BERNAS.ID– Ilmuwan dan dokter dari University of Maryland School of Medicine Health, Amerika Serikat, dr. Faheem Younus, MD, menjadi populer di Twitter.
Pasalnya, dia kerap menggunakan bahasa Indonesia dalam kicauannya. Pada acara Simposium Covid-19 yang digelar oleh Humanity First dan Gusdurian Indonesia, Faheem berkesempatan bertemu langsung dengan warga Indonesia secara daring.
Mengenai alasannya memakai bahasa Indonesia, dia menyatakan telah beberapa kali menggunakan bahasa asing untuk mengedukasi masyarakat mengenai Covid-19. Dia pernah menggunakan bahasa India, Spanyol, dan Urdu supaya masyarakat di masing-masing negara itu semakin waspada dengan bahaya virus corona.
Baca Juga: Vaksinasi COVID-19 Gratis Disediakan di Stasiun Yogyakarta dan Solo Balapan
“Di India ketika ada krisis, saya pakai bahasa India. Kemudian bahasa Spanyol untuk Amerika Selatan seperti Peru, Brasil, Ekuador, Argentina, karena mereka tidak tahu betapa bahayanya virus ini,” ujarnya, Sabtu (17/7/2021).
“Saya juga nge-tweet dalam bahasa Urdu, bahasa ibu saya, karena saya lahir dan dibesarkan di Pakistan. dan sekitar 6 minggu lalu, Indonesia menjadi negara selanjutnya,” katanya.
Lalu bagaimana Faheem bisa menyusun kata-kata dalam bahasa Indonesia? Jawabannya dengan menggunakan bantuan Google Translate atau Google Terjemahan.
Kemudian ada seseorang yang menawarkan diri untuk membantunya menerjemahkan setiap kicuan, namun tidak berlangsung lama. Kini, dia kembali memakai Google Translate.
“Saya melakukannya dengan banyak kerja keras, menerjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, setelah itu saya ulang dari bahasa Indonesia diterjemahkan lagi ke bahasa Inggris untuk melihat apakah ada kesalahan di situ,” jelasnya.
Kicauan Faheem dalam bahasa Indonesia bisa dilihat di akun Twitter @FaheemYounus. Lebih lanjut, ada beberapa hal yang dijawab Faheem secara langsung seputar Covid-19.
Berikut 5 hal mengenai mitos dan fakta tentang Covid-19 yang dirangkum oleh Bernas.id dari jawaban-jawaban Faheem Younus:
Minum Susu dan Air Kelapa Cegah Covid-19
Beberapa waktu lalu, kita diramaikan dengan peristiwa panic buying di mana warga memborong susu steril merek Bear Brand untuk menangkal Covid-19.
Belum lagi, air kelapa yang harganya sempat melambung tinggi karena diyakini dapat membunuh virus corona. Menurut Faheem, tidak ada bukti meminum susu atau minuman apapun dapat mencegah seseorang terpapar Covid-19.
“Kalau kamu sudah bergejala tapi kamu tidak tes Covid-19 berarti kamu membiarkan virus ini menyebar ke semua orang,” katanya.
Dia menjelaskan virus tersebut hanya butuh waktu 10 hari untuk bisa menjangkiti orang lain, kemudian virus memulai siklusnya lagi selama 10 hari.
Baca Juga: Ahli Gizi Nyatakan Susu Merek Beruang Tak Bisa Obati Covid-19
“Kalau kamu bergejala, tapi cuma minum minuman tadi sama saja kamu memberikan air racun kepada orang yang kamu sayangi di rumah, di kantor, teman-temanmu,” ujarnya.
“Ketika kamu bergejala, pakailah maskermu, tes Covid-19, dan mengisolasi diri selama 10 hari. Misimu adalah untuk membunuh virus yang ada di tubuhmu sehingga tidak menulari orang lain,” imbuhnya.
Faheem mengatakan tidak ada susu yang bisa menyelamatkan kita dari virus, dan tidak ada negara yang berhasil mengendalikan virus dengan menggunakan susu.
Obat Ivermectin Diklaim Sembuhkan Covid-19
Mengenai isu obat Ivermectin yang dianggap bisa menyembuhkan Covid-19, Faheem mengakui hal ini menjadi topik yang kontroversial di Indonesia.
Memang dalam riset skala kecil, invermectin punya efek terkait penyembuhan Covid-19. Namun, pada studi metanalisis yang berbasis bukti dengan jumlah sampel yang hingga ribuan menunjukkan hasil yang berbeda.
“Studi pada sampel yang sangat besar menyatakan Ivermectin tidak dapat menyembuhkan Covid-19,” katanya.
Banyak negara yang sukses mengendalikan virus ini seperti Taiwan, China, Australia, Selandia Baru, Vietnam, Korea Selatan, dan Amerika Serikat tidak menggunakan Ivermectin.
