Close Menu
BERNAS.id
    Berita Terbaru

    Akselerasi Layanan Digital, Bank Jakarta Kembali Hadir di Jakarta Fair 2026

    June 15, 2026

    Wacana ERP Menguat, DPRD Minta Transportasi Umum Jakarta Benar-Benar Siap

    June 15, 2026

    DPRD: Tarif Transjakarta Perlu Dikaji Ulang di Tengah Naiknya Biaya Operasional

    June 15, 2026

    5 Masjid Ikonik di Malaysia dengan Arsitektur Menarik!

    June 15, 2026

    Eki Pitung Soroti Dugaan Penggiringan Opini dalam Pemberitaan Heikal Syafar

    June 15, 2026
    Facebook Instagram Threads X (Twitter) YouTube TikTok LinkedIn RSS
    • Google News BERNAS
    • Tentang BERNAS
    • Redaksi BERNAS
    • Pedoman Media Siber
    Facebook Instagram Threads X (Twitter) YouTube TikTok LinkedIn RSS
    BERNAS.id
    • Home
    • Regional
      • Internasional
      • Nasional
      • Daerah
        • DK Jakarta
        • DI Yogyakarta
        • Jawa Tengah
        • Jawa Timur
    • Finance

      Akselerasi Layanan Digital, Bank Jakarta Kembali Hadir di Jakarta Fair 2026

      June 15, 2026

      Kolaborasi Bank Jakarta dan Bapenda DKI di Jakarta Fair Bisa Bayar Pajak

      June 13, 2026

      Bank Jakarta Usung Visi Financial Operating System untuk Perkuat Ekosistem Kota

      June 8, 2026

      Bank Jakarta Siapkan Empat Strategi Wujudkan Kota Inklusif

      June 7, 2026

      Belanja Negara di DIY Capai Rp6,2 Triliun hingga Akhir April 2026

      June 2, 2026
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Karir
    • Lifestyle
    • Politik
    • Hukum
    • Other
      • Travel
      • Entertainment
      • Opini
      • Tokoh
      • Budaya
      • Religi
      • Lingkungan
      • Kesehatan
      • Olahraga
      • Desa
      • Beragam
        • Bernas TV
        • Citizen Journalism
        • Editorial
        • Highlight
        • Inspirasi
        • Press Release
        • GlobeNewswire
    • Channel Jakarta
    BERNAS.id
    Home»Beragam»Inspirasi»Kisah Frans Budi Santika, Si Introvert yang Bertransformasi Jadi Trainer Spesialis Komunikasi
    Inspirasi

    Kisah Frans Budi Santika, Si Introvert yang Bertransformasi Jadi Trainer Spesialis Komunikasi

    Veronika YasintaBy Veronika YasintaNovember 7, 2021Updated:March 24, 2025No Comments
    Telegram WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Email
    Kisah Frans Budi Santika
    Share
    Telegram WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Email

    BERNAS.ID – Baginya, kemampuan komunikasi dalam diri seseorang itu ibarat sebuah oli mesin. Mesin yang bagus sekali pun akan panas jika oli yang dipakai berkualitas buruk. Inilah kisah Frans Budi Santika.

    Sedangkan oli yang bagus bisa membuat mesin tersebut bekerja maksimal. Ia adalah pemberi oli tersebut. Namanya, Frans Budi Santika. Seseorang yang bermetamorfosis dari anak kecil gagap menjadi trainer profesional di bidang komunikasi.

    Frans sempat hidup membiara hingga momen krisis moneter pada 1998 mengubah jalan hidupnya. Masuk ke dunia kerja profesional semakin menyadarkan dirinya tentang perlunya mengubah kelemahan menjadi kekuatan.

    Ya, Frans yang introvert itu mau tidak mau harus membuka diri demi merintis karier di dunia baru. Ketidakmampuan berkomunikasi seperti mengemukakan pendapat dan menerima perbedaan hanya akan berujung konflik.

    Baca Juga: Kisah Ayu Kartika Sastrosusilo Memoles Orang untuk Makin “Pede” Bicara di Depan Umum

    Kini, sayapnya semakin melebar hingga dipercaya sebagai trainer sejumlah petinggi perusahaan, kementerian, dan instansi lainnya. Bagaimana kisah perjalanan Frans dalam meraih kesuksesan? Berikut selengkapnya.

