JAKARTA, BERNAS.ID – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Boy Rafli Amar menyampaikan, kelompok terorisme akan melakukan berbagai upaya untuk dapat merekrut masyarakat masuk ke dalam jaringannya.
Boy mengatakan, kondisi tersebut jelas masih menjadi tantangan bangsa Indonesia, sebab sangat bertentangan dengan nilai luhur dan ideologi negara. Salah satu diantaranya beberapa jaringan terorisme tersebut yang aktif merekrut orang adalah Jamaah Islamiyah (JI).
Boy mengatakan, hingga saat ini JI masih terus melakukan rekrutmen untuk kelompoknya. “Bahkan menyelenggarakan kegiatan pendanaan untuk terorisme, mereka berusaha mengumpulkan dana dari masyarakat untuk mendukung aktivitas kegiatan terorisme mereka, seperti memberangkatkan pihak-pihak tertentu untuk berangkat ke Suriah misalkan, itu adalah salah satu yang mereka lakukan,” jelasnya, Senin (8/11/2021).
Baca Juga : Jokowi: Tak Ada Satupun Tempat Bagi Tindak Terorisme, Ini Dukungan Netizen
Boy menambahkan, dalam perekrutannya, jaringan terorisme JI itu kerap kali menargetkan masyarakat dari berbagai kalangan termasuk kalangan bawah. Bahkan ironisnya, lanjut Boy, tidak sedikit pegawai Aparatur Sipil Negara (ASN) masuk sebagai anggota organisasi terlarang itu.
“Karena itu kita tidak ingin masyarakat kita menjadi korban seperti sekarang ini, karena mereka memang berusaha mencari jejaringnya sampai ke lapisan masyarakat bawah dan tidak sedikit mereka yang berlatarbelakang ASN,” ungkapnya.
Hanya saja, Boy tidak menyebutkan secara detail jumlah pegawai ASN yang terpapar paham radikalisme tersebut. Pernyataannya ini juga merujuk pada kasus penangkapan anggota terorisme JI di Lampung yang ternyata juga menjabat sebagai Kepala Sekolah Dasar Negeri dari Pemda Lampung.
Baca Juga : BNPT Gelar Deklarasi Kesiapsiagaan Nasional
Berdasarkan hal tersebut, sangat diperlukan pemahaman atau edukasi terkait pertentangan terhadap narasi-narasi radikal sedari dini. Sebab jika tidak, maka bukan tidak mungkin nantinya, dikhawatirkan ribuan masyarakat akan dengan sangat mudah tergabung dalam jaringan yang menyesatkan tersebut.
“Ini tentu memerlukan semacam kewaspadaan dini bagi kita semuanya, jadi (khawatirnya) tanpa terasa nanti semua ribuan kita bisa ikut sepakat dengan apa diusung oleh paham ideologi terorisme ini,” katanya.
“Penyadaran seperti ini yang terus kita lakukan bersama dengan unsur kementerian/lembaga bersama pemerintah daerah, tokoh masyarakat, untuk kita selamatkan masyarakat kita bangsa kita dari pengaruh-pengaruh negatif dari mereka-mereka yang memanfaatkan ideologi terorisme untuk keuntungan mereka sendiri,” tukasnya. (cdr)
