GUNUNG KIDUL, HarianBernas.com – Esti Wijayanti, Anggota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat menyebut agar bisa menyasar ke seluruh pelajar dari keluarga tidak mampu perlu dilakukan pengawalan Program Indonesia Pintar (PIP) di Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta, Minggu (2/9/16).
Selain itu, perlu penanganan serius tentang masa lama sekolah yang rata-rata 9 tahun di Gunung Kidul. “Permasalahan saat ini program belum terdistribusi secara baik. DPR RI akan mengawal program agar berjalan maksimal,” imbuh Esti.
Pendidikan Kabupaten Gunung Kidul tertinggal dengan Kota Yogyakarta, yaitu 12 tahun dan Sleman, yaitu 11,5 tahun. Harapannya, PIP mampu mengejar ketertinggalan pendidikan di Kabupaten Gunung Kidul.”Hal ini sangat penting, apalagi lama pendidikan di Gunung Kidul masih tertinggal,”imbuhnya.
Bantuan PIP dari Pemerintah untuk sekolah dasar Rp450.000, siswa SMP sebesar Rp.750.000, dan siswa SMA dan sederajat senilai Rp1 juta per tahun. Belum semua masyarakat terdata dengan baik sehingga pihaknya terus melakukan pendataan.
“PIP diberikan untuk membantu sekolah. Uang harus digunakan kepentingan pelajar seperti membeli buku, seragam maupun keperluan sekolah lain,” jelas politisi PDI Perjuangan daerah pemilihan (dapil) DIY ini.
Suharno, Ketua DPRD Gunung Kidul Suharno mengakui Fraksi PDIP yang secara aktif turun ke lapangan untuk melakukan pendataan siswa tidak mampu yang belum mendapatkan PIP.
“Usulan yang diajukan ke pusat ini di luar Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Gunung Kidul karena memang data langsung turun ke lapangan dan mendapatkan masih banyak pelajar tergolong keluarga tak mampu belum memperoleh PIP,” katanya.
Pihaknya akan terus mendata dengan target 10 ribu siswa di Gunung Kidul. Pihaknya terus berupaya menemukan siswa yang tidak tercover PIP.
