuk menghadapi situasi saat ini. Mengutip Designing Buildings, BIM adalah proses pembuatan dan pengelolaan informasi digital tentang aset yang dibangun, seperti gedung, jembatan, jalan raya, atau terowongan.
Menurut standar ISO 19650, BIM disebutkan sebagai representasi digital bersama dari aset yang dibangun untuk memfasilitasi proses desain, konstruksi, dan operasional untuk pengambilan keputusan yang andal.
Baca Juga: Dorong Efisiensi Pekerjaan Konstruksi, Apa Itu Integrated Project Delivery?
Ada 4 level dalam BIM. Berikut penjelasan masing-masing level BIM seperti yang dikutip dari penjelasan Ahmad:
- BIM level 0, tahap ini cukup mampu membuat gambar 2D tanpa kolaborasi
- BIM level 1, pengguna BIM sudah mampu memodelkan gambar secara 3 dimensi
- BIM level 2, kolaborasi pengguna BIM memodelkan gambar 3 dimensi disertai dengan perhitungan volume, schedule, dan biaya
- BIM level 3, berkoordinasi dengan pihak lain melalui layanan terpadu berbasis awan.
Menurut Ahmad, bisnis konsultan terutama konstruksi berada di level 3 sehingga komunikasi dengan pihak dilakukan harus menggunakan layanan terpadu berbasis cloud.
“Bekerja berbasis cloud yang datanya bisa diakses oleh elemen-elemen yang bekerja sama dalam pekerjaan konstruksi. Tentu ini akan memudahkan dalam satu sisi,” ucapnya.
Namun di sisi lain, dia mengakui masih ada keterbatasan yang dihadapi, seperti kemampuan dalam mengakses data, jaringan yang masih bermasalah, dan ketersediaan data untuk diakses.
“Jadi kita harus belajar, dengan menyegarkan pikiran, siap beradaptasi, merasakan manfaat teknologi, membuat orang tepat waktu, dan akan lahir metode baru dalam bekerja,” ujarnya.
Beradaptasi dengan Teknologi
Proses adaptasi dengan teknologi di era pandemi ini memang memerlukan waktu. Namun yang pasti, ada sejumlah perusahaan konsultan yang terpaksa tutup.
Ketua Dewan Pengurus Provinsi Inkindo Yogyakarta Dwiaryo Dyatmiko mengatakan, dari 188 anggota yang terdaftar, hanya menyisakan 169 perusahaan yang aktif hingga kini.
Dia menyebutkan beberapa hal terkait kemajuan teknologi di bidang konstruksi telah dilakukan, terutama yang berkaitan dengan lelang proyek di pemerintahan.
“Kita melakukan inovasi metode pelaksanaan konstruksi untuk era new normal,” katanya.
Saat ini, pihaknya sedang mengusulkan supaya satu tenaga ahli bisa mengerjakan sekitar 4-5 paket proyek, karena waktu pengerjaan yang tidak dibatasi 8 jam akibat work from home.
“Usulan ini tentunya perlu diskusi lebih dalam,” ucapnya.
Baca Juga: 5 Hal untuk Gairahkan Bisnis Properti yang Kembang Kempis di Yogyakarta
Terkait work from home, kendala pelaksanaan kerja dari rumah didominasi oleh belum terbiasanya karyawan menggunakan teknologi.
Kemudian, beberapa rancangan penerapan new normal yang diterapkan Inkindo pada jasa konsultan konstruksi antara lain:
- Meminimalisasi arus keluar masuk tenaga kerja konstruksi dari lokasi proyek
- Mengkhususkan tenaga kerja konstruksi melaksanakan loading/unloading material atau bahan
- Membatasi interaksi antara tenaga kerja konstruksi di lokasi proyek dengan pengemudi kendaraan pengangkut material atau bahan
- Membatasi kunjungan ke lokasi proyek dan mengutamakan sistem pemantauan jarak jauh
