JAKARTA, BERNAS.ID – Indonesia dianugerahi kekayaan budaya yang begitu beragam, salah satunya wastra nusantara. Istilah wastra sendiri berasal dari Bahasa Sansekerta yang memiliki arti sehelai kain. Setiap wastra memiliki motif, pola, dan warna yang berbeda antara satu dan lainnya serta memiliki filosofi dan cerita yang mendalam. Daerah Batak Toba pun memiliki wastra tersendiri, yang dikenal dengan nama Ulos. Sayangnya, popularitas Ulos masih ada di bawah Batik dan Tenun Ikat Sumba untuk level nasional dan internasional.
Ada tiga program kerja untuk melestarikan warisan tenun Batak (Ulos) sebagai warisan budaya tinggi dan potensi kekayaan tekstil Nusantara. Yaitu, pelestarian, pelatihan perajin, dan pengembangan komunitas yang berjalan berkelanjutan. PT Toba Tenun Sejahtra pun optimis tiga program kerja itu akan merevitalisasi dan memperkuat ekosistem kain ulos sebagai warisan budaya (Heritage).
Sejak tahun 2020, PT Toba Tenun Sejahtra merintis 3 fokus usaha secara paralel untuk perkuatan ekosistem tenun di Sumatra Utara, yaitu: Toba tenun untuk platform distribusi produk tenun Sumatra Utara; BORU untuk usaha pengembangan dan komersial produk turunan tenun seperti ready to wear, accessories dan home decor; dan Jabu Bonang untuk usaha pengembangan komunitas artisan kain tenun di Sumatra Utara.
Kerri Na Basaria, Founder dan CEO PT Toba Tenun Sejahtra mengatakan, Ulos merupakan warisan budaya bersejarah yang memiliki filosofi kehidupan mendalam dan erat kaitannya dengan keseharian masyarakat Batak. Menyadari potensi Ulos yang besar untuk dipasarkan di level nasional dan internasional, PT Toba Tenun Sejahtra berupaya untuk melakukan berbagai program kerja yang mencakup antara lain pelestarian budaya, pelatihan dan pendidikan perajin, serta pengembangan komunitas dan perempuan.
“Kami juga bekerja sama dengan lembaga pelatihan dan instruktur untukmembekali partonun agar dapat meningkatkan kompetensi mereka, baikdari sisi teknis maupun penciptaan desain sehingga kain Ulos tidak hanya bernilai budaya tetapi juga dapat memberikan dampak secara ekonomi dan sosial, menambah kekuatan industri kreatif dan seni Indonesia,” jelasnya dalam konferensi pers daring bertajuk “Revitalisasi Budaya & Perkuat Ekosistem Kain Ulos”, Jumat (24/9/2021).
Baca Juga: Ingin Menikahi Gadis Batak? Perhatikan Hal-hal Ini
Lebih dari itu, Kerri mengatakan dalam menjalankan model bisnisnya, perusahaannya memiliki 2 pilar utama yang fokus terhadap nilai sosial dan juga bisnis yang seimbang untuk dapat menghasilkan produk berkualitas ramah lingkungan yang tidak hanya memberikan nilai lebih kepada konsumen, tetapi juga mendatangkan keuntungan bagi artisan yaitu para perajin kami yang biasa disebut Partonun.
“Tenun memang tidak dapat dilepaskan dari peran penenun yang mayoritas adalah perempuan. Partonun (penenun) perempuan merupakan sumber daya manusia utama untuk menghasilkan tenun berkualitas. Partonun adalah penjaga budaya yang bekerja demi kelangsungan warisan budaya, menjaga filosofi hidup orang Batak, serta kemahiran tradisional,” imbuhnya.
Kerri juga menyampaikan tenun tradisional adalah salah satu bidang di mana pengetahuan berharga diwariskan dari para ibu ke anak-anak perempuan mereka secara turun-temurun. “Dan saat ini, sektor tenun tradisional ini bertahan berkat generasi perempuan muda Indonesia yang dinamis, yang memadukan kreativitas artistik dengan keterampilan bisnis,” ucapnya.
Memahami pentingnya peran partonun dalam ekosistem Ulos, Kerri menyebut PT Toba Tenun Sejahtra secara konsisten telah memberdayakan Partonun untuk dapat meningkatkan potensi dan keterampilan diri sehingga dapat semakin kuat dalam menjaga, mewariskan dan melestarikan Ulos yang berkualitas dan memiliki filosofi penuh makna.
Selain memfasilitasi para partonun untuk mengikuti berbagai pelatihan dan pendidikan, PT Toba Tenun Sejahtra juga memberikan dukungan dan pendampingan lewat Jabu Bonang serta memberikan solusi kepada para partonun yang memiliki banyak tantangan di lapangan seperti kurangnya akses terhadap bahan baku, rumitnya pemasaran, hingga kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang kerap dialami para partonun.
Peran PT Toba Tenun Sejahtra terhadap peningkatan kompetensi dan kualitas hidup partonun pun turut dirasakan Denita Manihuruk, Mitra Partonun & Champion Jabu Bonang mengatakan menjadi mitra partonun membuka banyak jalan untuk kehidupan yang lebih baik. “Bersama Tobatenun, saya telah mengikuti Lokakarya Tenun Motif Ulos dan Pewarnaan Alami. Tidak hanya menambah keahlian tetapi juga pengetahuan holistik yang berhubungan erat dengan kehidupan partonun seperti gerakan fisioterapi sederhana dan kesehatan reproduksi,” tuturnya.
“Tentunya fasilitas dan pendampingan yang berkelanjutan ini sangat membantu bagi kami para perajin untuk meningkatkan kemampuan baik menjadi penenun maupun kewirausahaan,” imbuhnya.
Denita pun berharap agar semakin banyak partonun mendapatkan kesempatan yang sama seperti yang ia dapatkan sehingga nantinya ekosistem tenun semakin besar, kuat, dan berkualitas dan berdampak kepada peningkatan perekonomian hidup.
Sebagai penutup, Kerri melalui PT Toba Tenun Sejahtra optimis dengan berbagai program yang dilakukan bersama mitra strategis lainnya dapat membuka kesadaran publik mengenai pentingnya menjaga dan melestarikan wastra nusantara, khususnya wastra Batak. “Kami harap upaya yang kami lakukan juga dapat memberikan dampak positif bagi keseluruhan ekosistem tenun dan menjadi bagian dari peningkatan perekonomian daerah maupun nasional,” tukasnya. (jat)