“Berdasarkan sains dan praktik yang dilakukan, saya meyakini Ivermectin tidak boleh dipakai untuk Covid-19,” ucapnya.
Vaksin Covid-19 Terbaik
Menurut Faheem, hingga kini kita belum bisa menentukan vaksin apa yang terbaik, atau berapa dosis yang ampuh menangani Covid-19.
Meski berdasarkan informasi yang telah terkumpul, sangat mungkin vaksin Sinovac dan Sinopharm tidak sefektif Pfizer dan Moderna. Namun, dia tetap menyarankan agar semua orang segera ikut vaksinasi apabila vaksin jenis apapun telah tersedia. Seperti diketahui, vaksin Pfizer memiliki efikasi sebesar 95,5-100%, sementara efikasi Sinovac sebesar 65,3%.
“Vaksin itu seperti sabuk pengaman yang bisa menyelamatkan nyawa ketika kecelakaan terjadi,” ujarnya.
“Jadi mau efikasinya 60% atau 70%, saya akan bilang kalau vaksin tersedia ikutlah vaksin. Pada saat yang sama, jangan ke tempat yang ramai,” imbuhnya.
Meski sudah divaksin, bukan berarti masyarakat bisa pergi ke acara yang berpotensi mengundang kerumunan seperti acara pernikahan di dalam ruangan, atau ke tempat ibadah.
Baca Juga: Menjadi Vaksinator karena Ingin Bantu Pemerintah Capai Herd Imunity
Mengenai vaksin kombinasi, Faheem menuturkan memang beberapa yang bisa seperti AstraZeneca dengan Pfizer, atau Pfizer dengan Moderna.
Namun, belum diketahui apakah vaksin Sinovac dan Sinopharm bisa dilanjut untuk dosis keduanya dengan Pfizer atau tidak. Dia berharap, setiap individu selalu konsultasi ke dokter mengenai hal tersebut.
“Kalau ada lansia berusia di atas 65 tahun punya diabetes atau autoimun, penyakit jantung, darah tinggi, mungkin penggunaan kombinasi vaksin ini harus dikonsultasikan dulu,” katanya.
“Jadi harus ada rekomendasi dulu karena studi belum tersedia hingga sekarang,” ucapnya.
Antibiotik untuk Covid
Ada dua obat antibiotik yang selama ini digunakan untuk terapi pasien Covid-19 seperti Oseltamivir dan Azithromycin. Namun, organisasi profesi kedokteran sudah tidak lagi memasukkan kedua obat tersebut dalam standar perawatan pasien Covid-19.
Faheem menilai pasien yang menderita Covid-19 memang tidak memerlukan antibiotik. Berdasarkan studi meta analisis, sekitar 93% pasien itu tidak butuh antibiotik, yang kegunaannya untuk membunuh bakteri.
“Malahan 1/3 pasien Covid dapat efek samping antibiotik. Nah efek sampingnya kadang-kadang mirip ssama gejala Covid, jadi simpang siur ini malah bikin bingung,” ucapnya.
Belum lagi risiko dari terlalu banyak mengonsumsi antibiotik yang dapat menyebabkan resistensi. Apabila seorang pasien pada dua tahun mendatang terserang penyakit akibat bakteri, maka antibiotik itu tidak bisa bekerja lagi pada tubuhnya.
Sudah Melewati 10 Hari, Tapi Masih Sakit dan Batuk
Apakah wajar jika seseorang sudah mengisolasi diri selama lebih dari 10 hari, namun masih memiliki gejala seperti batuk?
Faheem menilai Covid-19 bukanlah penyakit flu biasa sehingga apabila dalam dua pekan tubuh merasa lemas, itu merupakan hal yang wajar.
Menurutnya, dalam dua pekan tubuh akan pulih hingga 80%, sementara sisanya butuh waktu 6 hingga 8 pekan untuk benar-benar fit. Jika gejala tidak bertambah membutuk berarti tubuh telah membaik.
Baca Juga: Belasan Transpuan di Jogja Meninggal Selama Pandemi
“Kalau Anda saturasinya 92%, nggak punya komorbid, maka nggak perlu obat-obatan spesifik, hanya perlu obat penurun panas seperti parasetamol,” tuturnya.
“Bisa juga cuci hidung atau semprot hidung, yang penting istirahat, makan yang baik, isolasi, jangan sampai menularkan ke orang-orang sekitar,” imbuhnya.
Itulah beberapa hal yang ditanyakan oleh peserta acara kepada Faheem. Mengakhiri perbincangan, dokter kelahiran Pakistan ini mengucapkan pesan dengan menggunakan bahasa Indonesia.
“Indonesia akan baik-baik saja, pandemi ini akan berakhir,” ucapnya.