    Si Anak Introvert

    Frans lahir di Cililitan, Jakarta, pada 1972, dari orangtua yang berasal dari Klaten, Jawa Tengah. Ia besar di Klender, Duren Sawit, dan tumbuh menjadi anak yang pemalu.

    Sebagai seorang kakak yang waktu itu punya dua adik perempuan, Frans dituntut menjadi anak yang baik dan penurut. Namun, hal itu justru membuatnya menjadi takut dan kurang bergaul dengan anak laki-laki. Ia pun pernah gagap dalam berbicara.

    “Saya ingat sekali waktu kecil juga saya pernah gagap, entah karena trauma atau karena sakit. Waktu itu badan saya panas begitu tinggi,” katanya kepada Bernas.id.

    Frans masih ingat ketika demam tinggi waktu itu, ia dibawa ke dokter. Saat dokter menanyakan siapa namanya, ia terbata-bata dan tidak berhasil menyebutkan namanya dengan lancar.

    Sang dokter menyarankan agar Frans dilatih dengan hobi yang bersifat individualis seperti melukis dan bermusik. Akhirnya, ia tumbuh sebagai anak yang introvert. Meski demikian, ia tetap percaya diri karena disukai oleh teman-temannya karena kemampuannya main musik dan melukis.

    Tapi tetap saja, ia tidak mau menjadi pusat perhatian. Ketika duduk di bangku SMP dan SMA, Frans sebagai pemain musik di band amatir. Dia menyebut perannya dalam lingkungan itu hanya sebagai pendukung.

    Di sisi lain, hobinya melukis justru membawa pundi-pundi cuan kepadanya. Ia bisa melukis dengan pensil arang. Banyak dari kakak kelas yang memintanya untuk melukis wajah gebetan mereka. Bayarannya termasuk lumayan besar untuk masa itu, yakni sekitar Rp100.000-Rp200.000.

    “Lukisan saya bisa dikatakan memang bagus, boleh lah ditandingkan dengan orang-orang yang melukis di Taman Ismail Marzuki,” ucapnya.

    SMA menjadi momen kekhawatiran orangtuanya sehingga mereka meminta Frans untuk masuk seminari. Sebagai informasi, seminari adalah tempat pendidikan untuk calon rohaniwan Katolik.

    “Saya masuk Seminari Wacana Bhakti angkatan ke-2. Saya nggak suka sebetulnya tapi ya karena dipaksa dan saya memang anak yang penurut, ya sudah ikut,” tuturnya.

    Baca Juga: Melalui Metode Coaching,  Fauziah Zulfitri Bagikan Kisahnya Mengasah “Berlian” dari Indonesia Timur

    Di sana, ia menemukan sesuatu yang mengubah jalan hidupnya. Frans tertarik untuk lanjut menjadi frater. Frater adalah sebutan bagi seorang calon imam dalam agama Katolik.

    Ia memilih menjadi misionaris di ordo Missionarii Sacratissimi Cordis (MSC) atau Misionaris Hati Kudus. Ia melanjutkan pelayanannya di Manado, Sulawesi Utara. Di sana, ia sangat bahagia karena semua hobinya dapat terakomodasi.

    Ia pun memperoleh banyak kawan dan kerap mendapat kunjungan dari umat yang sekadar ingin mengobrol. Namun, ia hanya bertahan 8 tahun dalam siklus hidupnya tersebut.

    Menjadi Awam dan Awal Karier Profesional

    Krisis 1998 membuatnya berpikir lagi tentang jalan hidupnya. Selama ini, segala yang terjadi seakan mengalir begitu saja. Namun, ia merasa harus melakukan sesuatu yang berbeda dari biasanya.

    Pada 1999, ia memutuskan untuk mundur dari kehidupan rohaniwan dan terjun sebagai manusia baru. Pada tahun 2000, Frans resmi menjadi orang awam. Kemudian, ia disarankan untuk masuk ke dunia asuransi sebagai awal jalan kariernya.

    “Kerja pertama coba-coba jadi agen asuransi Prudential, dari pendiam dipaksa ngomong,” ujarnya.

