Sepuluh tahun untuk mengejar sebuah mimpi tentu saja bukan hal yang singkat. Membutuhkan motivasi diri yang lebih untuk konsisten di dunia perfilman Indonesia. Berpindah-pindah profesi adalah hal biasa. Andi Budrah, yang biasa disapa Abu, salah satu produser muda yang melewati semua hal ini. Lelaki yang berpenampilan unik dan eksentrik ini, bukan seorang yang datang dari dunia perfilman atau bidang seni lainnya.
Motivasi diri yang kuat dan keuletan membawanya ke tempat ia berdiri saat ini. Sebelum menjadi produser film, lelaki kelahiran 24 Februari 1993 asal Bontang ini, sempat berganti-ganti profesi seperti sutradara, publisis film, dan editor. Mari kita simak bagaimana motivasi seorang produser muda, tantangan produksi film Indonesia saat pandemi, dan tantangan sineas saat ini.
Halo Kak Abu, bagaiamana kabarnya ?
Wah, Alhamdulillah masih baik ya.
Dapatkah anda menceritakan pengalaman dan perjalanan menjadi seorang produser muda ?
Panjang sekali sepertinya ya. Saya menjadi produser film itu, menempuh banyak lika-liku hidup. Saya bukanlah seorang yang lahir dari latar belakang film atau bidang seni. Sebenarnya saya menuntut ilmu di fakultas sains dan teknik, memang sepertinya tidak nyambung hahaha.
Awalnya saya ikut UKM Sinematografi UNAIR tahun 2011. Mengawali perjalanan film dari sana. Bernostalgia sedikit boleh ya ?. Saya memutarkan film dari garasi rumah, disanalah teman-teman komunitas film Surabaya akhirnya membuat Sinema Intensif. Program yang diwujudkan saat itu adalah Fescil (festival kecil). Saya menjabat sebagai manajer meskipun sebenarnya sudah aktif pada Festival film sejak 2013 misalnya, Circus on Friday (2013) dan juga sebagai program director di Layar 23 Surabaya tahun (2014).
Setelah itu saya hijrah ke kota lain seperti Yogyakarta karena banyak juga festiva film disana. Saya sempat membantu jadi publisis, editor, dan asisten sutradara. Hampir semua dijajal, mungkin karena hal tersebut jugalah saya cukup mengenal karakteristik dan kesulitan setiap profesi di bidang ini. Pada akhirnya saya dapat tawaran hijrah ke Jakarta untuk menjadi produser.
Berapa film Indonesia yang sudah berhasil anda produksi sebagai produser muda ?
Saya bingung menjawabnya. Saya pernah terlibat dibanyak produksi film Indonesia meskipun pada kala itu bukan sebagai produser. Ya kemungkinan ada sepuluh hingga lima belas film Indonesia. Saat ini, ada sekitar sepuluh film. Ada beberapa judul seperti End Chat (2013), Musafir (2014), Barisan Sabil (2014), LYN (2015), Antar Kota Dalam Provinsi (2017), Lukisan di Dinding (2018), Happy Girls Don’t Cry (2020), Kabar dari Amal (2021), Harimau Mati Meninggalkan Belang. Terus juga kemarin yang Quarantine Tales masuk nominasi film cerita panjang terpilih di Piala Maya 2020 kemarin.

Sebagai produser muda yang telah memproduksi banyak film Indonesia, film apa yang paling berkesan menurut anda ?
Menurut saya semua memiliki kesan masing-masing. Namun, yang mungkin paling berbeda adalah film-film Indonesia yang diproduksi saat pandemi. Film-film Indonesia yang diproduksi saat pandemi seperti Happy Girls Don’t Cry 2020, Kabar dari Amal 2021, dan Harimau Mati Meninggalkan Belang memiliki banyak tantangan karena produksi dan pra produksinya saat pandemi. Kesulitannya seperti, mengumpulkan ide lewat platform digital, memperkecil tim produksi agar tetap tercipta efisiensi, dan menetapkan protokol kesehatan.
Brainstorming lewat digital ini bukan hal yang mudah loh. Butuh motivasi diri dan adaptasi karena biasanya teman-teman sineas terbiasa di rumah aja juga lama istirahat. Memperkecil jumlah orangnya juga agar crew tidak banyak tapi tetap efisien kerjanya. Meskipun dengan segala keterbatasan ini saya cukup puas dengan proses dan hasilnya. Dalam keterbatasan kami dapat menciptakan karya.
Menurut anda sebagai produser muda, apa tantangan sineas saat ini ?
Wah untuk saat ini, ya banyak. Menurut saya yang paling dekat saat ini sih pandemi ya. Teman-teman sineas butuh motivasi diri lebih untuk bergerak. Tak hanya itu kita juga. Kita harus beradaptasi dengan keadaan yang lama-lama menuntut kita untuk terbiasa dengan dunia digital. Terutama untuk pra produksi film.
Bahkan tidak hanya sineas, mungkin untuk teman-teman penikmat film yang paling terasa juga. Menonton film Indonesia lewat platform online. Nah, hal-hal tersebut mungkin belum terbiasa kita lakukan tetapi kan namanya manusia ya akan terus bertumbuh dan meningkatkan kualitas diri. Jika kita tidak dapat mengikuti perkembangan maka akan ketinggalan.
Tantangan yang mungkin juga jadi pekerjaan rumah untuk kita adalah menciptakan film-film berkualitas. Saat ini, Film Indonesia sudah mulai memperlihatkan perubahan-perubahan signifikan sebenarnya. Pekerjaan rumahnya ya sebenarnya mencoba untuk tidak hanya mengikuti pasar tapi menciptakan pasar. Menambah dan mendidik penonton untuk mengetahui Film Indonesia yang baik itu seperti apa.
Sebagai produser muda, apa pesan anda untuk teman muda yang ingin terjun di dunia perfilman ?
Saya rasa yang paling harus dibutuhkan adalah motivasi diri yang kuat. Anda mungkin saja menemukan kesulitan-kesulitan ditengah jalan. Terkadang kita akan dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit. Seperti saya, berganti-ganti profesi dan divisi saat produksi film. Akhirnya menemukan profesi paling pas saat ini. Tak mengapa, lalui dulu saja prosesnya.
Anda akan bertemu dengan yang tepat untuk anda. Perbanyak menonton film Indonesia atau film apapun. Ikuti komunitas dan petik ilmu dari sana. Jika saat ini anda masih jadi asisten sutradara bisa jadi besok anda sutradaranya. Ikuti prosesnya, jalani sebaik-baiknya kita tak pernah tahu rahasia kedepannya. Idealisme itu harus tetap ada tetapi sebagai seorang manusia kita juga harus melihat peluang yang mungkin membuka jalan kedepannya.
