Yogyakarta, HarianBernas.com – Tejo Badut di Street Art pancing masyarakat untuk mencintai seni wayang dalam rupa pertunjukkan Gatotkoco, Anoman, dan Punokawan, Minggu (25/9).
“Seni wayang tak sekadar hiburan, tapi mengandung pesan moral, pendidikan, dan budi pekerti,” terang Tejo Badut setelah penampilannya di “Street Art” di Yogyakarta.
Dalam sejarah, melalui seni wayang, Walisongo berdakwah menanamkan akhlak ke masyarakat. Rute Street Art, yaitu Tugu Pal Yogyakarta – Jalan Mangkubumi – Stasiun Tugu – Malioboro – Titik Nol – Kantor Pos – Alun Alun Utara – Pasar Ngasem – Tamansari – Alun Alun Kidul – Prawirotaman.
Panitia Pameran Seni Wayang, Chamit Arang menyebut seni wayang menjadi salah satu produk budaya Indonesia yang menonjol dari budaya bangsa-bangsa lain. Seni wayang mencakup banyak bidang seni, misal ( 1) Seni suara, (2) Seni musik, (3) Seni peran, sastra, dan (4) Seni ukir/sungging. Seni wayang juga memuat filosofi yang kuat sebagai media penerangan, pendidikan, dakwah, dan hiburan.
Dalam dunia pewayangan, goro-goro bisa berarti tanda-tanda perubahan/pergantian jaman dengan kejadian yang luar biasa. “Akhir goro-goro, awal zaman kemapanan,”imbuhnya.
Goro-goro adalah tanda perubahan waktu. Goro-goro berarti huru-hara. Goro-goro, suatu keadaan yang kacau, tidak menentu, dan meresahkan. Para penghuni kahyangan geger kebingungan pontang-panting sampai akhirnya Sang Hyang Jagadnata atau Raja Dewa turun ke bumi membawa air kehidupan, lalu meneteskan di tempat goro-goro. Seketika goro-goro terhenti. Kehidupan bumi menjadi tenteram dan damai.
Diiringi empat Punokawan yaitu Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong untuk menghibur dan mengajak satria pinilih melanjutkan perubahan. “Peran Punokawan sangat penting dalam goro-goro,”imbuhnya.
Goro-goro di dunia kesenian dapat bermakna proses kreativitas seniman untuk merespons keadaan kehidupan sehari-hari. “Goro-goro di jagad pewayangan, gejalanya juga seakan terjadi di alam nyata ini,” imbuh Chamit.
Street Art yang berlangsung dari tanggal 24-25 September 2016 menjadi rangkaian pameran seni rupa wayang bertajuk Goro-Goro bersama 50 perupa. Street Art juga akan dihelat di Pendopo Art Space, Tegal Krapyak, Sewon, Bantul, DIY, tanggal 3-10 Oktober 2016 oleh Kelompok Wedangan Yogyakarta.