    “Leader saya bilang, kalau mau sukses sebagai awal coba dulu masuk di dunia asuransi. Itu profesi paling keras. Kalau di asuransi bisa maka di bidang lain juga bisa,” jelasnya.

    Dia memang nekad. Dengan menghilangkan semua rasa ketakutannya, dia merasakan bagaimana rasanya dijauhi, diusir, dan banyak hal lain ketika terjun di dunia asuransi.

    Ia harus melepaskan ego dan berani merendah, bahkan menjadi terbiasa untuk menyapa orang terlebih dahulu. Sebuah hal yang berbeda 180 derajat dari kehidupannya dulu sebagai rohaniwan.

    Frans hanya bertahan selama dua tahun, kemudian ia memperoleh tawaran untuk bekerja di Modern Group oleh salah satu seniornya. Titik lompat ini berawal dari kisahnya mengubah kelompok paduan suara di sebuah gereja di Tangerang.

    Tidak banyak yang bisa membaca not angka, bahkan kelompok itu tidak pernah juara dalam kompetisi. Tapi begitu Frans melatih, kelompok tersebut berubah drastis.

    “Nah dari situ kemudian si bos bilang kalau saya bisa mengorganisir orang, bisa paham orang, jadi saya ditawari pekerjaan. Saya menjadi Asisten Manager di pabrik di Cikande. Itu tahap dua dalam kaitan dengan profesi saya,” jelasnya.

    Bekerja di situ menjadi momen Frans menyadari dunia kerja profesional yang berbeda dengan pandangannya selama ini. Dalam sebuah rapat kerja, ia berupaya untuk mempertahankan sesuatu yang benar, namun tetap saja argumennya bisa dipatahkan.

    Baca Juga: Perjalanan Lidia Rusvita Jadi Coach Dimulai dari Bahagia Membantu Sesama

    Lagi-lagi, ia hanya bertahan dua tahun untuk kemudian melanjutkan karier di perusahaan properti di Jakarta. Di sanalah ia menyadari bahwa sepintar apapun dan sebaik apapun karakter kita, tetap membutuhkan kemampuan komunikasi yang baik.

    Ia pun melanjutkan perjalanan kariernya dengan mendirikan event organizer dan menangani klien sebesar Krishnamurti, seorang motivator dan tokoh Neuro Linguistic Programming (NLP) di Indonesia.

    Penyelenggaraan pertama, ia berhasil mendatangkan 150 audiens dari target 100 orang. Namun pada penyelenggaraan kedua, ia merasa gagal karena jumlah audiensnya jauh dari target.

    Namun, ia justru melihat sang motivator itu justru merasa baik-baik saja dengan jumlah audiens yang tidak sebanyak sebelumnya. Dari situ, ia berpikir profesi semacam sesuatu itu merupakan pekerjaan yang bahagia dan tidak memicu stres.

    “Bakar Kapal”

    Frans menikah pada 2006, yang kemudian menjadi titik balik karena finansialnya juga sedang terpuruk. Ia menyebut proses hidupnya itu dengan sebutan “bakar kapal”. Pada 2007, ia mulai merintis karier sebagai seorang trainer.

    “Menjadi trainer sebetulnya dalam rangka mengembangkan diri sendiri. Jadi saya tidak pernah bermimpi menjadi seorang trainer,” katanya.

    Ya, impian Frans sebenarnya menjadi seorang musisi, pelukis, atau pematung. Namun, ia bisa menyimpan cita-citanya itu dan menjadikannya sebagai hobi di hari tua.

    Singkat cerita, Frans menyadari terjadinya banyak konflik akibat dari ketidakmampuan berkomunikasi, mengemukakan perbedaan pendapat, dan menghormati satu sama lain.

    Ia mempunyai misi untuk mendamaikan konflik melalui komunikasi yang baik dan benar. Maka, ia menyematkan kata “Santika” pada namanya, yang diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti mendamaikan.

    “Saya merasa dengan mengajar komunikasi yang baik dan benar, maka orang-orang akan lebih mudah berdamai satu sama lain, nggak pakai otot tapi pakai otak dan hati,” jelasnya.

