GUNUNG KIDUL, HarianBernas.com – Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans), Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta menyebut program transmigrasi masih sangat diminati masyarakat, Minggu (18/9/16).
Pada tahun 2016 ini, yang mendaftar untuk program tarnsmigrasi mencapai 40-an KK. Setelah dilakukan seleksi menjadi 34 KK. “Tahun ini, kuota transmigrasi sebenarnya 35 KK,? kata Dwi Warna, Kepala Dinsosnakertrans, Gunung Kidul.
Pihak Dinsosnakertrans merencanakan 40 KK dan sempat disetujui Pemerintah Pusat. Namun, karena adanya persoalan di daerah tujuan, dikurangi menjadi 35 KK. Untuk transmigran pasti sudah dibekali keterampilan untuk mengolah lahan sesuai dengan kondisi geografis setempat. Setiap KK akan diberikan 1,5 hektare lahan.
Mengolah lahan sesuai dengan kondisi geografis setempat, misal untuk tujuan transmigran ke Polewalimandar yang cocok ditanami kakao dan Musi Banyuasin ditanami sawit maka yang akan berangkat ke lokasi itu akan diberikan pelatihan intensif pertanian dan pelatihan dasar pertanian.
“Jadi transmigran berat. Mau berusaha pasti sukses,” imbuh Dwi Warna.
Lima daerah yang menjadi tujuan transmigrasi, yaitu Bulungan (Kalimantan Utara) Polewalimandar (Sulawesi Barat), Kabupaten Ogan Komering Ilir (Sumatera Selatan), Musi Banyuasin (Sumatera Selatan), dan Lahat (Sumatera Selatan).
Contoh transmigran sukses dari Gunung Kidul, Hadi Purwanto warga Karang Gumuk Karangrejek, Wonosari di Sunga Ayuh Kabupaten Kota Baru, Kalimantan Selatan menjadi salah satu transmigran percontohan nasional.
“Baru lima tahun, tergolong sukses di daerah transmigrasi,” ujarnya.
Untuk memantau transmigran, pihak Dinsosnakertrans Gunung Kidul rutin berkomunikasi dan mendatangi lokasi transmigrasi. “Kami terus pantau. Jika ada apa-apa, kita bantu,” terang Dwi Warna.