    Pada 2008, ia mendirikan Heartspeaks Indonesia, sebuah lembaga penyedia training, seminar, dan konsultasi bidang komunikasi profesional. Ia juga belajar NLP sampai level master, dengan tujuan awal untuk meningkatkan kompetensinya sebagai trainer.

    Baca Juga: Kisah Karatyaning Lintang, Berawal dari Pendengar yang Baik hingga Coach untuk Future Leader

    Frans yang sebelumnya tidak bisa bicara dengan baik, kini mampu berkomunikasi secara sistematis. Dari situ, dia memperoleh pandangan tentang target audiens yang tepat, yakni mereka yang juga introver seperti dirinya.

    Menurutnya, kemahiran berkomunikasi lebih banyak diperoleh melalui respirasi keringat kerja keras. Artinya, kemampuan berkomunikasi memerlukan kecerdasan dan strategi yang benar.

    “Hambatan terbesar dalam komunikasi adalah citra diri dan persepsi-persepsi tentang dirinya,” ujarnya.

    Komunikasi Ibarat Oli Mesin

    Frans menilai berkomunikasi yang efektif harus selalu melihat konteks. Dengan kata lain, dengan siapa komunikan atau penerima pesan dalam komunikasi.

    Dia menuturkan kekuatan utama dalam komunikasi bukan dari kemampuan berbicara, melainkan kemampuan observasi dan mendengar orang lain. Kemampuan berbicara merupakan kemampuan terakhir dari sebuah komunikasi.

    “Kalau jago ngomong duluan lalu kemampuan observasi dan mendengarkan lemah, padahal menjadi komunikator efektif tidak hanya interpersonal tapi juga profesional,” tuturnya,

    Baca Juga: AI Powered SEO, Strategi Cerdas Optimalkan Bisnis Dibantu Google

    Selama 13 tahun sebagai seorang trainer, sudah lebih dari 25.000 orang yang dilatih oleh Frans. Mereka terdiri dari banyak profesi, mulai dari para eksekutif, pejabat, dokter, bahkan tokoh-tokoh di Tanah Air.

    Ia merasa semakin bermakna apabila melihat pejabat publik berbicara di stasiun TV nasional dengan menggunakan teknik yang ia ajarkan, termasuk para dokter yang memberikan edukasi terkait pandemi.

    Ia meyakini orang-orang hebat itu pada dasarnya memiliki kecerdasan. Dengan mengasah kemampuannya dalam berkomunikasi membuat kecerdasannya semakin melejit. Frans mengibaratkan dirinya sebagai pemberi oli pada mesin-mesin yang hebat itu.

    “Komunikasi itu seperti oli mesin. Mesinnya bisa Lamborghini, bisa mesin Ferrari, tapi kalau olinya jelek maka mudah panas terbakar dan rusak,” ucapnya.

    “Tapi kalau dikasih oli yang sangat bagus, dia bisa bekerja maksimal dan dia menjadi bagaimana hakikatnya dia seperti yang Tuhan beri. Jadi fungsi saya hanyalah sebagai pemberi oli,” imbuhnya.

    Bermakna bagi Sesama

    Hari-hari terus berjalan membuatnya tersadar apa sebenarnya target dalam hidupnya. Kemudian, Frans berpikir untuk menjadi seseorang yang semakin bermakna kepada sesama.

    Ia melihat fenomena di sekitarnya, ketika ada seorang tokoh yang begitu dihormati. Namun, setelah meninggal, tokoh itu dilupakan dalam waktu singkat. Setelah merenungi, ternyata tokoh tersebut lebih banyak memberikan manfaat bagi dirinya sendiri.

    Maka, Frans ingin memberikan kebaikan kepada sesama melalui kemampuannya mengasah komunikasi bagi orang lain. Sekitar 30% dari aktivitas pelatihannya dijadikan sebagai pelayanan kepada gereja, LSMI, dan sebagainya, serta diberikan secara gratis.

    “Saya nggak bisa memberi barang atau materi, tapi saya memberikan kemahiran yang membuat orang lebih mudah berinteraksi dengan orang lain,” katanya.

    Baca Juga: Kisah Issa Kumalasari Membantu Sesama Lewat NLP

    “Membuat mereka lebih mudah bahagia juga karena komunikasi itu ada elemen komunikasi intrapersonal, yaitu berbicara dengan diri sendiri atau kemahiran self talk yang juga ada pelatihannya biar nggak salah ngomong, nggak salah memotivasi diri,” jelasnya.

    Tidak ada istilah pensiun dalam profesi trainer sehingga ia ingin bisa terus beraktivitas hingga akhir hayat. Ia mendalami filosofi gaya hidup Ikigai ala orang Jepang, tepatnya di Okinawa. Konsep ini menjadi resep bahagia dan panjang umur orang Jepang.

    “Umur 100 tahun lebih tapi ototnya masih berfungsi, otaknya masih bagus, panca indranya masih cukup baik atau lebih baik daripada orang seusia mereka,” ucapnya.

    “Pada umumnya salah satu prinsip yang terpenting adalah beraktivitaslah sampai akhir hayat,” imbuhnya.

    Perjalanan Frans Budi Santika membuktikan bahwa transformasi diri bukanlah hal yang mustahil. Kuliah sambil berbisnis bukan lagi impian. Menjadi reseller laptop adalah solusi cerdas untuk mendapatkan penghasilan tambahan tanpa mengganggu jadwal akademik. Raih masa depan dengan mendaftar di UNMAHA. Hubungi langsung melalui WhatsApp di nomor resmi UNMAHA untuk mendapatkan respons cepat serta informasi akurat. Universitas Mahakarya Asia juga telah membuka kesempatan bagi Anda yang ingin mendapat beasiswa berupa gratis pembayaran SPP kuliah.***5

    Frans Budi Santika kisah inspiratif komunikasi NLP trainer komunikasi
    Share. Telegram WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email
    Veronika Yasinta

    Related Posts

    HUT Ke-62 Sulteng Dorong Ekonomi dan Kolaborasi

    April 24, 2026

    Semangat Kartini, Sulteng Perkuat Program 9 Berani

    April 20, 2026

    Semangat Kartini Modern Pesan Inspiratif Kapolsek Palu Selatan

    April 20, 2026

    Kartini Masa Kini, Perempuan Sulteng Berani Berkarya

    April 20, 2026

    Bagaimana Siswa Meningkatkan Kualitas Tugas Mereka dengan Melakukan Parafrase?

    December 16, 2025

    Sampah di Jogja, Cermin Retak Sistem yang Belum Beres

    November 20, 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Internasional Terbaru

    EAACI Menyerukan Masa Depan “Vision Zero” yang Bebas dari Beban Alergi dan Asma

    June 13, 2026

    EAACI Menyerukan Masa Depan “Vision Zero” yang Bebas dari Beban Alergi dan Asma

    June 13, 2026
    Berita Nasional Terbaru

    Putri Alya Sidik, Penulis Cilik di Tengah Rendahnya Tingkat Literasi Masyarakat

    June 10, 2026

    28 Tahun Reformasi, Aktivis UJB Luncurkan Buku Sejarah Gerakan Mahasiswa

    May 21, 2026
    Berita Daerah Terbaru

    Wacana ERP Menguat, DPRD Minta Transportasi Umum Jakarta Benar-Benar Siap

    June 15, 2026

    DPRD: Tarif Transjakarta Perlu Dikaji Ulang di Tengah Naiknya Biaya Operasional

    June 15, 2026
    BERNAS.id

    Office Address :
    Jakarta
    Menara Cakrawala 12th Floor Unit 05A
    Jl. MH Tamrin Kav. 9 Menteng, Jakarta Pusat, 10340

    Yogyakarta
    Kawasan Kampus Universitas Mahakarya Asia,
    Jl. Magelang KM 8, Sendangadi, Mlati, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, 55281

    Email :
    info@bernas.id
    redaksi@bernas.id

    Advertisement & Placement :
    +62 812-1523-4545

    Link
    • Google News BERNAS.id
    • Tentang BERNAS
    • Redaksi BERNAS
    • Pedoman Media Siber
    • Kode Etik
    • Verifikasi Dewan Pers BERNAS.id
    BERNAS.id
    Facebook Instagram Threads X (Twitter) YouTube TikTok LinkedIn RSS
    • Google News BERNAS
    • Tentang BERNAS
    • Redaksi BERNAS
    • Pedoman Media Siber
    © 2015 - 2026 BERNAS.id All Rights Reserved.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.